Enter Your Domain Here....

Wednesday, January 16, 2013

Implementasi BUMDes di Beberapa Desa





Simpan Pinjam Petani Penggarap Padi di Desa Dukuh
Desa Dukuh Kecamatan Indramayu yang pada  tahun ini memperoleh dana desa peradaban sebesar Rp 1 miliar dari Pemprov Jabar, telah menata diri dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dana sebesar itu sebanyak 50 persen dipergunakan untuk peningkatan ekonomi kreatif masyarakat, dan pihak desa pun memperoleh pemasukan anggaran desa (PAD) dari usaha tersebut.
Dari Rp 500 juta untuk alokasi peningkatan perekonomian masyarakat yang dikelola melalui BUMDes terdiri dari bidang usaha pompanisasi, simpan pinjam petani penggarap sawah, dan jual beli gabah. Sebesar Rp 150 juta diperuntukkan pompanisasi untuk membantu pengairan pesawahan di musim kemarau dengan sistem sewa hektaran.
“Dari hasil sewa unit pompanisasi ditargetkan BUMDes memperoleh keuntungan sebesar Rp 50 juta kotor per tahun. Kami optimis dari unit pompanisasi badan usaha yang kami kelola bisa meraih keuntungan optimal. Soalnya, selama ini petani menyewa pompa kepada pihak ketiga, keuntungannya hanya untuk si pemilik pompa itu sendiri,” kata Suwarno, Kuwu Dukuh.
Unit usaha lainnya seperti pembelian gabah di musim panen. Keuntungannya lumayan juga. Dalam waktu seminggu saja dari uang yang dikucurkan untuk membeli gabah basah panen sebesar Rp 150 juta mampu meraih untung sebesar Rp 3 juta.
Dan dari unit simpan pinjam bagi petani penggarap sawah telah dialokasikan sebasar Rp 200 juta. Pemberian pinjaman kepada petani penggarap sawah membatu mereka yang selama ini seringkali kesulitan keuangan sehingga rela pinjam ke pihak rentenir dengan jasa besar. BUMDes memberikan modal usaha atau pinjaman kepada petani sebesar Rp 3 juta per bau. Dengan jasa sebesar 2,5 persen per bulan atau bisa dibayar dengan gabah di musim panen mendatang.
Ketiga unit usaha yang dilakukan BUMDes Dukuh pada tahun ini menurut Kuwu Suwarno diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat terlebih para petani. Besar kemungkinan jika ketiga unit usaha sukses dan lancar pihaknya akan mengembangkan usaha lainnya.

Tersalurkan Dana untuk Petani Palawija di Desa Majasari
Aktivitas kebanyakan petani Desa Majasari Kecamatan Sliyeg, memanfaatkan lahannya dengan ditanami palawija, maka dana desa peradaban yang dialokasikan sebasar 40 persen dari Rp 1 miliar akan dimanfaatkan membantu petani palawija di desa itu.
Selain membantu petani palawija dana tersebut dialokasikan untuk jasa simpan pinjam para pedagang kecil, jasa konstruksi, jasa tunda jual padi, dan palawija. Diharapkan BUMDes berjalan aktif demi meningkatkan perekonomian potensi masyarakat petani dan pedagang di Desa Majasari yang pernah meraih juara I lomba desa tingkat Kabupaten Indramayu tahun 2011 ini.
“BUMDes sudah disiapkan, tinggal pelaksanaannya. Masyarakat petani dan palawija antusias dengan permodalan bergulir yang dianggap membantu usaha mereka yang selama ini selalu dikeluhkan,” kata Wartono, S.Pd., M.Si. Kuwu Majasari.
Menurut Wartono, jika sudah berjalan lancar pengucuran dana untuk para petani dan bakul serta bandar palawija, diharapkan dalam waktu dekat akan mampu menambah lapangan kerja bagi masyarakat desanya. Betapa tidak, hasil palawija petani Majasari seperti kacang panjang, terung, encung, cabe, dll., setiap hari dijual ke berbagai pasar di luar Indramayu seperti Pasar Tambun dan Pasar Cikarang Kabupaten Bekasi serta Pasar Induk di Jatinegara Jakarta Timur.
BUMDes pun menggali potensi usaha dengan cara tunda jual padi dan palawija. Dana sebesar Rp 100 juta yang dialokasikan untuk sektor ini, diharapkan mampu meraih keuntungan besar untuk meningkatkan permodalam usaha lainnya di masa mendatang.
Selain usaha untuk membantu permodalan petani, juga ada sebagian untuk membantu para peternak kambing, sapi, dan unggas. Sebelum dibentuknya BUMDes di Desa Majasari sudah banyak kelompok peternak sapi yang dikelola secara tradisonal. Untuk ke depan akan dikelola secara professional sehingga mampu meningkatkan keuntungan bagi para peternak.

BUMDes untuk Membangun Pasar Desa di Sukagumiwang
Dalam waktu dekat, Desa Sukagumiwang Kecamatan Sukagumiwang, akan membangun pasar desa, menyusul pihak P.T. Pertamina EP Regional Jawa Barat telah memberi izin penggunaan areal lahan secukupnya untuk dibangun pasar desa.
Membangun pasar desa yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menurut H. Maman Suparman, S.H., Kuwu Sukagumiwang, selain untuk menciptakan pertumbuhan dan peningkatan perekonomian masyarakat, juga untuk menghidupkan ibu kota Kecamatan Sukagumiwang agar menjadi ramai dikunjungi banyak orang.
Pembangunan pasar desa direncanakan pada awal tahun depan. Rencananya akan dibangun sebanyak 100 buah kios permanen dan ratusan lapak, serta penataan ruangan dilakukan secara seksama. Sementara dana untuk membangun pasar desa untuk dana awal diambil sebesar 50 persen dari alokasi dana desa peradaban sebesar Rp 1 milar.
“Adapun teknik pengaturan pembangunan dan bantuan permodalan lainnya akan kami atur nanti. Mudah-mudahan bisa terwujud harapan kami ini,” kata H. Maman Suparman.
H. Maman merasa optimis jika pembangunan pasar desa selesai, pertumbuhan di sektor ekonomi desa akan meningkat karena hampir 60 persen masyarakat Desa Sukagumiwang memiliki keahlian berniaga dan membuka industri keterampilan. Jika pihak desa memberi fasilitas tempat jualan yang representatif diharapkan Sukagumiwang menjadi desa percontohan di sektor perekonomian desa.

Pasar Desa Tulungagung akan Dikelola BUMDes
Dari sekian banyak desa di Kabupaten Indramayu, DesaTulungagung Kecamatan Kertasemaya memiliki asset sebuah pasar desa tradisonal. Pasar desa yang letaknya strategis berada di pingir jalan raya pantura mampu melayani konsumen dari berbagai desa dan kecamatan di sekelilingnya.
Pasar Desa Tulungagung merupakan titisara desa. Di dalamnya terdapat puluhan kios permanen dan los-los yang menjual aneka kebutuhan sembilan bahan pokok, barang kelontong, busana, dll. Di samping pasar pun berdiri pertokoan, mini market, bengkel, rumah makan, dll.
Para konsumen bukan hanya warga Kecamatan Kertasemaya melainkan banyak berdatangan dari beberapa desa Kecamatan Bangodua dan Kecamatan Tukdana yang tinggal di seberang Sungai Cimanuk. Sementara para pemilik kios, toko, dan los sebagian besar warga Desa Tulungagung dan warga desa lain se-Kecamatan Kertasemaya.
“Desa Tulungagung tak memiliki tanah titisara. Ya tanah titisaranya, yaitu pasar desa,” kata Wahyul Nurin, Pjs. Kuwu Tulungagung.
Mekanisme pengelolaan pasar desa dari dulu sampai sekarang dikelola pihak ketiga. Artinya, pihak desa hanya memberi kepercayaan kepada seorang mandor untuk mengelola pasar. Caranya? Setiap hari sang mandor wajib menyetor uang kontan sebesar Rp 150 ribu dari hasil restibusi pasar. Selain memperoleh dari hasil restibusi, asset desa memperoleh dari transaksi pemutihan para pemilik kios, atau hasil dari sewa menyewa, dan jual beli kios.
“Hitung punya hitung asset desa dari sektor pasar memperoleh sebesar Rp 54 juta. Nah uang tersebut dipergunakan untuk membangun desa manfaatnya untuk masyarakat yang bependuduk 8.700 jiwa,” kata Wahyul yang juga Sekretaris Desa (Sekdes) Pegawai Negeri Sipil (PNS) Desa Tulungagung.
Sebetulnya untuk meningkatkan penghasilan dari sektor pasar bisa saja dilakukan, karena para pedagang menganggapnya pasar desa seakan miliknya sendiri, mereka merasa enggan jika restibusi dinaikkan. Sudah tidak layak setiap kios setiap hari hanya membayar restribusi Rp 600,00. Seandainya dinaikkan Rp 1.000,00 saja apalagi Rp 2.000,00 pembangunan desa Tulungagung bisa lebih hebat lagi.
Wahyul mengaku setelah dimasyarakatkan dan diberlakukannya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), ke depannya pengelolaan pasar akan di lakukan secara professional. Harapannya agar para pedagang memiliki rasa memiliki dan meningkatkan usahanya, dan pihak BUMDes mampu memperoleh keuntungan lebih besar ketimbang apa yang diperoleh selama ini.

Peluang Usaha Belum Tergali di Desa Jatibarang
Desa Jatibarang banyak memiliki asset lahan potensi usaha. Jika potensi tersebut dijalankan dan dikelola secara professional, besar kemungkinan desa yang dipimpin Kuwu H. Nartawan ini akan menjadi sebuh desa kaya raya dibanding desa-desa lainnya.
Asset desa yang dimaksud di antaranya, areal eks Terminal Bus Jatibarang, bekas Kantor Polisi Pasukan Jalan Raya (PJR), dan Lapangan Bola 20 Mei yang sekarang kurang berfungsi. Di pinggir asset lahan tersebut kini sudah berdiri Pasar Swalayan Surya, dan di sekilingnya dihiasi pertokoan.
Sejak tahun 2006 sudah dilirik investor yang akan menanamkan modalnya dengan menggunakan asset di lahan tersebut. Konon lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun pasar sandang, pasar swalayan, water boom, dll.
“Harapan investor sampai kini masih belum membuahkan hasil juga. Alasannya, selama ini pihak desa merasa kesulitan mencari tempat untuk memindahkan sarana olah raga ke tempat lainnya. Masak iya sarana olah raga berada di luar desa Jatibarang,” kata H. Nartawan.
Potensi usaha lainnya, setiap Rabu dan Minggu Desa Jatibarang marak dengan ribuan pedagang sandang tegal gubug-an. Para pedagang menggunakan lahan di pinggir Sungai Sindupraja dan di pinggir badan jalan raya. Pengelolaannya selama ini oleh para pemuda dan seluruh warga Desa Jatibarang itu sendiri.
“Dari upah pungut pasar sandang tegal gubug-an desa hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp 16 juta per tahun. Penghasilan ini diperoleh dari penjualan karcis yang disyahkan melalui peraturan desa (Perdes),” kata H. Nartawan.
Dua jenis potensi desa lahan eks terminal dan pasar tegal gubug-an jika dikelola secara professional melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), besar harapan memperoleh pemasukan asli desa (PAD) berlipat ganda dibanding apa yangsekarang diraih. Padahal Desa Jatibarang merupakan sebuah kota perdagangan yang banyak didatangi pedagang dari luar.
Di Desa Jatibarang terdapat sebuah lahan luas eks Gudang P.T. Pertani yang sekarang dimiliki warga keturunan asal Cirebon. Rencananya lahan seluas lebih kurang dua hektar di tengah pusat kota itu akan dibangun sebuah pasar representatif.
·    undang

1 comments:

baktiar jalil said...

• Harga Sepasang Burung Murai Medan umur 3 s/d 5 minggu - Rp. 1.300.000
• Harga Sepasang Burung Murai Medan umur 6 s/d 9 minggu - Rp. 1.600.000
• Harga Sepasang Burung Murai Medan umur 10 s/d 12 minggu - Rp. 1.900.000
• Harga Sepasang Burung Murai Medan umur 13 s/d 16 minggu - Rp. 2.400.000
• Harga Burung Murai Nias MH - Rp. 600 .000 – Rp. 800.000
• Harga Burung Murai Nias umur 2 bulan -Rp. 1.000.000
• Harga Burung Murai Medan MH - Rp. 1.100 – Rp. 800.000
• Harga Burung Murai Lampung MH - Rp. 700 .000 – Rp. 500.000
• Harga Burung Murai Lampung umur 2 bulan - Rp. 1.000 .000
• Harga Burung Murai Borneo MH umur - Rp. 300.000 – Rp. 400.000
• Harga Burung Murai Borneo umur 2 bulan - Rp. 600.000
• Harga Burung Medan Jantan umur 3 s/d 4 minggu - Rp. 850.000
• Harga Burung Medan Jantan umur 5 s/d 6 minggu - Rp. 900.000
• Harga Burung Medan Jantan umur 7 s/d 8 minggu - Rp. 1.100.000
• Harga Burung Medan Jantan umur 9 s/d 10 minggu - Rp. 1.400.000
• Harga Burung Medan Betina umur 3 s/d 5 minggu - Rp. 500.000
• Harga Burung Medan Betina umur 6 s/d 9 minggu - Rp.750.000
• Harga Burung Medan Betina umur 10 s/d 12 minggu - Rp. 800.000
• Harga Burung Medan Betina umur 13 s/d 16 minggu - Rp. 1.000.000
Nama Penangkar: CHANDRA Alamat: PERUM CITRA GARDEN II Blok J 8 No: 3 PEGADUNGAN – KALIDERES JAKARTA – BARAT
Jumlah Kandang: 1
Jenis yang di tangkarkan:
Cara Pesan HUB:085293999216

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita