Saturday, December 29, 2012

Omset Bongko Kateng 30 Juta Sebulan

BONGKO Kateng, makanan khas Haurgeulis. Makanan ini laris manis luar biasa. Apakah yang menjadi daya pikatnya? Bongko atau lontong biasa saja seperti lontong lainnya terbuat dari beras dan dibungkus daun pisang. Sayurnya sayur nangka muda atau waluh siem dengan bumbu santan kental yang ditaburi bawang goreng. Sama seperti lontong sayur pada umumnya. Bedanya ada pada sambel kecap yang pedasnya menyengat lidah dan daging ayam kampung rebus yang disindik ala sate. Mungkin karena daging ayam kampung itulah harga seporsi bongko kateng dua kali lipat dari bongko sayur biasa yaitu Rp 7000,00. “Kateng itu nama Bapak saya yang jualan Bongko Kateng sejak tahun 1945 sampai tahun 1970. Bapak saya meninggal dunia dan usaha Bongko Kateng tidak ada yang melanjutkan. Tahun 1981, waktu itu saya masih usia belasan tahun, saya mulai berani berdagang Bongko Kateng di rumah di Blok Mandirancan Haurgeulis. Ternyata laku sampai sekarang. Untuk kemajuan usaha, saya pindah ke pinggir jalan raya tepatnya di samping Stadion Futsal Siliwangi Haurgeulis,” urai Rumini, yang kini berusia 45 tahun dan sudah ditinggal mati suaminya. Rumini menanggung biaya kehidupan tiga orang anak, dua orang menantu, dan dua orang cucu. Ruminih juga menjelaskan dalam sehari membutuhkan lima belas liter beras untuk dibuat bongko, empat ekor ayam kampung, dua botol kecap, sekilo cabe dan bumbu-bumbu lainnya. Jika hari Minggu dagangan lebih laris dibanding hari lainnya. Rumini bisa pulang lebih pagi sekitar jam 8 atau jam 9. Tapi kalau hari lainnya sampai jam 10 hingga sebelas. Wanita yang selalu bangun malam untuk memasak Bongko Kateng ini, tidak marah Bongko Kateng ditiru oleh banyak pedagang. Lagi pula omset penghasilannya tetap stabil yaitu tiga puluh juta sebulan. Itu masih kotor belum dikurangi ini dan itu, katanya. (rofi/Untung)

Tanamlah Padi Hasil Radiasi Nuklir

SEJUMLAH daerah di Indonesia menunda musim tanam padi sampai Bulan Desember. Hal itu dikarenakan musim kemarau yang panjang. Diharapakan Bulan Desember nanti hujan sudah turun dengan curah yang cukup untuk tanam padi. Tentu saja penundaan itu tidak berlaku bagi semua daerah. Misalnya untuk Blok Julung Karang Tumaritis Haurgeulis yang dekat dengan Sungai Cipunegara, para petani malah bisa tanam padi tiga kali dalam setahun. Bagi wilayah yang dekat dengan Bendungan Salam Dharma, tentu juga tak mesti menunda sampai Desember. Air sudah berlimpah tinggal dialirkan saja ke pesawahan. Tapi bagaimana dengan daerah yang tidak dekat dengan sungai? “Saya malah sudah menghimbau para petani di Haurgeulis yang memiliki sawah tadah hujan untuk mulai ngipuk kering sejak bulan Oktober,” kata H. Yusuf Effendi, A.Md., Koordinator BPP Haurgeulis. “Bila hujan turun dan tanah sudah diolah, winih bisa dicabut dan ditanam di pesawahan. Insya Allah perhitungan ini tepat,” kata Yusuf yang sangat telaten dan sabar memberikan penjelasan pada para petani yang berkonsultasi di kantornya yang sudah ambruk separuh itu. Selanjutnya Yusuf merekomendasikan bibit unggul padi yang boleh dipilih untuk ditanam para petani yaitu Ciherang dan Mikongga. Kedua jenis padi itu cukup tahan hama dan perawatannya tidak terlalu sulit. Yusuf masih merekomendasikan juga jenis padi Inpari 13. Karena menurut Yusuf, Inpari 13 adalah jenis padi yang kuat hama, tidak butuh air banyak, dan waktu tanamnya lebih singkat. Memang bulir-bulir padinya susah dirontokkan bila digiles dengan kaki atau digebot. Menurut Yusuf itu bukan maslah karena merontokkan padi bisa dengan mesin perontok padi. “Ada satu jenis padi lagi yang saya rekomendasikan. Tanamlah padi yang penyilangannya hasil radiasi dengan nuklir, alias Sidenuk. Nama ini kemudian dirubah oleh petani Indramayu menjadi Sidenok. Padinya juga denok demplon layak untuk ditanam,” jelas Yusuf seraya tersenyum ramah. (untung)

Dani Maulana Juara Sari Tilawah MTQ Indramayu 2012

Pada penutupan MTQ ke-44 di Kedokanbunder awal November lalu, Dani Maulana diberi kehormatan membaca qiroat ayat Suci Al-Qur’an. Mendengar alunan suara dengan logat tajwid yang fasih, hadirin seakan terkesima. Setiap usai ayat yang dibacakannya semua hadirin dengan koor menggemakan kalimat “Allahu Akbar.” Dani diberi kehormatan membaca ayat Suci Al-Qur’an pada momen penting karena ia pernah mendapat prestasi juara I sari tilawah tingkat anak-anak kafilah dari Kecamatan Indramayu. Bahkan putera kembar pasangan Tajudin dan Ny. Titin asal Kelurahan Kepandean ini telah mengukir prestasi juara I Jawa Barat dan juara III sari tilawah tingkat pelajar nasional 2011. Dani merasa optimis siap meraih juara I sari tilawah tingkat anak-anak pada MTQ tingkat Jawa Barat tahun mendatang. Dia berjanji akan bersungguh-sungguh berlatih olah vokal, tajwid yang fasih untuk meraih ambisinya itu. Menurut Niamillah, guru dan pembimbing putera kelahiran Indramayu 3 Juli 1998 dan sekarang duduk dibangku Kelas IX SMPN 3 Sindang ini, memiliki potensi yang baik dalam sari tilawah. Dani memiliki nafas dan suara panjang katrena ia sering adzan di masjid jami Kepandean pada waktu shalat Magrib, Isya, dan Subuh. “Selain fasih dalam membaca ayat ayat Al-Qur’an, Dani memiliki improvisasi dalam berqiroat. Makanya saya sebagai guru pembimbing optimis Dani calon juara tingkat Jawa Barat,” kata Niamillah. Tajudin dan Ny. Titin menerangkan sejak kecil Dani rajin belajar Al-Qur’an di masjid dan di madrasah. Dengan bimbingan Naimillah bakat berqiraat dikembangkan dan prestasinya sering menjadi juara pada MTQ tingkat anak-anak. Bahkan jika ada kegiatan pengajian dan acara-acara pernikahan Dani seing diundang untuk membacakan sari tilawah ayat Suci Al-Qur’an. Dani adalah anak kembar yang adiknya perempuan bernama Dini Maulani. Sang adik kembar pun sama berpreastasi seperti kakaknya. Hanya untuk MTQ Kabupaten Indramayu ke-44 ia tak meraih peringkat juara. “Alhamdulillah kami bangga putera dan puteri kami si kembar berprestasi di bidang sari tilawah. Harapan kami mudah-mudahan mereka menjadi qiraat terkenal dan menjadi anak sholih-sholihah,” kata Ny. Titin merasa bangga. • undang

Friday, December 28, 2012

Petani tak Mampu Membeli Seng

GAGASAN H. Mada dan teman-temannya yang memagari sawahnya dengan seng tentu saja mendapatkan perhatian dari para petani di sekitarnya. Mereka dapat menerima alasan H. Mada bahwa tikus tidak akan mampu masuk ke dalam dan yang sudah ada di dalam tidak akan bisa ke luar hingga mudah untuk ditangkap atau diracun, karena sawah sudah dipagar dengan seng. Sebenarnya dulu juga ada gagasan yang mirip yaitu sawah dipagari dengan plastik trepal. Tapi plastik trepal bisa digigiti tikus hingga bolong sementara seng tentu saja tak bisa digigiti tikus. “Saya ingin memagari sawah saya dengan seng seperti apa yang dilakukan H. Mada dan kawan-kawannya di Blok Julung Desa Karang Tumaritis Haurgeulis. Tapi, saya bukan petani besar seperti H. Mada yang sawahnya luas. Modal saya tipis. Saya tidak mungkin membeli seng. Apalagi bagi petani yang sawahnya dapat nyewa, wah bisa rugi bahkan bangkrut. Bayangkan saja sewa sawah per bau satu tahun sembilan juta. Untuk beli seng dan ongkos pasang tujuh juta. Ongkos garap sekian juta. Yah hasilnya bisa rasa cape saja. Ya sudahlah kita sih pakai cara tradisional saja,” kata Darja, petani asal Desa Kertanegara yang sudah memiliki sawah pribadi tapi juga terkadang nyewa sawah untuk digarap. Menurut Darja, sebelum sawah ditanami padi, mestinya para petani kompak mengadakan gropyok tikus. Sayangnya ada saja petani yang tidak mau kompak melakukan gropyok tikus. Selain gropyok, bisa juga dilakukan pengasapan lubang-lubang tikus agar tikus ke luar lalu dibunuh atau mati di dalam lubang. Ketika padi sudah ditanam tapi masih kecil, gropyok tikus harus diulang. Singkatnya padi harus benar-benar dijaga dari kejahatan tikus. “Petani kecil belum bisa beli seng untuk melindungi padi dari jarahan tikus. Jadi petani kecil harus kompak gropyok tikus!” tegas Darja yang usianya menjelang berkepala enam tapi masih semangat dan giat bekerja di sawah. (untung)

Thursday, December 27, 2012

Nur Hasnah Artis Qasidah Lebih Nyaman

Biasanya bagi kaum wanita yang memiliki bakat vokal banyak memilih jadi artis pop maupun artis dangdut. Konon, jika bernasib mujur tentu akan cepat dikenal dan mengais untung besar. Bila tidak pun tentu banyak mengais rejeki, yang diperoleh dari bayaran panggungan dan uang saweran banyak. Apalagi jika vokal dan penampilannya mampu menarik penonton, jangan tanya, rejeki akan mudah diraih. Bila datang musim hajatan dalam sehari bisa rollingan di beberapa panggung. Rejeki nomplok. Namun bagi Nur Hasnah, yang berpostur tubuh jangkung dan langsing, ramah, dan memiliki vokal merdu ini, dia malah memilih menjadi artis qasidahan dan artis orkes gambus bernuansa Islami. Alasannya, kata artis asal Desa Bangkaloa Kecamatan Widasari ini, jadi artis qasidahan hati terasa nyaman. “Bukan soal materi yang saya harapkan. Mengembangkan bakat vokal sambil berdawah melalui alunan lagu bernafaskan Islam itulah yang saya harapkan. Dan semoga mendapatkan pahala,” kata Nur Hasnah, yang sekarang tinggal bersama suami tercintanya di Desa Tegalurung Kecamatan Balongan. Dikatakan aman dan nyaman, kata Nur Hasnah, karena jika artis qasidah tampil di panggung tak ada penonton yang berani naik ke panggung lalu berjoged sembarangan atau memberi uang saweran. Penonton benar-benar memberikan apresiasi, sambil duduk mendengarkan alunan lagu yang dilantunkannya. Jika melantukkan lagu-lagu bernuansa padang pasir, ada juga kelompok lelaki berbusana ala Timur Tengah beratraksi tarian Samrah. Jogedan ala padang pasiran menambah suasana segar bagi para penonton. Itu kelebihan musik qasidahan dan gambusan. Menjadi aris qasidahan jauh lebih sulit di banding artis lagu-lagu dangdut nasional, pop, maupun dangdut Dermayonan. Sulitnya harus hafal membaca dan mengartikan bahasa Arab. Sama seperti melantunkan lagu-lagu Barat. Dan lagi dalam melanyinkannya lafalnya harus fasih membaca tajwid lagu lagu tersebut. Meski sulit, jika ditekuni dengan sungguh-sungguh maka aktif menjadi artis qasidahan terasa nikmat sekali. Jika ia nembang di panggung tidak sedikit penonton yang memberikan apresiasi. Nama Nur Hasnah belakangan ini banyak dikenal bagi kalangan masyarakat muslim Indramayu yang sering menonton group qasidah maupun orkes gambus tampil. Menekuni dunia qasidahan dilakukan setelah ia duduk di bangku SMA. Dia sering tampil manggung di beberapa group qasidahan. Bahkan belakangan ini aktif bergabung bersama Orkes Gambus Annida Indramayu. • undang

Tuesday, December 25, 2012

Membidik Kursi Jabar Satu MENJADI PEMILIH BUKAN DENGAN BUDAYA POLITIK PAROKIAL Oleh JOKO BUDI SANTOSO, S.Pd., M.A.

Haruskah Kita Memilih? Pemilihan Gubebur Jawa Barat yang akan dilaksanakan pada hari Mingu 14 Februari 2013 sudah di depan mata, persiapan pesta demokrasi masyarakat Jawa Barat telah ditenggarai oleh Persiapan KPUD Jawa Barat yang sampai ke tingkat desa. Supriono, Kepala Desa Jatibarang Baru Kecamatan Jatibarang, dimana penulis juga terlibat aktif sebagai ketua RT 36 RW 08 mengikuti rapat pada jumat 9 November 2012 yang dipimpin oleh Imam Bajuri Ketua PPS Desa Jatibarang Baru Kecamatan Jatibarang adalah bukti persiapan KPUD untuk mensukseskan gelaran pesta demokrai tersebut.
Warga negara yang baik tentunya harus memanfaatkan hak politiknya untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan Jawa Barat melalui aspirasi yang disalurkan dalam pemililihan orang nomor satu Jawa Barat tersebut. Membidik jabar satu adalah ungkapan untuk menetukan ketepantan memilih calon pemimpin Jawa Barat selama lima tahun ke depan, salah menetukan pilihan tentu akan menanggung konsekuensi logis nasib kesejahteraan rakyat, dalam kurun waktu 5 tahun yang akan datang.
Secara filosofis bukankah hidup adalah menentukan pilihan? Setiap pilihan memiliki makna dan resiko tersendiri, sebab pilihan itu akan menentukan hidup kita dan orang lain kini dan yang akan datang, untuk itu ketepanan dalam menetukan pilihan adalah menjadi bagian terpenting dalam setiap langkah kita agar tidak terjebak dalam kesalahan yang berdampak pada kesengsaraan. Demikian pula menyoal pemilihan “orang nomor satu” di Jawa Barat, ketepatan bidikan itulah kata kuncinya untuk menetukan tepat pula hakikat kita hidup menjadi masyarakat Jawa Barat.
Kalau hidup adalah menentukan pilihan berarti pergi ke TPS pada pelaksanaan pilkada nanti dan memilih pasangan calon gubenur Jawa Barat adalah sudah harus dipahami sebagai kebutuhan dan tuntutan agar kita dapat dikatakan hidup dalam makna dimensi kehidupan manusia yang mempunyai keluhuran budi dan nilai-nilai. Tanggung jawab adalah nilai yang paling dekat dalam konteks ini, tanggung jawab individu itu pasti dan tanggung jawab sosial adalah tanggung jawab berikutnya yang akan terwujud jika kita telah melaksanakan hak pilih kita untuk menetukan pilihan pada pilkada nanti.
Mengapa Kita Harus Memilih? Melakukan atau tidak melakukan pilihan dalam prespektif HAM mungkin dapat dibenarkan, namun ketika pada ahirnya kita abstain terhadap opsi pilihan yang ditawarkan adalah bentuk sikap keraguan yang mengindikasikan bahwa sebenarnya kurangnya kecerdasan sosial sesorang dalam menentukan sikap. Sejumlah penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa orang yang sukses hanya ditentukan 20% saja oleh kecerdasan pengetahuan sedangkan 80% nya ditentukan oleh kecerdasan sosial. Jadi untuk sukses dalam hidup ini peluang lebih besar adalah terletak pada kecerdasan sosial kita untuk bisa menangkap sinyalemen perbaikan dan perubahan hidup itu. Ketidakberpihakan dalam asumsi menciptakan toleransi dan menghidari konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mungkin dapat dibenarkan, karena akan senafas dengan semangat jiwa Pancasila sebagai kepribadian bangsa, ini pula yang telah ditempatkan bangsa Indonesia pada kasta tertinggi dalam kesepakatn suci bangsa Indonesa untuk mendirikan NKRI, namun dalam konteks budaya politik partisipan makna partisipasi politik adalah memberikan suaranya dengan memilih salah satu pasangan calon yang akan menjadi pemimpin kita selama 5 tahun yang akan datang, maka partisipasi politik kita akan terlihat secara nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan yang akan dilaksanakan serta tidak akan membawa perbaikan dan perubahan. Secara akademis budaya politik mempunya 3 tipe yang dapat saya sebutkan secara hirarkis; (1) budaya politik parokial, (2) budaya politik subjek/kaula, dan (3) budaya politik partisipan. Budaya politik parochial adalah tipe budaya politik dengan tingkat kecerdasan poltik masyarakat yang masih rendah dimana masyarakat sangat ortodoks menyerahkan segala hak politik kepada kepala sukunya, budaya politik/subjek satu tingkat lebih baik daripada budaya politik yang pertama yaitu pemahaman politik masyarakat sudah ada namun apatis terhadap dinamika politik pada lingkungannya, sedangkan budaya politik partisipan sudah mengindikasikan kecerdasan sosial masyarakat dalam menyalurkan hak politiknya dalam bentuk partisipasi langsung ataupun tidak langsung.
Berdasarkan hal di atas untuk menjawab mengapa kita harus memilih salah satu pasangan calon gubernur pada pilkada Jabar ini adalah;
1.Kita menggunakan hak politik secara benar. 2.Membuktikan bahwa kita bukan masyarakat yang bodoh dan masuk dalam pemahaman budaya politik dalam kasta terendah yaitu parochial. 3.Memilih salah satu pasangan calon gubernur Jabar berarti kita dapat merasakan pengalaman empiris terhadap penyelengaraan pemerintahan yang akan berlangsung. 4.Terjadinya proses behavior change (perubahan tingkah laku) pada tiga aspek pendidikan politik (kognitif, afektif, phsikomotor) pengetahun, pensikapan, dan keterampilan. 5.Menujukan bukti bahwa kita mau belajar sebab jika kita tidak mau belajar kita tidak akan berubah, dan jika kita tidak berubah maka kita akan mati ditindas oleh perubahan itu sendiri.
Pilkada Jawa Barat sudah ditabuh genderangnya pertanda pesta, persaingan, kisah, peristiwa, fenomena, dan manufer politik akan mewarnai pelaksanaan demokrasi langsung di provinsi yang subur makmur ini. Segala persiapan sudah dilakukan baik oleh para calon gubernur dan pasangannya, dan KPUD. Sosialisasi yang memuat isu pasangan calon dan manufer politik para politisi daerah maupun pusat menjadi warna dalam persiapan tersebut bukan tiada hasil, akan tetapi telah membawa suasana hangat di komunitas masyarakat Jawa Barat yang siap menyambut pesta lima tahunan itu, namun kesiapan itu tidaklah sempurna kalau tidak disertai dengan kesiapan dari warga masyarakat Jawa Barat untuk datang ke TPS pada hari H pemilihan dengan mengantongi salah satu Nama pasangan calon gubenurnya.
Pastikan bahwa calon kita mempunyai kompetensi dan pengalaman birokrasi pelayan publik yang handal, pastikan pula mempunyai hubungan historis psikologis yang kuat, dan sanggup menghantarkan perwujudan keinginan aspirasi kita bagi kesejahteraan dan keadilan sosial sesuai dengan semangat sila kelima Pancasila.
Selamat datang Pesta Demokrasi Jabar, selamat datang calon gubenur baru. Mari kita sambut kedatangannya saraya menjadi pemilih bukan dengan budaya politik parochial yang mencerminkan kita sebagai masyarakat yang primitif dan bodoh, tetapi menjadi pemilih dengan budaya politik partisipan yang menunjukan kecerdasan dan kedewasaan berpolitik.*** Penulis adalah Alumni Program Pasca Sarjana FISIP UI Jur. Administrasi dan Kebijakan Publik, Guru PKn SMAN 1 Jatibarang, dan Dosen Pada salah satu Universitas Swasta di Indramayu.







Monday, December 24, 2012

Mengukur Kadar Keteladanan (Aparatur Kesehatan) pada Diri Oleh EVA MUHAFILAH, AM.Kep.

“Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun khasanah..” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)
Subhanallah, pada medio November di awal musim penghujan, pada suatu rintik yang menyejukkan raga dan kalbu, penulis merasa tercerahkan dan terinspirasi saat membaca sebuah buku seri Manajemen Islam, buku – 9 panduan sukses diri dan organisasi berjudul Manajemen Rasulullah karya M. Ahmad Abdul Jawwad yang diterbitkan P.T. Syaamil Cipta Media, Bandung edisi Maret 2006.
Dari buku itu penulis menemukan poin-poin, kata-kata kunci yang ampuh membuka mata hati yang rapat terkunci rutinitas pekerjaan dan kemonotonan dalam hidup, membentangkan wawasan tentang hakekat keteladanan pada mata hati yang gersang kekeringan, mendahagakan figur suri teladan dalam aspek kehidupan yang maha kompleks nan maha kaya memberi pelajaran dalam hidup.
Dalam buku itu digambarkan bahwa, apabila setiap manusia mempunyai teladan dalam perilaku, maka tiada teladan yang lebih agung dari penghulu setiap mahluk, Rasulullah saw.
Adalah wajar bila seorang prajurit meniru gaya panglimanya, mencari aspek-aspek keagungan dan keteladanannya. Terutama kalau panglima tersebut adalah Rasulullah saw., manusia teragung yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Inilah yang mendorong penulis berupaya menguak dan mencari tahu hakekat keteladanan tanpa bermaksud mematut diri dan memaksakan diri berusaha menjadi sosok teladan seperti apa yang direkomendasikan pimpinan dan institusi kita, tetapi ingin ber-fastabul khairat, menganjurkan pada kebaikan, mengajak para rekan aparatur kesehatan meneladani Nabi saw., meski apapun jabatan kepemimpinan yang dipegangnya, dalam urutan hierarki kepegawaian tingkat apapun. Sebab kehidupan Rasulullah saw., adalah mata air yang tidak pernah kering dan panduan yang mengagumkan dalam menata kehidupan, mengatur segala urusan, mengoptimalkan potensi, menyelesaikan persoalan dan mengatasi berbagai kendala.
Kata teladan secara harfiah menurut kamus besar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berarti panutan, contoh, to follow, guide, leader dalam lingkup kesehatan berarti health modelling atau figur, panutan bagi masyarakat dalam bidang kesehatan, menyangkut peran sebagai profesi, sebagai aparatur kesehatan.
Dalam era kekinian yang meng-global, membuka window dunia seluas-luasnya pada akses kehidupan yang serba instan dan pragmatis, mudah terjebak pada opini publik yang menyesatkan, memungkinkan mengaburnya tatanan nilai yang harusnya menjadi pegangan bagi masyarakat dalam menjalani aspek kehidupan, salah satunya yang membuat masyarakat tidak memiliki panutan dalam bidang kesehatan, padahal kesehatan adalah modal dasar untuk menggerakkan aktivitas kehidupan lainnya.
Keteladanan aparatur kesehatan seperti apa yang diharapkan masyarakat? (1)Aparatur kesehatan, sebagai pegawai yang bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan publik harus mampu menyelaraskan diri dengan visi misi pembangunan kesehatan yaitu menuju masyarakat sehat secara mandiri dan berkeadilan, mendukung upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif. Membantu masyarakat memperoleh kesempatan yang sama dan akses seluas-luasnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
(2)Aparatur kesehatan, sebagai profesi perawat dapat mengacu pada peran-peran berdasar konsep dan teori Peplau yang menerapkan hubungan interpersonal dalam memberikan asuhan keperawatan ditekankan pada perawatan yang bersifat terapeutik. Perawat menjalankan 6 peran sebagai mitra kerja, nara sumber (resources person), pendidik (teacher), memberikan kepemimpinan (leadership), sebagai pengasuh pengganti (surrotage) dan konselor (concellor).
(3)Aparatur kesehatan, sebagai seorang yang profesional dengan profesinya. Menurut sebuah tulisan yang sangat menggugah, yang pernah penulis baca di salah satu majalah Promkes, bahwa profesionalisme itu mengandung 3 aspek yang harus dipenuhi secara bersama-sama. Seseorang disebut profesional jika ia (1) memiliki kompetensi tertentu, (2) dapat dipercaya, dan (3) memiliki kredibilitas. Seseorang dikatakan kompeten atau memiliki kompetensi, jika ia (a) tahu tugas dan pekerjaannya, (b) memiliki prosedur kerja yang dipatuhinya, dan (c) menjaga ketepatan dalam bekerja. Seorang profesional adalah orang yang dapat dipercaya, karena (a) konsisten, tidak berubah-ubah. Sedangkan kredibilitas dibangun oleh (a) penampilan fisik yang meyakinkan, dan (b) reputasi yang baik. Karena selalu bekerja dengan menggunakan prosedur kerja, maka seorang profesional tidak akan bekerja secara asal-asalan.
(4)Aparatur kesehatan, sebagai individu yang berkepribadian, untuk menjadi teladan bukanlah membuat dikotomi, pemisahan diri pribadi lari dari suatu kelompok masyarakat atau komunitas kerja. Menjadikan diri pribadi dan profesionalisme kita menjadi sesosok ideal yang berbeda dari awam dan berada di luar kelaziman, berdiri di luar lingkaran kaum kebanyakan. Astaghfirullah, alangkah picik jika menyebut diri lebih baik di antara rekan kerja, hanya memperberat pertanggungjawaban moral, sosial dan religi pada sang Pencipta jika terlanjur mem-predikat-i diri dengan embel-embel, label nisbi tak paten. AKULAH SANG TELADAN.
Jika menjadi teladan bukanlah keinginan, ikut dan lolos seleksi sekedar menghormati rekomendasi dan bentuk penghargaan pada pimpinan atas etos kerja dan dedikasi kita dalam menyelesaikan pekerjaan.
Jika kita merasa belum cukup kiprah, peran sebagai pribadi dan profesi di masyarakat. Jika meski kita lulus uji kompetensi profesi, bersertifikat yang menunjukkan kemahiran bidang pekerjaan yang kita geluti.
Jika kita merasa bukanlah unggulan untuk mengikuti kompetisi selanjutnya, mengemban nama baik dan mewakili institusi yang kita cintai. Jika motivasi itu terlalu kempis untuk melambungkan harapan orang-orang yang memberikan kepercayaan pada kita.
Jika kita ragu melangkah dengan ketakutan akan komentar orang lain, seperti kata-kata slogan terkenal institusi Gayus Tambunan (Kantor Pajak), “.....APA KATA DUNIA ??! “Jika aku Sang Teladan. Maka penulis teringat kata-kata bijak sahabat super yang baik hatinya, Pak Mario Teguh bahwa: Let’s we are life in the now, marilah jalani keseharian kita untuk saat ini, jangan ada pertanyaan-pertanyaan ragu tentang esok dan penyesalan-penyesalan yang menyesakkan di masa lalu. Lalu mungkin akan terasa lebih ringanlah tugas pekerjaan, tuntutan loyalitas pada lembaga yang membesarkan kita, mungkin menjadi teladan bukanlah pilihan, tapi jalan kehendak yang harus kita lalui, pembelajaran berharga menuju pencapaian tertentu dalam pekerjaan, kehidupan kita.
Mungkin dalam penulisan ini terkesan seperti wacana, penuh retorika. Namun percayalah menurut penulis, kadang dalam hidup ini kita perlu kata-kata mutiara untuk men-cheer leader-i dan memandusoraki aktivitas kita. Bahkan seperti lagu Tombo Ati nya Opick, “tombo ati iku limo perkarane, yang pertama baca quran dan maknanya,” dan seterusnya... Kalimat-kalimat retorika dan pencerahan-pencerahan itu, merupakan sekelumit sempit salah satu bukti peng-ejawantah-an makna tombo ati yang pertama, baca Quran.
Akhirnya, bismillah (Dengan nama Allah), “Bersiaplah menjadi orang yang dapat me-manage konflik sehingga menjadi sumber hikmah yang tidak akan habis. Semoga kita dapat lebih bijak dan arif dalam menghadapi konflik dalam diri, keluarga, institusi, dan lembaga atau lainnya.”
Bersyukurlah karena aku, kita, kami semua harusnya bukanlah seorang, orang-orang yang bergeming dan mengalir begitu saja, seolah hari esok akan sama walaupun tanpa berbuat apa-apa.
Ayo! Tetap semangat! Move on, Move up ! “Bersiaplah menjadi orang yang dapat memenangkan segala bentuk kompetisi, menerima penghargaan, karir cemerlang, dan sekaligus tuntutan untuk senantiasa rendah hati dengan datangnya kesuksesan-kesuksesan itu.” (Penulis yaitu Calon Tenaga Kesehatan (Perawat) Teladan Kabupaten Indramayu 2013 bekerja sebagai Perawat pada Puskesmas Kertasemaya Kabupaten Indramayu)
Tenajar Lor, 22 November 2012


















Saturday, December 01, 2012

Baleraja Harus Punya BUMDes

BALERAJA adalah sebuah desa yang belum memiliki KUD apalagi BUMDes. Padahal desa ini sangat membutuhkan sebuah lembaga atau badan yang dapat meningkatkan kemampuan keuangan pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintah dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui berbagai kegiatan usaha ekonomi masyarakat perdesaan. Maka, ketika program BUMDes digerakkan, Kuwu Desa Baleraja, Ahmin Sarifudin, menyambutnya dengan penuh antusias. “Pasti Desa Baleraja akan mendirikan BUMDes. Insya Allah awal Bulan Desember kami akan mengadakan rapat pendirian BUMDes. Tapi jujur saja saya belum mengerti benar tentang BUMDes. Hari ini saya akan mengikuti bimbingan teknis tentang BUMDes di hotel Wiwi Perkasa Indramayu,” kata Ahmin bersemangat. Menurut Ahmin, mayoritas mata pencaharian masyarakat Baleraja adalah petani. Maka jenis usaha BUMDes tidak akan jauh dari pertanian. Walaupun Ahmin mengaku belum mengerti benar tentang BUMDes, Kuwu yang pendiam tapi baik hati ini mempunyai angan-angan bahwa BUMdes yang didirikannya nanti mampu menolong para petani dari harga murah padi dengan cara dibeli oleh BUMDes. Pupuk padi, dan teknologi pertanian juga ingin dimasukkan dalam BUMdes. Singkatnya BUMDes adalah badan yang multiguna bagi masyarakat Baleraja. “Pastinya tidak mudah mendirikan BUMDes. Tapi kalau keinginan untuk memajukan desa sangat kuat, Insya Allah kesulitan dapat teratasi dan BUMDes bisa didirikan. Sekarang saya mau berangkat ke Indramayu untuk mengikuti Bintek BUMDes agar bisa menjadi penasehat atau komisaris BUMDes yang baik,” kata Ahmin yang sangat ingin membantu masyarakatnya meningkatkan perekonomiannya. Makanya Ahmin bertekad Desa Baleraja harus punya BUMdes. (rofi/untung)

Modal BUMDes dari Anggota dan Pemerintah

KECENDERUNGAN ingin disuapi dalam permodalan itu pasti muncul ketika MH berdiskusi tentang BUMDes dengan nara sumber baik kuwu apalagi pamong desa. Apabila program BUMDes ini tidak ada suntikan dana dari pemerintah, sepertinya sulit untuk direalisasikan. Karena ketika diberitahu bahwa modal BUMDes adalah dari uang tabungan masyarakat atau anggota BUMDes, sambutannya menjadi tidak antusias. Tapi ketika diberitahukan lagi bahwa ada dana dari pemerintah, antusias muncul lagi. Jangan-jangan, BUMDes malah dijadikan alat untuk ngakali dana dari pemerintah saja. Itu kekhawatiran yang perlu dipikirkan juga untuk antisipasi kebangkrutan BUMDes. “Omong kosonglah bila BUMDes tidak ada modalnya,” kata Armin Leutik, Sekdes Gantar yang MH temui baru-baru ini di Balai Desa Gantar. “Jika ada modal dari pemerintah dan juga dari anggota, mungkin BUMDes bisa diperjuangkan. Untuk pengelola, di Desa Gantar sudah banyak sarjana yang mungkin bisa mengelola BUMDes. Tapi sepertinya BUMDes harus gabung dulu dengan desa-desa terdekat. Misalnya Desa Gantar dengan Desa Mekarjaya, dan Desa Situraja. Biar modal dan kekuatan SDM-nya lebih besar dan kuat,” pikir Amir Leutik yang disetujui oleh RT Amin, RW Jono Heryanto, dan RT Carim. Para Pamong Desa Gantar itu sama dengan Pamong Desa Situraja, belum mengerti apa itu BUMDes. Mereka baru sedikit mengerti setelah dijelaskan oleh wartawan MH. Jadi mereka berpikir dan berkeinginan secara menebak-nebak belum merasa benar dan pasti. Tapi, jangankan pamong desa, orang buta huruf saja kalau soal uang pasti paham. Begitu pula tentang keuangan dan BUMDes. Hal itu wajar saja karena peningkatan ekonomi desa juga identik dengan uang. “Pajak tahunan Desa Gantar pelunasannya mencapai 192 juta. Kalau nanti ada BUMDes, berarti Gantar makin maju dan sejahtera, pajak juga akan meningkat,” kata Armin Leutik bangga. “Bagaimana tidak bangga, desa lain tidak sebanyak itu setor pajak tahunannya. Kalau di Desa Gantar, pajak selalu sukses. Di sini ada 4000 orang petani yang sadar pajak. Mereka juga nanti yang akan menyukseskan BUMDes. Yah semoga saja pembentukan BUMDes di Desa Gantar sukses, modal dari masyarakat dan pemerintah cair, perjalanannya juga lancar, sehingga BUMdes bisa bermanfaat dan menjadi kebanggaan masyarakat,” doa Armin Leutik untuk BUMDes yang akan dibentuk untuk kemajuan desanya. (untung)

BUMDes Cocok dengan PKK

KESULITAN modal. Kalau pemerintah memberikan pinjaman modal, bangkrut, kemudian angkat tangan. Kesalahan apa hingga membuat sebagian orang bermental seperti itu? Sebetulnya pemerintah itu memperhatikan rakyat kecil, tapi terkadang pelaksanaannya jadi carut marut tidak karuan. Hal itu diakui oleh Tasem Ratnasari, istri Kuwu Gantar Nurohim Adi Putra. “Ya mau bagaimana lagi? Membangun perekonomian desa berarti juga membangun mental warga. Itu tidak semudah membalikan tangan,” kata Tasem yang sudah punya seorang cucu tapi masih enerjik dan aktif melaksanakan tugasnya sebagai ketua TP. PKK Desa Gantar. “Sebenarnya ibu-ibu Kader PKK Desa Gantar itu rajin-rajin. Kita pernah merintis usaha keripik singkong, membuat jilbab, dan budi daya tanaman hias. Usaha kurang modal, lama-lama modalnya malah habis,” keluh Tasem, tapi tidak berarti dia frustasi membimbing para kader PKK Desa Gantar. Tasem Ratnasari juga sama dengan para Pamong Desa Gantar, belum memahami apa yang dimaksud dengan BUMDes. Setelah dijelaskan, barulah dia mengerti. BUMdes mirip koperasi, begitu dia menyimpulkan. Setelah sedikit memahami, Tasem langsung tersenyum karena di pikirannya langsung ada kata modal dan sejumlah uang dari pemerintah. “Kasihan kalau para kader PKK ke sana ke mari tidak ada uangnya. Terkadang uang bensinnya dari saya tiga puluh ribuan. Tapi masa terus-terusan. Nah, sekarang akan didirikan BUMDes. Kader PKK akan bisa bergabung dan aktif di dalamnya. Usaha kami seperti keripik singkong, membuat jilbab, dan budi daya bunga sedap malam akan jalan kembali karena akan dapat suntikan modal,” harap Tasem berbunga-bunga. “Saya rasa BUMDes sangat cocok dengan PKK. Bisa bekerja sama. Kapan BUMDes Gantar dibentuk?” tanyanya penuh minat. Ya mangga ibu koordinasikan dengan masyarakat Gantar. (untung)

Kami Sudah Punya KUD Misaya Mina

SEBAGIAN besar bakul ikan yang mangkal di tempat pelelangan ikan Eretan Wetan adalah wanita. Dari empat puluh wanita yang menjadi bakul ikan di situ, tiga belas di antara mereka adalah janda. Ada janda karena ditinggal mati suaminya karena sakit, ada juga janda karena ditinggal mati suaminya di lautan dan jasadnya hilang. Para janda itu bukan sembarang janda tapi janda yang memperjuangkan kelangsungan hidup keluarga mereka. Manakala menggali informasi dari mereka, diketahuilah betapa mulianya mereka. Betapa tangguhnya mereka yang tegar menghadapi kerasnya hidup. “Saya Alfiyah. Umur saya 54 tahun. Saya janda karena ditinggal mati suami alias rangda maesan. Sudah lupa berapa tahun saya menjanda. Lupa karena tidak lagi memikirkan itu karena ada yang lebih penting dari itu yaitu memperjuangkan nafkah keluarga. Demi anak dan cucu saya dagang ikan dari Eretan Wetan ke Pasar Induk Jakarta. Berdagang ke mana saja boleh Jakarta boleh Bandung juga boleh yang penting mendapatkan uang halal,” tutur Alfiyah, orang Eretan Wetan asli tapi sudah melanglang buana dagang ikan ke mana-mana. “Yah resikonya pedagang ikan ya kulitnya gosong badan dan pakaiannya bau amis. Tapi kalau uangnya sih manis hihihi ....” tawa Alfiyah, yang sudah gembrot tapi tenaganya masih prima. Bisa angkat-angkat ikan berbakul-bakul. “Saya Kaji Saenah. Umur saya 58 tahun. Saya juga rangda maesan. Saya asli Eretan Wetan. Sudah sejak gadis saya jadi bakul ikan di TPI ini. Yah bisanya cuma dagang ikan. Dulu sih dagang ikannya semangat sekali karena masih membesarkan dan menyekolahkan anak-anak. Sekarang lima anak saya sudah berkeluarga dan mandiri. Jadi saya berdagang untuk diri saya sendiri dan menabung. Dagang ikan dengan santai dan bercanda dengan teman-teman pedagang bakul yang sebagian besar janda hihihi...” kata Kaji Saenah yang mengaku penghasilan bersihnya sebulan lima juta rupiah. Kedua wanita lanjut usia tapi masih gigih berdagang itu bercanda ria ketika diwawancarai oleh MH tentang aktivitas mereka. Pekerjaan mereka berat tapi bisa tetap tersenyum dan bahagia. Lain halnya ketika MH memberikan dua pilihan kepada mereka. Apakah mereka memilih menjadi anggota Koperasi atau BUMDes? Mereka terdiam. Kemudian bertanya apa itu BUMDes? Setelah dijelaskan mereka menyuarakan bunyi ooo... kalau seperti itu, kami sudah punya KUD Misya Mina, sudah lekat di hati.(rofi/untung)

BUMDes Maju Perekonomian Desa Meningkat

PERUSAHAAN ikan kering yang mayoritas memproduksi ikan pindang kering milik Haji Saren berlokasi di Pantai Eretan. Ikan gesek juga ada tapi tidak sebanyak ikan pindang kering. Seminggu sekali H. Saren menjual ikan pindang kering ke Lampung Sumatra dengan alat transportasi mobil truk. Bisnisnya cukup lancar karena produksi dan penjualan berjalan dengan seimbang. Tidak ada kesulitan yang berarti, kalaupun ada H. Saren sudah sangat berpengalaman mengatasinya. Ikan kempar pati, cengkar, tanjan, dan layang adalah jenis-jenis ikan yang diolah menjadi pindang kering. Proses pembuatannya, pertama ikan dicuci, kemudian direbus dengan bumbu garam. Setelah ikan masak, diangkat dan ditiriskan. Proses penjemuran akan maksimal kering dalam dua hari bila matahari bersinar terik. Bila hujan turun setiap hari, H. Saren untuk sementara waktu tidak melakukan perebusan tapi mengurusi pengepakan ikan kering yang sudah ada. “Saya bekerja di sini sudah dua puluh tahun dengan tugas menjemur ikan. Bayarannya per hari enam puluh ribu rupiah,” kata Tarsa, yang masih saudara H. Saren. “Alhamdulillah hasil kerja begini sudah bisa menyekolahkan anak-anak,” tambah Tarsa bangga. Bekerja di bawah terik matahari, adalah resiko yang harus ditanggung Tarsa, Warnita, dan kawan-kawannya yang bekerja di perusahaan ikan kering milik H. Saren. Mungkin karena sudah terbiasa mereka tidak mengeluh kepanasan dan terbiasa dengan lingkungan yang bau busuk, asin, dan amis. Mau bekerja apa lagi, kata mereka. Pekerjaan yang ada adalah menjadi kuli di perusahaan ikan kering, jadi disyukuri saja. Perusahaan ikan kering seperti milik H. Saren cukup banyak di sepanjang pantai Eretan. Jika dihubungkan dengan rencana pendirian BUMDes di seluruh desa yang ada di Indramayu, perusahaan ikan kering ini bisa menjadi garapan BUMDes. Permasalahannya para pengusaha sudah terbiasa mandiri dan tak mau bergerak lebih dari zona aman yang telah mereka capai. Mereka berpikiran tidak mau berhutang. Kalau mau hutang sekalian yang besar di bank. Tidak hutang pun modal sudah cukup. Untuk memperbesar usaha, mereka sudah tidak ingin lagi karena merasa cukup dengan kesuksesannya. Sepertinya BUMDes sulit mengajak pengusaha yang sudah mapan bergabung di BUMDes. Ada kemungkinan bisa bekerjasama dengan pengusaha ikan yang masih dalam tahap rintisan. Pemiliknya masih relatif muda yang masih punya ambisi memajukan usahanya. BUMDes maju perekonomian desa meningkat, tapi pada sisi lain banyak tantangannya. (untung)

BUMDes, Mesin Perekonomian yang Masih Tidur

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan perekonomian masyarakat dalam skala mikro yang ada di desa dan dikelola oleh masyarakat bersama pemerintah desa setempat berdasarkan kearifan lokal yang pengelolaannya terpisah dari manajemen pemerintah desa namun menunjang pendapatan desa. BUMDes juga merupakan satu kesatuan dari lembaga perekonomian yang ada di desa yang terus dipelihara oleh masyarakat setempat. Pembentukan BUMDes dimaksudkan untuk menampung berbagai kegiatan perekonomian di desa, baik kegiatan yang berkembang menurut adat istiadat dan budaya masyarakat setempat maupun kegiatan yang diserahkan kepada masyarakat dalam bentuk program dan proyek oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Prinsip dasar dalam mendirikan BUMDes adalah pemberdayaan, keberagaman, partisipasi, dan demokrasi. BUMDes dapat didirikan berdasarkan inisiatif pemerintah desa dan atau masyarakat berdasarkan musyawarah warga desa dengan mempertimbangkan potensi usaha ekonomi masyarakat, adanya unit kegiatan usaha, terdapat kekayaan desa yang diserahkan untuk dikelola sebagai bagian dari usaha desa. BUMDes dapat didirikan apabila ada penyertaan modal dari masyarakat dan pemerintah desa yang dipisahkan dari pengelolaan pemerintah desa. Terdapat lembaga keuangan mikro yang dikelola masyarakat yang bersedia menjadi bagian unit usaha BUMDes. Jenis usaha BUMDes dapat berupa unit usaha keuangan, unit pasar, dan unit jasa lainnya. Cakupan jenis usaha ini apabila dapat dilaksanakan dengan baik sudah cukup menjadikan BUMDes sebagai salah satu lembaga perekonomian masyarakat yang handal dan tangguh. Namun dalam kenyataan di lapangan, banyak masyarakat desa yang tidak memiliki BUMDes. Hal inilah yang menjadikan BUMDes sebagai mesin perekonomian yang masih tertidur di banyak desa. Menurut pasal 213 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Hal ini merupakan perwujudan “otonomi desa” dimana pemerintah desa berhak mengatur dan mengurus kepentingan (ekonomi) masyarakatnya berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan. Peraturan lain yang mengatur tentang BUMDes adalah Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, pasal 78 s.d. pasal 81 yang menyebutkan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa, pemerintah desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Pembentukan BUMDes ditetapkan dengan peraturan desa berpedoman pada peraturan perundang-undangan (pasal 78). Badan usaha milik desa adalah usaha desa yang dikelola oleh pemerintah desa. Permodalannya dapat berasal dari pemerintah desa, tabungan masyarakat, bantuan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, pinjaman dan atau penyertaan modal pihak lain atau kerja sama bagi hasil atas dasar saling menguntungkan. Kepengurusan BUMDes terdiri dari pemerintah desa dan masyarakat (pasal 79). Badan usaha milik desa dapat melakukan pinjaman sesuai dengan peraturan perundang-undangan setelah mendapat persetujuan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) secara tertulis setelah diadakan rapat khusus untuk itu (pasal 80). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan dan pengelolaan BUMDes diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota yang memuat tentang bentuk badan hukum, kepengurusan, hak dan kewajiban, permodalan, bagi hasil usaha, kerjasama dengan pihak ketiga, mekanisme pengelolaan dan pertanggungjawaban (pasal 81). Selaras dengan peraturan di atas guna memandu pembentukan dan pengelolaan badan usaha milik desa di tiap-tiap desa Pemerintah Kabupaten Indramayu menerbitkan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pembentukan Dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa yang terdiri atas 19 Bab 49 Pasal. Bab I Pasal 1 memuat ketentuan umum yang berisi tentang pengertian segala perangkat pemerintahan dan AD/ART lembaga. Bab II (pasal 2 s.d. pasal 4) memuat tentang maksud, tujuan dan sasaran BUMDes. Bab III (pasal 5 s.d. pasal 6) mengatur tentang peran dan strategi BUMDes. Bab IV (pasal 7 s.d. pasal 13) mengatur tentang pembentukan, kedudukan dan jenis badan usaha BUMDes. Bab V (pasal 14 s.d. pasal 22) mengatur tentang susunan organisasi kepengurusan BUMDes. Bab VI (pasal 23 s.d. pasal 24) mengatur tentang kewajiban dan hak BUMDes. Bab VII (pasal 25 s.d. 27) mengatur tentang kewajiban, tugas dan kewenangan pengurus BUMDes. Bab VIII (pasal 28) mengatur tentang manajemen usaha BUMDes. Bab IX (pasal 29) mengatur tentang manajemen usaha BUMDes. Bab X (pasal 30) tentang bagi hasil BUMDes. Bab XI (pasal 31 s.d. pasal 34) mengatur tentang kerja sama dengan pihak ketiga. Bab XII (pasal 35 s.d. pasal 37) mengatur tentang azas pengelolaan, pertanggungjawaban, dan administrasi keuangan BUMDes. Bab XIII (pasal 38 s.d. pasal 41) mengatur tentang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BUMDes. Bab XIV (pasal 42) mengatur tentang pembinaan dan pengawasan. Bab XV (pasal 43) tentang ganti rugi. Bab XVI (pasal 44) tentang penyelesaian perselisihan. Bab XVII (pasal 45) tentang pembubaran BUMDes. Bab XVIII (pasal 46) tentang ketentuan peralihan. Bab XIX (pasal 47) mengatur tentang sanksi. Bab XX (pasal 48 s.d. pasal 49) tentang ketentuan penutup. Perda ini diundangkan di Indramayu pada tanggal 4 Mei 2012 dalam Lembaran Daerah Kabupaten Indramayu Tahun 2012 Nomor 6. • pitrahari

Drs. H. Munjaki,M.Si : “BUMDes sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Perdesaan”

Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hal ini didasari oleh kesadaran akan pentingnya (dihidupkannya) keberadaan lembaga perekonomian masyarakat desa tersebut sebagai salah satu upaya peningkatan perekonomian masyarakat perdesaan. Demikian disampaikan Kepala BPMD, Drs. H. Munjaki, M.Si. dan Sekretaris Drs. Iwan Hermawan, M.Pd melalui Ketua Panitia Pelaksana Drs. Dida Kuswibawa di aula Hotel Wiwi Perkasa, belum lama ini. Menurut Dida, bimtek mengenai BUMDes ini dilaksanakan tanggal 19 s.d. 24 November diikuti sebanyak 385 orang peserta terdiri atas para kuwu, Ketua DPC LPM Kecamatan dan para pengurus BUMDes yang sudah ada yang terbagi dalam tiga gelombang. Tema kegiatan yang dilakasanakan adalah “Kita Jadikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Perdesaan dan Kemandirian Pemerintah Desa”. “Kegiatan bimtek ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan pengetahuan bagi para kuwu, LPM dan pengurus BUMDes yang sudah ada tentang teknis pembentukan dan pengelolaan BUMDes. Sedangkan tujuannya adalah untuk memahami kebijakan pemerintah dan strategi pengembangan BUMdes dan meningkatkan kemampuan manajerial kuwu dan pengurus BUMDes dalam pengembangan BUMdes,” jelas Dida. Menurut Dida, dasar penyelenggaraan kegiatan ini adalah Permendagri No. 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Perda No. 6 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes serta program kebijakan Pemerintah Kabupaten Indramayu khususnya BPMD. “Kami berusaha menghadirkan para nara sumber yang sangat berkompeten di bidangnya yakni dari Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kementerian Dalam Negeri, Balai Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dirjen PMD Kementrian Dalam Negeri, Sekretaris Daerah Indramayu dan BAPEDA Indramayu. Sedangkan materi bimtek meliputi Peermendagri tentang BUMDes, Perda BUMDes dan kebijakan strategi pengembangan BUMDes di Indramayu serta pengembangan BUMDes dan aplikasinya di lapangan,” jelas Dida. Dida mengharapkan kegiatan ini dapat diikuti seluruh peserta dengan baik sehingga bermanfaat bagi mereka dalam meningkatkan wawasan tentang BUMDes dan dapat mengaplikasikannya di wilayah desa masing-masing. Ia yakin bila di setiap desa memiliki BUMDes yang maju dan produktif maka dapat membantu solusi bagi pembangunan khususnya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa tersebut sehingga dapat menopang kemandirian desa masing-masing. • pitrahari

Drs. Iwan Hermawan, M.Pd. (Sekretaris BPMD): “Salah Satu Kunci Sukses Pembangunan adalah Pemberdayaan”

Kunci sukses pelaksanaan pembangunan daerah salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat. Meski sebuah program sudah disosialisasikan namun tanpa pemberdayaan dari masyarakat terkait maka pembangunan (proyek/kegiatan) belum tentu bisa berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Untuk dapat mewujudkan sebuah pemberdayaan, perlu dilakukan pembangunan motivasi kepada seluruh stake holder terkait akan pentingnya partisipasi dalam pembangunan daerah. Tanpa adanya motivasi yang tinggi dalam diri masyarakat maka pembangunan yang dijalankan terasa kurang bergairah. Demikian disampaikan Sekretaris Badan Pemberdayaan Mayarakat Desa (BPMD) Drs. Iwan Hermawan, M.Pd. kepada MH di sela-sela kegiatan bimbingan teknis pembentukan dan pengelolaan BUMDes, belum lama ini. Menurut Iwan, selain menyiapkan sumber daya manusia, membekali keilmuan dan memberikan permodalannya, tanpa adanya motivasi dari masyarakat maka sebuah program pembangunan (mendirikan dan mengelola BUMDes) tidak akan berjalan dengan baik. “Pembentukan BUMDes yang nyata-nyata memiliki peran penting dalam ikut meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan tidak akan berjalan dengan baik manakala tidak dikelola oleh masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan BUMDes. Selain memberikan ilmu dan kesiapan sumber daya manusia para pengurus yang mengelola BUMDes serta memberikan permodalan maka harus diikuti dengan kegiatan supervisi administrasi dan pelaporan keuangan lembaga serta penanaman motivasi yang terus-menerus,” jelas Iwan. Iwan menjelaskan, pembentukan BUMDes adalah salah satu bentuk sentuhan pemerintah dalam rangka upaya membangkitkan perekonomian masyarakat pedesaan. Diperlukan persiapan, komitmen masyarakat dan permodalan yang cukup agar supaya lembaga BUMDes yang terbentuk dapat berjalan dengan baik. “Terkait pembentukan BUMDes, para tokoh pemerintahan dan masyarakat desa/kelurahan khususnya para kuwu harus dapat membangkitkan motivasi kepada seluruh masyarakatnya tentang pentingnya BUMDes supaya dapat merasa ikut memiliki. Mudah-mudahan dengan adanya motivasi yang kuat untuk memajukan BUMDes di desa masing-masing percepatan pembangunan khususnya perekonomian masyarakat pedesaan dapat dilakukan dengan lebih cepat,” jelas Iwan yang betindak mewakili Kepala BPMD menutup kegiatan bimtek pembentukan dan pengelolaan BUMDes bagi para kuwu dan pengurus BUMDes. • pitrahari

Drs. H. Supendi, M.Si. (Wakil Bupati): “BUMDes Upaya Mensejahterakan Masyarakat Desa”

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat dan pemerintah desa di tengah serbuan teknologi yang begitu cepat dan deras, serta tuntutan untuk melakukan perubahan. Keberadaan BUMDes sangat penting dalam upaya memandirikan desa, sekaligus membuka wawasan pemerintah desa dalam mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki desa agar nilai dan ciri khas desa tetap terjaga. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Indramayu Drs. H. Supendi, M.Si. ketika membuka kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes yang berlangsung beberapa waktu lalu di Hotel Wiwi Perkasa. Meskipun begitu, lanjut Wabup, keberhasilan BUMDes sendiri sesungguhnya sangat bergantung pada kemampuan para pengelolanya, mulai dari kemampuan dalam perencanaan pendirian BUMDes yang tepat dan sesuai dengan kondisi sumber daya yang dimiliki desa, hingga pada kemampuan dalam mempertanggungjawabkan pengelolaannya. Selain itu, pengelolaannya sendiri harus ditunjang dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat desa karena BUMDes bukan alat untuk memperkokoh kedudukan kuwu, melainkan alat untuk memperkuat perekonomian desa sehingga diharapkan BUMDes dapat terus berjalan dengan normal meskipun terjadi pergantian kuwu. Untuk itu, diperlukan pemahaman terhadap peraturan yang menaungi hal ini, yaitu Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2012 tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes, serta kebijakan strategis pengembangan BUMDes lainnya. “Saya menaruh harapan besar dari keberadaan BUMDes di Kabupaten Indramayu. Di beberapa daerah lain, cukup banyak BUMDes yang telah berhasil memberikan kontribusi terhadap pendapatan desa dan memberikan input dalam pembangunan desa,” harap wabup. Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten Indramayu dapat segera mengejar ketertinggalannya dari daerah lain dengan memperbaiki BUMDes yang telah ada dan mendirikan BUMDes baru yang sekiranya dibutuhkan, serta melakukan pengelolaan BUMDes dengan lebih profesional. • hery/deni

BUMDes Harapan Baru Masyarakat Desa

Didasari oleh amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur berbagai kewenangan bahwa pemerintah desa memiliki tugas menyelenggarakan pemerintahan yang memiliki hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat. Untuk itu desa dituntut untuk memperkuat pendapatan desa untuk kesejahteraan masyarakatnya. Selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Desa, desa memiliki cara untuk menampung seluruh kegiatan perekonomian yang didasarkan pada kebutuhan dan potensi desa tersebut. Kegiatan pengembangan BUMDes dimaksudkan sebagai upaya untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya lembaga ekonomi desa menjadi BUMDEs guna menampung kegiatan ekonomi masyarakat, baik yang berkembang menurut adat istiadat/budaya setempat, maupun kegiatan perekonomian yang diserahkan untuk dikelola oleh masyarakat melalui program/proyek pemerintah dan pemerintah daerah. BUMDes ini merupakan harapan baru bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan karena memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan untuk memperkuat pendapatan asli desa, memajukan dan mengembangkan perekonomian desa, pengumpulan modal usaha dari berbagai sumber, dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat. Fungsi yang diemban dari BUMDes yakni suatu fungsi yang mulia yakni pembentukan usaha baru yang berakar dari sumber daya yang ada serta optimalisasi kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat desa yang telah ada, kemudian meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Dan sebagai upaya peningkatan kesempatan berusaha dalam rangka memperkuat otonomi desa dan mengurangi pengangguran. Kemudian membantu pemerintah desa dalam mengurangi dan meningkatkan kesejahteraan warga terutama masyarakat miskin di desanya, dan memberikan pelayanan sosial (misalnya: pendidikan dan kesehatan) kepada masyarakat desa. Pada tahap awal lokasi pengembangan BUMDes diprioritaskan pada Desa/Kelurahan yang telah memiliki lembaga ekonomi desa yang sudah berjalan dan berkembang dengan baik, seperti Unit Pengelola Keuangan (UPK), Badan Kredit Desa (BKD), Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP), dan lain-lain. Berdasarkan ciri-cirinya BUMDes adalah Badan usaha yang dimiliki oleh desa dan dikelola secara bersama, modal usaha bersumber dari desa (51%) dan dari masyarakat (49%) melalui penyertaan modal (saham atau andil), operasionalisasinya menggunakan falsafah bisnis yang berakar dari budaya lokal (local wisdom), bidang usaha yang dijalankan didasarkan pada potensi dan hasil informasi pasar, keuntungan yang diperoleh ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota (penyerta modal) dan masyarakat melalui kebijakan desa (village policy), difasilitasi oleh pemerintah, pemprov, pemkab, dan pemdes, dan pelaksanaan operasionalisasi dikontrol secara bersama (Pemdes, BPD, anggota). • hery/deni

Prestasi Gerakan Pramuka Gugus Depan 06.13 – 06.14 SMPN 1 Lelea Memang Membanggakan

Prestasi memang membanggakan dan tidak bisa diperoleh secara instan. Contohnya, setelah berjuang tanpa kenal menyerah, akhirnya Gerakan Pramuka Gugus Depan 06.13 – 06.14 yang berpangkalan di SMP Negeri 1 Lelea mampu membuktikan kelompoknya sebagai Juara Umum Tingkat Penggalang SMP dalam Lomba Lintas Alam XXIV tahun 2012” yang diselenggarakan di Kabupaten Sumedang pada 10-11 November 2012. Kegiatan yang diprakarsai dan dilaksanakan oleh SMA Negeri 1 Sumedang Jalan Prabu Geusan Ulun No. 39 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat itu hanyalah salah satu bidikan kegiatan yang diincar oleh para anggota pramuka yang tergabung di Gugus Depan 06.13 – 06.14 SMPN 1 Lelea. Kegiatan lainnya? Menurut Durajak, S.Pd., selaku Pembina Pramuka di SMP Negeri 1 Lelea, para anggota pramuka yang berada di bawah binaannya juga telah berprestasi di banyak kegiatan. Misalnya, saat mengikuti kegiatan di Kabupaten Sumedang itu, menjadi Juara 1 Puteri dan memperoleh Piala Bergilir dari Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH), dan sebuah piala tetap dari KNPI Kabupaten Sumedang. Setahun lalu, 2011, pernah menjadi Juara 1 tingkat Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam Hiking Rally di Kabupaten Ciamis. Juara Umum Best Game yang diselenggarakan oleh SMK BBM Kabupaten Indramayu dalam rangka Dies Natalis sekolah tersebut. Juara Harapan 1 Tingkat Nasional dalam Lomba Alga di SMP Negeri 1 Sumedang. Sebelum meraih prestasi dalam Lomba Lintas Alam di Kabupaten Sumedang, di tahun 2012 ini, juga meraih prestasi sebagai Juara Umum dalam kegiatan Hiking Rally Ciradika di Ciamis, tepatnya pada bulan Februari. Prestasi-prestasi itu tentu tak lepas dari “tangan dingin” pembinaan yang dilakukan oleh para guru Pembina Pramuka seperti Durajak, S.Pd. (42 tahun) yang sudah mengajar di SMPN Lelea sejak tahun 1995. Keseriusan beliau membina pramuka tak lepas pula dari pengalaman beliau semasa masih sekolah yang memang merupakan aktivis pramuka. • sayama

Gerakan Pramuka Gugus Depan 06.13 – 06.14 SMPN 1 Lelea Menjadi Juara Umum di LA XXIV Sumedang


Setelah berjuang tanpa kenal menyerah, akhirnya Gerakan Pramuka Gugus Depan 06.13 – 06.14 yang berpangkalan di SMP Negeri 1 Lelea mampu membuktikan kelompoknya sebagai Juara Umum Tingkat Penggalang SMP dalam Lomba Lintas Alam XXIV tahun 2012” yang diselenggarakan di Kabupaten Sumedang pada 10-11 November 2012. Kegiatan itu diprakarsai dan dilaksanakan oleh SMA Negeri 1 Sumedang Jalan Prabu Geusan Ulun No. 39 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Menurut Durajak, S.Pd., selaku Pembina Pramuka di SMP Negeri 1 Lelea, keikutsertaan para anggota pramuka yang berada di bawah binaannya selain untuk melaksanakan program kerja Gudep 06.13 – 06.14, juga ditujukan untuk mewujudkan lima hal. Kelima tujuan itu terdiri dari: meningkatkan kreativitas siswa, melatih dan menanamkan semangat patriotisme, mencintai linkungan alam, memupuk rasa persaudaraan dan kebersamaan, dan meningkatkan disiplin dan rasa tanggung jawab. Penuh Motivasi Rombongan Pramuka dari SMP Negeri 1 Lelea berangkat dari Kabupaten Indramayu pada Sabtu 10 November 2012 sekitar jam 11.30 dengan menggunakan sebuah bus. Dalam rombongan ini terdapat tiga orang Guru Pembina yaitu Durajak, S.Pd., Darman, S.Pd., dan Moh. Rezekhi, dan dua orang pelatih. Sekitar jam 14.00 rombongan tiba di SMA Negeri 1 Sumedang. Setibanya di lokasi para anggota langsung mengadakan persiapan sebab mereka siap bertanding/berlomba dan istirahat bersama-sama di (menginap) di kelas. Kondisi dan situasi seperti itu sudah mereka perkirakan sebelumnya. Jadi, bukan memperlemah semangat. Hal itu justru membuat mereka penuh motivasi untuk bertanding sebab keberangkatan ke Sumedang tidak hanya membawa nama baik sekolah tetapi mempertaruhkan nama baik Kabupaten Indramayu. Berkat Latihan Intensif Hasil tersebut merupakan buah dari latihan intensif yang telah dilakukan cukup lama. Saat keberangkatan dan berada di lokasi mereka selalu ingat pesan H. Manap, M.Pd., kepala SMP Negeri 1 Lelea, agar mereka selalu menjaga kesehatan, menjaga nama baik, dan menjaga kekompakan. Dalam pertandingan/perlombaan ada berberapa materi yang harus para anggota kerjakan, yaitu Pengetahuan Kepramukaan, Pengetahuan Umum/Populer, Halang Rintang, dan Lomba Yel-Yel. Menurut Durajak, S.Pd., berkat latihan yang sudah dilakukan cukup lama dan intensif selama bulan Oktober, maka para anggota tidak mengalami kesulitan untuk mengerjakan semua tantanga itu. Hasilnya? Mereka sanggup menjadi juara umum tingkat penggalang SMP. Para anggota pramuka yang berangkat ke Kabupaten Sumedang itu terdiri dari lima regu. Regu pertama diberi nama regu Iguana Ranger Scout yang terdiri dari Muhammad Noval (Ketua Regu, kelas 8A), Wahyu Eka Pratama (kelas 8F), Wahyu Eko Pratama (kelas 8G), Usman Haji (kelas 8B), dan Rasnita (kelas 8D). Regu kedua diberi nama regu Iguana Uyee yang terdiri dari Muh. Hasan Faqih (Ketua Regu, kelas 8G), Asmadi (kelas 8E), Karyono (kelas 8A), Achmad Rivai (kelas 8F), Yogi Irawan (kelas 8I). Regu ketiga diberi nama regu Cambodia Full The Black yang terdiri dari Evi Shela (Ketua Regu, kelas 9B), Aysaroh (kelas 9B), Sunenti (kelas 9F), Saniah Bilqisty AR (kelas 8E), dan Eni (kelas 9H). Regu keempat diberi nama regu Cambodia Shinju yang terdiri dari Saidah (Ketua Regu, kelas 8C), Nurhalimah (kelas 8D), Tiah Fauziah (kelas 8C), Sunarti (kelas 8B), dan Rosalinda (kelas 8A). Sedangkan regu kelima terdiri dari Njraisah (Ketua Regu, kelas 8A), Siska Bela (kelas 8C), Luxshe Fonisa Febri (kelas 8A), Lilis Karlina WS (kelas 8A), dan Ayu Nisa Fitri Sari (kelas 8F). Seusai bertanding, pasukan dari SMP Negeri 1 Lelea kembali ke markasnya. Sekitar jam 21.00 mereka meninggalkan SMA Negeri 1 Sumedang dan tiba kembali di SMP Negeri 1 Lelea sekitar jam 23.30. Selanjutnya pada Senin pagi setelah upacara bendera, dilakukan penyerahan trophy-trophy sebagai simbol kemenangan mereka kepada kepala SMP Negeri 1 Lelea. “Saya sangat berterima kasih atas prestasi yang telah diraih dan semoga bisa ditingkatkan di masa yang akan datang,” kata H. Abdul Manap, M.Pd., kepala SMPN 1 Lelea. • rofi/sayama

Warga SMPN 1 Jatibarang Peringati Tahun Baru Islam 1434 H. Memberikan Santunan di Tahun Baru Islam




Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1434 Hijriyah, keluarga besar SMP Negeri 1 Jatibarang telah melaksanakan empat jenis kegiatan sekaligus pada Jum’at 16 November 2012 mulai pukul 07.00 sampai dengan selesai bertempat di lapangan kampus tersebut. Tema yang diambil adalah Melalui Tahun Baru Islam 1434 Hijriyah Kita Tingkatkan Semangat Belajar, Keimanan, dan Ketakwaan kepada Allah SWT. Kegiatan yang dilaksanakan itu terdiri dari Sholat Dhuha dan Istigotsah, Pengumpulan Dana dari Siswa dan Guru untuk Anak Yatim, Lomba MTQ dan Kaligrafi, dan Tanya Jawab Soal Keagamaan. Selain itu acara juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize. Kegiatan yang padat itu tentu saja melibatkan banyak orang sebagai panitia yang terdiri dari Penanggung jawab: Triswanto, S.Pd., M.M.; Ketua Panitia: Drs. H. Imron Rosyadi; Sekretaris: Umi Hani, S.Ag.; Bendahara: Jazirotul Kudsiyyah, S.Pd.; dan para anggota (Nurlaela Supiah, S.Pd., Ahmad Nurullah, S.Ag., Wirohningsih, S.Pd., Maemunah, Wahyudi, dan Kasno). Meningkatkan Ketakwaan Siswa Menurut Ketua Panitia, Drs. H. Imron Rosyadi, mengingat minimnya pengetahuan para siswa tentang Tahun Hijriyah (Tahun Baru Islam), maka panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) mempunyai inisiatif untuk melaksanakan acara dalam rangka menyambut dan memperingati Tahun Baru Hijriyah. “Tujuannya agar siswa mengetahui arti pentingnya tahun Baru Islam,” kata Drs. H. Imron Rosyadi. Menurut Drs. H. Imron, tahun baru diartikan sebagai sebuah pijakan lagi untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Dengan hal-hal baru seperti semangat baru, dan harapan baru untuk mencapai tujuan hidup, katanya, proses pencapaian hal-hal baru itu kita isi dengan memperingati tahun baru hijriyah 1434 yang berisi hal-hal positif dengan tujuan untuk meningkatkan semangat belajar, keimanan, dan ketakwaan kepada Allah SWT. “Mudah-mudahan di Yaumul Mustajabah ini, Allah SWT memberikan kemudahan dan membuka hati kita semua untuk selalu bersemangat fastabiqul khoirot, dan Allah SWT mengabulkan do’a kita semua,” kata Drs. H. Imron Rosyadi. Hasil Perlombaan Hasil MTQ yang dinilai oleh juri Umi Hani, S.Ag. terpilih sebagai Juara 1 Fahrul Afrizal (siswa kelas IX-H), dan Juara 2 Krisna (siswa kelas IX-F). Lomba Kaligrafi yang dinilai oleh juri Ahmad Nurullah, S.Ag., terpilih sebagai Juara 1 Siti Rohani (siswi kelas IX-A), dan Juara 2 Fenti Sintiya (siswi kelas VII-E). Sementara itu para pemenang doorprize terdiri dari Tatin (siswi kelas VII-E), Ricardi (siswa kelas VII-H), Ayu Indri (siswi kelas VIII-F), Muh. Jaka Buana (siswa kelas VIII-G), Ayu Septianingsih (siswi kelas IX-G), dan Dara Mariesta (siswi kelas IX-A). Para pemenang doorprize itu terpilih setelah mereka berhasil menjawab secara benar atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan panitia. Jumlah pertanyaan yang disediakan adalah 6 pertanyaan, sehingga pemenang doorprize pun berjumlah 6 orang siswa. Hadiah bagi para pemenang doorprize dan perlombaan diserahkan oleh kepala sekolah (Triswanto, S.Pd., MM), dan guru yang dipilih (Nurlaela Supiah, S.Pd.I., dan Drs. H. Thoyib). Sementara itu setelah dilakukan penggalangan dana untuk anak yatim dan yatim piatu dari seluruh civitas akademika SMPN 1 Jatibarang, maka dana yang terkumpul itu secara simbolis diserahkan dari Pembina Kerohanian kepada Kepala Sekolah yang selanjutnya akan dibagikan kepada anak yatim. Jumlah anak yatim yang sudah terdata untuk menerima dana tersebut terdiri dari 30 orang siswa (terdiri dari gabungan kelas VII, VIII, dan IX). Penuh Kegiatan Religius Menurut salah seorang guru senior di SMPN 1 Jatibarang, Drs. H. Imron Rosyadi, sejak dulu sekolah yang tertua di Kecamatan Jatibarang ini memang bersifat agamis atau religius. Berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan telah dilaksanakan secara serius. Menurutnya, hampir setiap hari sekitar pukul 06.30 para siswa, guru, dan tenaga administrasi SMPN 1 Jatibarang sudah berkumpul di lingkungan sekolah. Mereka membawa kitab suci Al-Qur’an menuju lapangan upacara. Di lapangan yang dipenuhi gelaran tikar itulah mereka akan duduk bersimpuh untuk melakukan pengajian. Mengaji Al-Qur’an dengan amat seksama dibacakan oleh guru agama meneruskan ayat yang sudah dibacakan sebelumnya. Kemudian diikuti berasama. Cukup dengan dua tiga ayat saja baca Al-Qur’an selesai. Setelah itu ditafsirkan dan dijelaskan asbabun nujul tentang ayat tersebut dan dipaparkan melalui siraman rohani. Pukul 07.30 pengajian selesai. Mengaji Al-Qur’an bersama secara istiqomah oleh keluarga besar SMPN 1 Jatibarang dilaksanakan setiap hari terkecuali hari libur. Pada hari Senin karena ada upacara bendera cukup dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama tanpa ada terjemah dan ceramah. Sedangkan pada Jum’at pagi masih pada jam sama dilakukan sholat dhuha dilanjutkan dzikir bersama di lapangan upacara. • hery/sayama

“Jangan sampai para Kuwu sering Dipanggil Kejaksaan”

Walaupun Pemdes (Pemerintahan Desa) diberi kewenangan yang luas mengatur rumah tangganya sendiri sesuai aturan, akan tetapi pembangunan di desa sampai saat ini masih bergantung pada pemerintah yang lebih tinggi. Hal itu karena kemampuan Pemerintahan Desa mengumpulkan swadaya masyarakat sangat berat. Akibatnya pemdes belum bisa mengatasi masalah-masalah sosial yang berkembang di desa seperti kemiskinan, pengangguran dan sebagainya, kata Wakil Bupati Indramayu Drs. H. Supendi, M.Si. saat membuka Bimbingan Teknis (Bintek) pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) bagi para Kuwu (Kepala Desa) se-Kabupaten Indramayu di Aula Hotel Wiwi Perkasa, Rabu (21/11/2012). Nampak hadir pada acara itu Kepala BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Drs. H. Munjaki, M.Si., Sekretaris BPMD Drs. Iwan Hermawan, M.Si. dan jajarannya. Bintek BUMDes bagi para kuwu dilaksanakan bertahap sehingga 317 kuwu se-Kabupaten Indramayu ikut mengenyam Bintek BUMDes itu. Menurut wabup, pembentukan BUMDes merupakan salah satu jawaban bagi pemdes dalam membantu mengatasi masalah-masalah sosial di desa. Untuk membangun desa, katanya, diperlukan adanya partisipasi atau bantuan dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Bantuan dari pemerintah yang lebih atas itu, ujar wabup masih sangat diperlukan dalam rangka mendukung pemdes mengatasi masalah-masalah sosial di desa. Dikatakan, jika pusat memberikan bantuan dana untuk desa sebesar Rp300 juta, Pemerintah Provinsi Jabar memberikan bantuan desaRp500 juta dan pemkab melalui ADD (Alokasi Dana Desa) Rp200 juta setahun maka kemampuan desa membangun desa akan lebih meningkat lagi. Untuk itu, kata wabup, pemdes mulai dari sekarang harus berupaya mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia)-nya agar nantinya tidak keliru dalam pengelolaan keuangan di desa yang setahun jumlahnya mencapai sekitar Rp1 milyar. “Jangan sampai pemdesanya ingin mensejahterakan rakyat namun karena SDM-nya lemah malah Pak Kuwunya yang sering dipanggil kejaksaan. Ini yang tidak dikehendaki,” katanya. •taryani

BUMDes di Mata Eretan Wetan

KOPERASI Unit Desa Misaya Mina Desa Eretan Wetan (Erwet) Kecamatan Kandanghaur didirikan pada tanggal 26 Mei 1926 atas prakarsa Kepala Desa Eretan Sudargi dengan nama Koprasi Bumi Putra, dengan jumlah anggota 92 orang nelayan. Lima tahun kemudian tepatnya pada tanggal 26 Mei 1931 baru memperoleh badan hukum No. 106 dan berganti nama menjadi Koperasi Perikanan Laut (KPL) Misaya Mina dengan ketua Totong. Pada tahun 1956 sampai 1969, wilayah Anjatan lepas dari keanggotaan, hingga anggotanya tinggal dua desa yaitu Eretan Wetan dan Eretan Kulon. Tapi pada akhir tahun 1969, Eretan Kulon memisahkan diri dan membentuk KPL Mina Bahari. Koperasi Unit Desa Misaya Mina telah menjadi koperasi yang besar. Prestasinya banyak dari tingkat kabupaten hingga nasional. Yang terpenting adalah azas yang diusung yaitu kekeluargaan dan gotong royong dapat ditegakkan. KUD ini juga dapat mencapai tujuannya yaitu: mengembangkan idiologi perkoperasian, kesejahteraan anggota, dan mengembangkan kemampuan ekonomi anggota. Sepertinya KUD Misaya Mina sudah sangat menyatu dengan masyarakat Desa Eretan Wetan. Sampai-sampai muncul bahasa bila KUD sepi kegiatan maka ekonomi menjadi lemes. “KUD Misya Mina menjadi tulang punggung perekonomian anggotanya. Oleh karena itu pengurus dan anggota selalu berusaha agar KUD ini selalu hidup,” ujar M.Nur Manager KUD Misaya Mina. “Bila ingin melihat bagaimana kompaknya pengurus dan anggota KUD Misaya Mina, akan sangat tercermin atau terlihat pada acara Nadran pada hari Kamis, 29 November 2012,” kata M. Nur berharap MH datang menyaksikan prosesi buang kepala kerbau di tengah lautan. Desa Eretan Wetan sudah memiliki koperasi yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat mereka di bidang perekonomian. Apakah Desa Eretan Wetan dan desa-desa lainnya yang telah memiliki KUD yang maju harus mendirikan BUMDes? Jika didirikan kemudian dapat bersinergi atau dapat saling mengisi, tentu tidak menjadi masalah. Tapi bagaimana jika persaingannya tidak sehat? Bukankah pendirian BUMDes justru membuat keributan yang mengoyak kedamaian? Jawaban atas semua pertanyaan itu, ada pada masyarakat desa itu. Karena BUMDes tidak akan pernah bisa didirikan di suatu desa bila masyarakat desanya tidak menghendaki. Berkehendak atau tidaknya masyarakat pada BUMDes, bisa dilihat dan ditentukan pada musyawarah desa. “KUD Misaya Mina sudah sangat membantu masyarakat dari pengadaan Bahan Alat Perikanan, Solar Paket Dealer Nelayan, Loket PLN, Loket PDAM, Simpan Pinjam, Kridit Candak Kulak, dan penyediaan keperluaan nelayan lainnya. Pelayanan KUD nyaris komplit,” kata M. Nur menjelaskan, yang dsetujui oleh Kusnadi dari sektor administrasi dan Sudirman seorang nelayan yang sedang berkunjung di kantor KUD. Bagi suatu desa yang belum pernah memiliki KUD, atau punya KUD tapi mati, pendirian BUMDes adalah solusi terbaik untuk perekonomian desa. Tapi bagi desa yang sudah memiliki KUD yang maju, pendirian BUMDes bisa saja didirikan tapi perlu pembelajaran masalah yang benar-benar efektif. Untuk Desa Erwet, Masihkah membutuhkan BUMDes? Terserah kepada masyarakatnya. (rofi/untung)

Masyarakat Situraja Mendukung BUMDes

SUASANA kantor Kuwu Desa Situraja Kecamatan Gantar masih sepi. Hampir jam sembilan pagi tapi belum ada seorang pun pamong desa yang hadir. Beberapa menit kemudian hadir staff komputer desa Dedi Supriyadi, disusul bendahara desa Satam, malah kemitnya Hasanudin baru datang diurutan ketiga. Mestinya kemit hadir lebih awal dan melakukan kebersihan lingkungan. Tapi begitulah kenyataannya. Mungkin hari Selasa itu sedang tidak ada kerjaan atau memang kebiasaan mereka seperti itu. Ketika ditanyakan ke manakah kuwu dan yang lainnya, mereka kompak menjawab, “mereka sedang dinas luar.” “Apa ya BUMDes?” mereka malah balik bertanya ketika ditanya oleh MH apakah mereka sudah tahu tentang BUMDes? Ketidakpahaman mereka tentang BUMDes bukan kesalahan mereka. Permasalahannya memang BUMDes belum tersosialisasikan dengan baik. Setidaknya di Indramayu wilayah barat, lebih mengerucut lagi di Kecamatan Gantar, jangankan para pamong desa, kuwunya saja belum paham BUMDes. Apalagi detail manajemennya. Sepertinya pihak yang berkewajiban menyosialisasikan BUMDes akan bekerja extra.
“Kalau di desa ada satu badan seperti itu, pasti masyarakat mendukung,” kata Dedi Supriyadi. “Mata pencaharian masyarakat Situraja mayoritas petani, berarti BUMDes harus meningkatkan usaha pertanian,” kata Dedi yang disetujui oleh Satam dan Hasanudin. Mereka mulai mengerti apa itu BUMDes setelah dijelaskan oleh MH. Menurut Dedi dan kawan-kawannya, Kuwu Situraja sekarang adalah Saca, S.Pd., dipandang mempunyai kecakapan memimpin yang baik. Mereka berharap BUMDes bisa diwujudkan di Desa Situraja atas komado dari Kuwu. Karena masyarakat Situraja pasti mendukung BUMDes untuk kemajuan masyarakat. (untung)

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita