Enter Your Domain Here....

Wednesday, February 15, 2012

Berharap yang Tertunda pun Dilantik

Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah telah melantik 115 orang kuwu terpilih hasil pemilihan umum kepala desa serentak di Kota Mangga pada 7 Desember 2011. Mereka yang dilantik bupati di pendopo antara lain Ropidin Kuwu Desa Arahan Lor Kecamatan Arahan, Aladin Kuwu Desa Linggajati Kecamatan Cantigi, Rinanto Kuwu Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi, Hj. Tumiah Kuwu Desa Rambatan Wetan Kecamatan Sindang, Waskim Sidik Kuwu Desa Jumbleng Kecamatan Losarang, Maman Suparman Kuwu Desa Tugu Kecamatan Lelea, Edi Supriadi Kuwu Desa Tempel Kecamatan Lelea, Sunardi Kuwu Desa Bulak Kecamatan Kandanghaur.
Jumlah kuwu terpilih hasil pilkades serentak di Indramayu seharusnya sebanyak 136 orang kuwu. Namun yang dilantik baru sebagian yaitu 115 orang kuwu. Sisanya, sebanyak 18 orang kuwu terpilih mau tak mau harus lebih bersabar lagi, sebab jadwal pelantikannya terpaksa ditunda. Alasan penundaan pelantikan itu karena kedelapan belas kuwu terpilih tersebut hingga saat ini masih tersangkut masalah yang belum rampung. Sementara itu dua desa di antaranya tidak melaksanakan pilwu sebab tak ada calon yang siap bertanding.
Oleh sebab itu Bupati Hj. Anna Sophanah terpaksa menunda pelantikan 18 kuwu terpilih itu dan hanya melantik 115 kuwu terpilih yang dinyatakan benar-benar mulus atau tidak tersandung persoalan. Pelantikan 115 kuwu di Pendopo Indramayu dihadiri muspida, 31 orang camat, pejabat teras Setda Indramayu, termasuk ribuan keluarga kuwu yang ikut mengiring ke pendopo.
Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah dalam sambutannya mengemukakan, masa jabatan kuwu berdasarkan aturan sekarang ini hanya 6 tahun. Sesudahnya dilakukan pilkades lagi. Ia menyampaikan selamat kepada kuwu baru yang dilantik dan menyatakan terima kasih kepada kuwu lama atas pengabdiannya selama ini.
Wakil Bupati Supendi, saat dihubungi MH usai pelantikan mengakui, 18 kuwu yang tersangkut permasalahan itu pelantikannya ditunda. Sampai situasi masyarakat di desanya kondisif. “Kita tunda dahulu sampai suasana masyarakat desa itu kondusif. Pada akhirnya, mereka pun akan dilantik,” ujar wabup.
Carsiwan (49 tahun), salah seorang warga desa yang kuwunya gagal dilantik mengharapkan, bupati segera melantik jabatan kuwu terpilih. “Sebab,” katanya, “Walapun bagaimana kuwu terpilih itu hasil proses demokrasi masyarakat desa melalui pilkades. Apapun hasilnya, sebaiknya kuwu terpilih itu dilantik secara resmi. Karena setiap kuwu terpilih telah berkorban dan banyak mengeluarkan biaya, tenaga dan pikiran,” ujarnya.
Harapan Carsiwan tidak sia-sia sebab pada Rabu 15 Februari 2012, kedelapan belas kuwu yang pelantikannya tertunda pun dilantik secara resmi di Pendopo Kabupaten Indramayu.
• taryani

Abdul Hakim, S.Pd.I. (Kuwu Desa Pamayahan Kec. Lohbener) Mimpi Dikejar Kang Yance, Prabu Siliwangi, dan Presiden SBY

Proses perjalanan setiap calon kuwu untuk menjadi kuwu sampai menjalani proses pelantikannya oleh Bupati Indramayu memang beragam dan unik. Ada yang terkendala gugatan oleh lawan yang kalah dalam proses pemilihan kuwu, ada yang dituduh berijazah “aspal”, ada yang terpaksa dilantik dalam kondisi masih harus istirahat sehabis dioperasi oleh dokter sehingga dilantik dalam kondisi masih menggunakan kursi roda, dan seterusnya. Salah satu yang juga unik adalah sebab “mimpi-mimpi” yang dialaminya cukup unik, yaitu seperti yang dialami oleh Abdul Hakim, S.Pd.I. yang kini menjadi Kuwu di Desa Pamayahan Kecamatan Lohbener.
Kang A’im, begitu nama pangilan akrabnya, sebelum terpilih sebagai kuwu sempat mengalami tiga kali “mimpi” yang cukup unik. Mimpi itu diceritakannya kepada MH melalui adik kandungnya yang kini menjadi dosen di STIKes Indramayu, Uswatun Hasanah, AM.Keb., SKM.
Pertama, ia bermimpi dikejar-kejar oleh Kang Yance (mantan bupati Indramayu bernama lengkap Dr. Irianto M.S. Syafiuddin). Meskipun Kang A’ing menghindar akhirnya ia kena juga oleh Kang Yance. Mau diapakan? Eh, ternyata mau menyalaminya. Mimpi yang pertama ini terjadi sebelum dirinya mencalonkan diri sebagai calon kuwu untuk Desa Pamayahan. Karena mimpi itu dianggap pertanda baik, maka ia pun mencalonkan diri.
Kedua ia bermimpi ditemui bahkan dirangkul oleh Prabu Siliwangi. Mimpi berjumpa dengan tokoh leluhur Jawa Barat ini pun ditafsirkannya sebagai alamat baik dalam proses pencalonan.
Ketiga, mimpi dipeluk oleh Presiden SBY. Yang terakhir ini konon kejadiannya berlangsung saat Kang A’im berkunjung ke pesantren Benda Ciwaringin di Cirebon.
Ketiga “mimpi”-nya itu akhirnya berbuah kenyataan dengan terpilihnya Kang A’im sebagai pemenang dalam proses pemilihan kuwu (pilwu) di Desa Pamayahan Kecamatan Lohbener. Saat itu secara serentak pilwu dilaksanakan di wilayah Kabupaten Indramayu pada 7 Desember 2011. Di desanya, Kang A’im memperoleh nomor urut 2 saat pilwu. Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) plus pemilih tambahan yang total 3.040 pemegang hak pilih, pemilih yang hadir di TPS berjumlah 2.162. Nomor urut 1 memperoleh suara 237, nomor urut 3 memperoleh suara 525, blanko 36, dan sebagai pemenang, Kang A’im memperoleh suara 1.364.
Seperti para calwu yang lain (114 orang), Kang A’im pun akhirnya dilantik secara remi sebagai Kuwu Desa Pamayahan oleh Bupati Indramayu pada Rabu pagi, 8 Februari 2012 di Pendopo Kabupaten Indramayu.
Saat pelantikan, Kang A’im dilantik bersama “teman-teman baru”-nya (sesama kuwu) dari se-eks Kawedanaan Indramayu. Mereka adalah Sugono Kuwu Desa Plumbon, Hasim Kuwu Desa Pekandangan Jaya, Sahlan Kuwu Desa Singajaya, Iskak Kuwu Desa Pabean Udik, Nono Edi Karnoto Kuwu Desa Pekandangan, dan Abdul Wafa Kuwu Desa Singaraja, H. Tohir Kuwu Desa Penganjang, Nursidin Kuwu Desa Panyindangan Wetan, Hj. Tumi’ah Kuwu Desa Rambatan Wetan, Suryadi Kuwu Desa Rawadalem, Suwarjo Kuwu Desa Balongan, Hj. Siti Marsopah Kuwu Desa Sukareja, H. Wukir Kuwu Desa Sudimampir, Turnaeni Kuwu Desa Panyingkiran Lor, Rinanto Adi Saputra Kuwu Desa Lamarantarung, Rosidi Kuwu Desa Cantigi Wetan, Jaenudin, S.Pd. Kuwu Desa Cemara, Ropidin Kuwu Desa Arahan Lor, Aladin Kuwu Desa Linggajati, Wahono Kuwu Desa Sukadadi, Castana Kuwu Desa Tawangsari, dan H. Juju Juberudin Kuwu Desa Langut.
Ketika hendak dilantik, Kang A’im mengalami hal unik lagi, yaitu kitab suci Al-Qur’an yang sudah dipersiapkan untuk acara pelantikan tertukar. Padalah, kitab yang sudah dipersiapkannya itu merupakan kitab cukup mahal yang dibeli dari Saudi Arabia (sebagai oleh-oleh ibadah haji). Solusinya memang mudah, yaitu mendadak beli. Tapi hal unik pun terjadi lagi, saat pelantikan ia mengucap sumpah dengan Al-Qur’an yang label harganya masih tertempel di jilidnya.
Sepulang dari proses pelantikan ke desanya (Pamayahan) Kang A’im disambut rentetan bunyi petasan. Ucapan selamat dari warga pun bertubi-tubi datang kepadanya, konon hingga malam hari. Hari itu pula Kang A’im melakukan syukuran dengan mengadakan khitanan massal dan pengajian sekaligus menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
“Doa pertama yang saya ucapkan adalah dengan barokahnya maulid nabi besar Muhammad Saw ini jadikanlah saya sebagai kuwu yang amanah, jujur, dan adil,” katanya.
• sayama

Pelantikan Pilwu yang Tertunda

Tidak semua kuwu berkesempatan dilantik pada Rabu 8 Februari 2012 di Pendopo Kabupaten Indramayu sebab mereka masih harus menyelesaikan berbagai persoalan yang “mengganjal” proses perjalanan mereka menjadi kuwu. Menurut informasi, ada sekitar 18 orang kuwu yang masih harus menunggu penyelesaian atas permasalahan yeng “melanda” mereka. Konon, ada yang karena diduga ijazahnya aspal, karena digugat oleh calon kuwu lain yang menjadi pesaingnya, dan berbagai persoalan lainnya.
Dengan diajukan ke pengadilannya berbagai kasus gugatan pemilihan kuwu (pilwu), maka semacam “bola panas” proses penyelesaian perseteruan pun berpindah dari panitia pilwu ke tangan pengadilan. Proses itu diharapkan dapat menghasilkan penyelesaian yang seadil-adilnya yang dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.
Setiap sidang digelar, penjagaan di halaman PN Indramayu oleh aparat kepolisian dilakukan sangat ketat. Ini terjadi sebab kumpulan massa dari para pendukung calwu yang menggugat sangat banyak. Mereka semua ingin memasuki pengadilan. Namun demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka mereka dilarang memasuki pengadilan. Lantas siapa yang boleh memasuki ruang sidang? Demi ketentraman, ditentukan bahwa yang boleh masuk mengikuti sidang hanya mereka yang memiliki surat rekomendasi dari pihak kuasa hukum para penggugat maupun tergugat.
Pada Selasa (3/1/2012), misalnya, disidangkan perkara yang terjadi di enam desa dari enam kecamatan. Keesokan harinya, Rabu (4/1/2012) digelar kembali lima perkara gugatan pilwu di lima desa dari tiga kecamatan. Kelima perkaran pilwu tersebut terdiri dari: nomor perkara 47/Pdt 6/2011/PN.Im yang diajukan oleh Sukatma sebagai buntut pilwu Desa Mekar Gading Kecamatan Kertasemaya, nomor perkara 61/Pdt 6/2011/PN.Im yang diajukan oleh H. Rusnijan sebagai buntut pilwu Desa Singakerta Kecamatan Krangkeng, nomor perkara 56/Pdt 6/2011/PN.Im yang diajukan oleh Muhaemin sebagai buntut pilwu Desa Ujung Gebang Kecamatan Patrol, nomor perkara 51/Pdt 6/2011/PN.Im yang diajukan oleh Hj. Pakori’ah sebagai buntut pilwu Desa Amis Kecamatan Patrol, nomor perkara 50/Pdt 6/2011/PN.Im yang diajukan oleh Hj. Amaria, dkk. sebagai buntut pilwu Desa Patrol Kecamatan Patrol.
Pada siding Rabu (4/1/2012) tampil sebagai ketua majelis hakim Robert Siahaan, S.H. didampingi anggotanya yaitu A. Rahardjo, S.H., Sunarti, S.H., B. Sitorus, S.H., IGN P Bhargawa, S.H., serta Hosiana M.S., S.H., M.H.
Masalah lain cukup banyak sehingga tidak semuanya dapat di-cover oleh MH. Akhirnya, pada Rabu 15 Februari 2012 kedelapan belas kuwu yang tertunda pelantikannya pun dilantik di Pendopo Kabupaten Indramayu. Kepastian itu diterima MH saat undangan pelantikan disebar pada Selasa sore 14 Februari 2012.
 sayama

H. Tarkani AZ (Ketua AKSI) : “Kuwu Baru harus Aktif dalam Kegiatan AKSI”

Dilantiknya 115 orang kuwu hasil pemilihan yang dilaksanakan oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah pada tanggal 8 Februari 2012 lalu memberi optimisme tinggi pada Ketua Asosiasi Kuwu Seluruh Indramayu (AKSI) H. Tarkani AZ. Menurutnya, setelah dilantik maka kuwu baru tersebut secara langsung dan otomatis menjadi anggota baru di dalam AKSI, organisasi wadah bergabungnya seluruh kuwu di Indramayu ini. Sedangkan bagi kuwu yang sudah berhenti maka secara otomatis pula telah berhenti dari keanggotaan AKSI karena menurut Anggaran Dasar dan Rumah Tangga AKSI menyebutkan bahwa keanggotaan AKSI adalah kuwu yang masih menjabat aktif.
“Bagi rekan-rekan kuwu yang baru dilantik secara resmi oleh Bupati dapat secara otomatis menjadi anggota AKSI. Kami menghimbau untuk segera melakukan koordinasi dengan masing-masing koordinator AKSI di tingkat kecamatan. Kami dengan sangat terbuka menerima kehadiran rekan-rekan kuwu dan menungu kiprah dan keaktifannya dalam kegiatan AKSI,” jelas H. Tarkani.
Menurut H. Tarkani, AKSI adalah perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi yang dibangun oleh para kuwu seluruh Indramayu sebagai wadah kerja sama dan kemitraan antar para kuwu sebagai pimpinan desa dengan instansi lain.
“Dalam perjalanannya, AKSI telah mampu menunjukkan produktivitasnya dalam rangka peningkatan, pemerataan dan kesempatan yang sama dalam upaya mensejahterakan masyarakat desa. Bersama AKSI perjuangan masyarakat desa sangat dirasakan manfaatnya, efektif dan efisien. Melalui AKSI pula mayarakat dan pemerintah desa mempunyai posisi tawar dalam perumusan dan aplikasi kebijakan pembangunan,” jelas Kuwu Desa Kebulen tersebut.
Sebagai pemimpin di desa masing-masing, H. Tarkani menghimbau agar para kuwu memiliki loyalitas tinggi terhadap pemimpin daerah (Bupati), Camat dan organisasi AKSI. Mampu menjaga stabilitas dan kondusifitas desanya masing-masing dan mampu menjaga kekompakan dan kesolidan dengan sesama anggota AKSI.
“Jika ada orang yang beranggapan bahwa AKSI hanya alat untuk melindungi diri dan melayani kepentingan kuwu atas jabatannya semata, kami tegaskan hal itu tidak benar. Kami menyatakan bahwa AKSI adalah milik masyarakat Indramayu yang siap membantu pmerintah untuk membangun daerah Indramayu yang kita cintai ini,” tegas H. Tarkani.
• pitrahari

Iwan Kaswan (Petani Desa Bulak Kandanghaur) Hapus Perbedaan, Mari Bersatu untuk Membangun

UNGKAPAN rasa bahagia menyelimuti sebagian besar masyarakat desa di Kabupaten Indramayu, atas dilantiknya para Kuwu yang baru terpilih. Ucapan selamat juga diungkapkan oleh Iwan Kaswan, salah seorang petani di Desa Bulak Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, atas dilantiknya seluruh Kuwu di Kabupaten Indramayu. Lebih khusus ia memberikan ucapan selamat kepada Sunardi, Kuwu terpilih di desanya.
Harapan Kaswan, selaku masyarakat, di kemudian hari desanya akan semakin maju dan terus membangun untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Untuk bagian masyarakat yang calonnya tidak terpilih diharapkan ‘legowo’, wajar dalam suatu kompetisi demokrasi perjadi perbedaan,” ungkap Kaswan. “Sekarang Kuwu terpilih telah dilantik, bagaimanapun, siapapun beliau adalah Kuwu kita bersama,” tambahnya.
Berbagai pesan-pesan untuk kuwu terpilih diungkapkan oleh pria berumur 43 tahun ini. Di antaranya yaitu berbagai macam pelayanan desa untuk masyarakat pendukung maupun non pendukung diharapkan tidak dibeda-bedakan, serta dapat merangkul semua elemen masyarakat desa yang punya potensi untuk menggali potensinya demi pembangunan desa.
Begitu juga masyarakat pendukung maupun non pendukung Kuwu terpilih sepatutnya dapat menghapuskan segala perbedaan pasca pilwu. Di era demokrasi menjadi suatu kewajaran apabila di antara masyarakat timbul perbedaan pendapat. “Dengan Kuwu terpilih yang telah dilantik oleh Ibu Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah ini besar harapan untuk dapat menjadikan desa yang baik menjadi lebih baik. Semua elemen masyarakat diharapkan patut menunaikan kewajibannya sebagai masyarakat, yang tentunya ikut pro aktif pada program-program Pemerintahan Desa yang dipimpin Kuwu terpilih,” komentar Kaswan.
Komentar Kaswan senada dengan rekannya, Murjani. “Mustahil pembangunan bisa terwujud tanpa dukungan dari masyarakat, mari bahu-membahu membangun desa bersama Kuwu terpilih,” kata Murjani kepada MH.
• rofi

Serah Terima Jabatan Kuwu di Kecamatan Indramayu

Sehari setelah dilantik secara serempak oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah pada hari Rabu tanggal 8 Rebruari 2012 di pendopo Raden Bagus Arya Wiralodra, maka pada hari Kamis (9/2/2012) para kuwu langsung melakukan serah terima jabatan dari pejabat kuwu lama ke pejabat kuwu yang baru. Acara serah terima dilakukan di masing-masing kecamatan. Seperti yang terjadi di Kecamatan Indramayu, dari enam desa yang sukses melaksanakan pemilihan kuwu, lima di antaranya segera melakukan serah terima jabatan. Kuwu kelima desa tersebut adalah Plumbon dari Kuwu Tawi ke Kuwu Sugono, Pekandangan Jaya (Suwandi ke Hasim), Singaraja (Saefudin ke Abdul Wafa), Singajaya (H. Muasir ke Sahlan) dan Pabean Udik (M. Alwi ke Ishak). Acara serah terima jabatan kuwu disaksikan oleh Muspika Kecamatan Indramayu, para Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) masing-masing serta para tokoh masyarakat. Sedangkan Desa Pekandangan akan melakukan serah terima jabatan setelah proses pendataan aset desanya selesai dilakukan.
Sebelum dilaksanakan serah terima jabatan dilakukan pelantikan pejabat Ketua Tim Penggerak PKK tingkat desa oleh Ny. Neneng Hayati Dudung selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Indramayu. Setelah dilantik para ketua Tim Penggerak PKK tersebut langsung melakukan serah terima jabatan pula. Kegiatan tersebut juga berbarengan dengan pisah sambut pejabat Kapolsek Kota antara pejabat Lama AKP. H. Agus dengan Kapolsek yang baru, AKP Juharini, S.H.
Dalam sambutannya Camat Indramayu, Dudung Indra Ariska, S.H., M.H. mengatakan sebagai pimpinan di desa kuwu harus melayani semua rakyatnya tanpa kecuali baik ia pendukung ataupun bukan pendukung pada saat pemilihan yang lalu. Para kuwu harus bersikap adil dan bijaksana tanpa pandang bulu dalam melakukan pelayanan karena kuwu adalah bapak masyarakat. Kuwu juga jangan segan untuk menimba ilmu dari pejabat kuwu lama karena mereka telah berpengalaman memimpin.
“Para kuwu harus mampu membangun silaturahmi yang kokoh dengan seluruh unsur yang ada di desa. Tingkatkan dan bangun kebersamaan dengan masyarakat dalam pembangunan. Tingkatkan kualitas pelayanan. Dapat mensukseskan program-program pembangunan. Bersikap terbuka dan jangan menutup diri terhadap masukan dan saran dari masyarakatnya. Rakyat berhak menyampaikan aspirasinya serta jangan merasa hebat sendiri,” jelas Dudung.
Mengenai penataan aparatur desa, Dudung menghimbau agar para kuwu baru jangan tergesa-gesa melakukan perombakan jabatan aparatur pemerintah desa. Selalu berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya dan jangan sampai terjebak sikap koruptif dan terlibat permasalahan hukum.
Kepada para mantan kuwu, Dudung menyampaikan rasa terima kasihnya atas darma baktinya selama masa jabatannya. Ia mengaku merasa terbantu dalam melaksanakan program-program pembangunan di kecamatan Indramayu ini.
“Meski kuwu lama sudah tidak menjabat lagi saya mengharapkan agar dapat tetap terjalin hubungan komunikasi dan silaturahmi yang baik seperti yang sudah terbangun selama ini. Secara pribadi kami selalu terbuka untuk kedatangan silaturahmi dari para mantan kuwu,” jelas Dudung.
• pitrahari

Menahan Sakit… Sukanda Tergeletak di Pendopo

Seharusnya.... pelantikan kuwu yang berlangsung pada Rabu (8/2/2012) menjadi saat yang berbahagia bagi para kuwu yang baru saja dilantik. Karena pada pelantikan itu para kuwu dengan berwibawa menyandang pakaian kebesaran dan berdiri dengan gagah. Namun hal ini berbeda dengan yang dialami oleh Sukanda Siswoyo Kuwu Desa Gabus Kulon Kecamatan Gabuswetan. Pelantikan itu harus dilaluinya dengan tergeletak di atas kursi roda.
Situasi ini harus dilaluinya, karena beberapa hari sebelum pelantikan dirinya harus melakukan operasi usus buntu di salah satu rumah sakit. Sebetulnya, saat pelantikan itu dirinya masih harus bersistirahat total di tempat tidur dan tidak melakukan aktivitas. Akan tetapi, karena pelantikan itu merupakan moment yang sangat sakral bagi dirinya dan keluarganya, bahkan masyarakat yang mendukungnya, jadilah ia tetap berangkat ke Pendopo Raden Bagus Aria Wiralodra Pemkab Indramayu dengan menahan rasa sakit.
Sesampainya di pendopo, dirinya juga masih harus menahan rasa sakit karena posisi duduk yang tidak nyaman meskipun sudah berada di kursi roda ditambah dengan situasi yang kurang nyaman karena banyaknya masyarakat yang memadati pendopo. Namun hal ini tidak mengurangi rasa semangatnya untuk mengikuti pelantikan tersebut. Ditambah lagi pelantikan harus ditunda karena harus dilakukan gladi bersih oleh protokol.
Alhasil, ketika pelantikan berlangsung dan para kuwu harus berdiri, dirinya hanya bisa duduk dengan dibantu salah seorang kerabatnya. ”Meskipun masih terasa sakit, tapi saya tetap ingin menghadiri pelantikan tersebut. Ini merupakan kebangaaan tersendiri buat saya meskipun kondisi saya masih sakit,” katanya.
• deni

Hedi Susanto (Kuwu Haurkolot Haurgeulis) Mengutamakan Kepentingan Masyarakat

MENJADI kuwu adalah impian sebagian orang di Indramayu. Jabatan yang membuat si penyandang dihormati oleh masyarakat desa. Untuk meraih jabatan itu, bukan ratusan ribu tapi ratusan juta uang digunakan untuk memuluskan jalan meraih angan-angan. Padahal secara ekonomi, jabatan kuwu itu sangat tidak menjanjikan uang itu akan kembali. Yang penting menang yang penting dipanggil pak kuwu yang penting dihormati sebagai orang pertama di suatu desa. Jadi, kalau dilihat alasannya menjadi kuwu seperti itu berarti tidak bertujuan untuk membangun desa.
Berbeda bagi Hedi Susanto, kuwu terpilih Desa Haurkolot Haurgeulis. Dia tidak pernah bercita-cita menjadi kuwu. Selepas sekolah dia malah asyik berwirausaha di Bekasi. Orang tuanya yang meminta Hedi nyalon kuwu dengan harapan bisa membangun Desa Haurkolot. Apa mau dikata, Hedi tidak mungkin menolak permintaan orang tua. Ternyata Hedi terpilih menjadi kuwu, serasa mimpi, bangga, tapi juga merasa memiliki beban berat karena harus membangun Desa Haurkolot.
“Saya tidak ingin ngomong macam-macam takut menjadi fitnah. Sebagai seorang kuwu, setelah dilantik dan Sertijab, saya hanya akan bekerja sebaik mungkin bersama para Pamong Desa Haurkolot. Kepada masyarakat Desa Haurkolot saya mengajak mari bersama-sama berjuang membangun Desa Haurkolot,” pinta Hedi kepada segenap masyarakat Haurkolot.
Ditemui MH di rumahnya, Hedi yang baru saja sampai dari Indramayu mengikuti pelantikan kuwu, nampak agak kelelahan. Tapi, sebagai kuwu terpilih yang sedang menjadi kebanggaan, Hedi tidak tega membuat famili, kader, dan beberapa masyarakat kecewa untuk memenuhi keinginan mereka berkali-kali berphoto bersama. Yah begitulah pak kuwu, menjadi kuwu berarti menjadi abdi masyarakat, yang terkadang menomor sekiankan kepentingan pribadi tapi justru mengutamakan kepentingan masyarakatnya. Untuk hal itu, Hedi sudah siapkan diri demi kemajuan Haurkolot tercinta.
 untung

Pamong Desa Sidamulya Bongas Kuwu Terpilih Harus Menepati Janji Kampanye

PAMONG Desa Sidamulya sudah tidak sabar ingin dipimpin oleh kuwu terpilih Sobana. Kalau bisa mereka ingin langsung mengadakan Sertijab pada sore hari setelah pagi harinya Sobana dilantik Bupati Indramayu. Tapi keinginan itu sepertinya tidak akan kelakon karena dipastikan Sobana kecapean setelah mengikuti pelantikan di pendopo bupati Indramayu. Selain itu, persiapan Sertijab belum dipersiapkan dengan baik.
“Bagaimana tidak ingin segera dipimpin kuwu baru, selama ini bekerja seperti pincang karena pamong desa tidak lengkap. Dengan kuwu baru semua itu bisa diatasi. Ketertiban administrasi dan kedisiplinan pamong desa juga pasti akan jadi baik bila kuwu baru mulai bekerja. Suasana baru yang lebih baik dan bersemangat sangat kami harapkan,” tutur Sekdes Sidamulya, Sujono, S.E.
“Saya sih orang tua, keinginan saya kuwu terpilih menghargai orang tua yang ada di Desa Sidamulya. Biar kuwu baru selalu didoakan oleh para orang tua di sini. Kalau pembangunan infrastruktur, saya ingin segera dibangun sandaran jalan supaya jalan tidak cepat rusak,” pinta Kasmuri, Satgas Hansip Desa Sidamulya.
“Bekerja dengan penuh amanah agar menjadi kuwu yang diteladani dan dicintai masyarakat Desa Sidamulya adalah harapan saya pada kuwu terpilih. Singkatnya kuwu terpilih harus menepati janjinya ketika kampanye Pilwu,” pinta Karsim, anggota BPD Desa Sidamulya.
Masyarakat Desa Sidamulya pasti ingin desanya maju. Untuk meraih kemajuan yang diinginkan mesti ada sinergi yang baik antara masyarakat dan pamong desa. Di sinilah Sobana diharapkan mampu memimpin masyarakat dan pamong desa meraih tujuan bersama bernama kemajuan desa.
 untung

Sobana (Kuwu Sidamulya Bongas) Kuwu Harus Berkorban Dulu

MEMANG pendidikan formal Sobana hanya lulusan SMP. Tapi dia mempunyai pengalaman sebagai pamong desa yaitu sebagai lurah, yang berarti dia tidak akan taktak-tuktuk memimpin Desa. Dia juga sukses berwiraswasta sebagai pedagang barang-barang elektronik yang berarti dia pandai bekerjasama dan mengatur keuangan. Tapi semua itu nampak tidak terlalu istimewa. Tapi jika sudah berbicara dengan suami Ruhayati dan ayah dari dua orang anak yang berusia 42 tahun ini, akan terlihatlah keistimewaannya, hingga bisa dikata masyarakat Desa Sidamulya tidak salah memilihnya sebagai kuwu. Sobana rela berkorban untuk desanya tercinta. Itulah salah satu keistimewaan Sobana.
Jabatan Lurah polisi dan Raksabumi telah kosong jauh sebelum diadakan Pilwu. Melengkapi struktur pamong desa adalah hal yang akan Sobana lakukan, setelah itu Sobana akan menyamakan visi dan misi pamong desa agar semuanya kompak dan disiplin melayani masyarakat Desa Sidamulya.
“Setelah pembenahan struktur pamong desa, saya akan segera memperbaiki kantor balai desa. Kantor balai desa gentengnya sudah pada bocor dan kurang membuat nyaman pamong desa bekerja. Karena belum ada dana, ya pakai uang pribadi milik saya. Ya mau bagaimana lagi? Kalau menunggu desa memiliki uang untuk membangun balai desa, tidak tahu kapan akan punya uang. Jadi, kuwu harus berkorban dulu,” ujar Sobana yang MH temui di Balai Desa Sidamulaya sehari sebelum pelantikan kuwu.
Sobana juga mengungkapkan keinginannya ingin membangun Desa Sidamulya agar kembali berprestasi. Dulu Desa Sidamulya pernah menjadi desa terbaik se-Kabupaten Indramayu. Prestasi itu ingin Sobana ulangi kembali. Oleh karena itu Sobana memohon doa restu kepada masyarakat Desa Sidamulya. Bukan hanya doa restu, masyarakat desa Sidamulya juga harus membantu Sobana dengan segala daya agar Desa Sidamulya kembali berprestasi menjadi desa terbaik. Amin.
 untung

Suma’i (Kuwu Babakanjaya Gabuswetan) Tidak Punya Program 100 Hari

TUJUH Desember 2011, Sama’i meraih suara 1.496 yang berarti mengalahkan dua kandidat kuwu Babakanjaya lainnya yang meraih suara 900 dan 600 suara. Hari Selasa, 8 Pebruari 2011, Sama’i dilantik sebagai Kuwu Babakanjaya di Pendopo oleh Bupati Indramayu. Tapi Sama’i belum dapat duduk sebagai kuwu di Babakanjaya karena harus mengikuti satu ceremony lagi yaitu serah terima jabatan kuwu dari kuwu mantan kepada dirinya. Acara Sertijab ini akan segera dilaksanakan dan sedang dalam tahap persiapan agar Sertijab khidmat dan lancar.
“Setelah Sertijab nanti, saya akan bekerja sebaik-baiknya, mengalir seperti air sesuai dengan situasi dan kondisi. Saya tidak mempunyai program seratus hari awal kerja karena saya ingin seluruh hari-hari dalam masa bakti saya sebagai kuwu adalah kerja yang prima. Target yang saya benahi terlebih dulu adalah struktur pamong desa, pembenahan di sini agar disiplinnya meningkat dalam melayani masyarakat. Selanjutnya saya ingin juga memperjuangkan pembangunan infrastruktur jalan agar angkutan hasil tani dan kegiatan bisnis lainnya lancar. LPM, BPD, Karang Taruna, tempat pembayaran listrik, penerangan jalan, hingga pembuatan irigasi ingin saya benahi juga,” kata Suma’i optimis.
Menurut Suma’i etos kerja kuwu Babakanjaya terdahulu sudah bagus. Justru karena itulah Suma’i merasakan tantangan yang cukup berat. Setidaknya dia harus sama baiknya dengan kuwu terdahulu, jika bisa malah harus lebih baik karena itu berarti pembangunan di Desa Babakanjaya tidak mandeg alias maju. Kemajuan pembangunan di segala bidang di Desa babakanjaya adalah harapan segenap masyarakatnya. Harapan itu kini dipercayakan kepada kuwu baru Suma’i yang Insya Allah amanah mengemban harapan masyarakatnya.
untung

Para Kuwu Rebutan Anna Sophanah

Mungkin banyak dari 115 kuwu terpilih, yang baru saja dilantik menginjakkan kakinya di Pendopo Indramayu, bahkan mungkin juga banyak yang baru pertama kali melihat sosok Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah. Kemungkinan itu tercermin dari berebutnya para kuwu untuk berebut foto dengan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah seusai mereka dilantik secara sah untuk menjadi seorang kuwu.
Tentu saja, kejadian ini membuat kikuk Bupati Indramayu, meskipun sebagai pejabat publik Anna Sophanah sudah terbiasa dengan jepretan kamera baik dari wartawan maupun masyarakat umum. Namun karena begitu banyaknya para kuwu yang ingin berfoto secara satu per satu hal ini membuat kesulitan dan menyita banyak waktu. Bahkan, sesekali para kuwu yang terlihat tinggi besar terkadang menarik tangan Anna Sophanah yang lentik itu.
Awal mulanya para kuwu menginginkan berfoto di ruang Pendopo Raden Bagus Aria Wiralodra, namun karena semakin banyaknya kuwu yang ingin foto dan berebut serta kondisi yang tidak teratur. Anna Sophanah akhirnya mengakomodir mereka dengan memberikan ruang dan kesempatan untuk berfoto di ruang Nyi Endang Dharma secara satu per satu. Akhirnya dengan secara bergiliran para kuwu dan istri bisa berfoto bersama dengan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah dengan Wakil Bupati Drs. H. Supendi, M.Si.
Sementara itu Unggul Baniaji, Kuwu Desa Cikedung Lor Kecamatan Cikedung, mengatakan, berfoto bersama dengan Bupati Indramayu merupakan kesempatan langka apalagi hal ini merupakan pertama kalinya ketika menjabat menjadi kuwu. “Tadinya saya pikir akan susah berfoto dengan bupati, namun beliau ternyata sangat familier,” kata Beni sapaan akrabnya.
• deni

Kuwu Jabatan Terhormat

Jabatan seorang kuwu merupakan jabatan terhormat. Betapa tidak, untuk menduduki jabatan tersebut ditempuh dengan perjuangan amat berat. Bukan hanya tenaga, pikiran, dan uang, tetapi juga menanamkan kepercayaan begitu lama terhadap masyarakat. Karena terhormatnya jabatan kuwu itu, meski sudah purna tugas nama sandangan kuwu masih terus melekat selama lamanya.
Bukan hanya terhormat, kuwu tidak hanya sekedar mengabdi memimpin desanya Ia telah diberi kesejahteraan dan penghasilan cukup lebih lumayan, berupa tanah bengkok. Ditambah penghasilan lainnya berupa tunjangan pemerintah, dan uang jasa lainnya. Untuk mengurus lembaganya telah dibiayai dari asset desa berupa tanah titisara dan asset desa lainnya
Seorang kuwu mendapatkan dana bengkok sekitar empat hektar. Jika disewakan selama setahun memperoleh sebesar Rp 60 juta. Jika ditanam sendiri sekitar Rp 100 juta. Jika dirata-ratakan mendapatkan upah antara Rp 6 juta s.d. Rp 8 juta per bulan. Penghasilan sebesar ini jauh lebih besar ketimbang gaji yang diterima pegawai negeri (PNS) golongan IV/b.
Kuwu tak hanya memperoleh penghasilan dari tanah bengkok, di luar itu banyak pemasukan dari bidang jasa. Seperti jasa pembuatan akte jual beli tanah, izin mendirikan bangunan (IMB), izin usaha, sertifikat, dll., belum ditambah tunjangan lainnya.
“Selama hampir 18 tahun mejabat kuwu, Alhamdulillah saya sudah mampu mendirikan rumah, tanah, sawah, bisnis kecil-kecilan, membiayai anak kuliah, dll.,” kata Edi Junaedi, S.H., M.Si., Kuwu Bulaklor. Bahkan ia pun telah mampu menempuh kuliah hingga memnperoleh strata dua (S2).
Untuk meraih sukses seperti itu, Edi mengaku banyak sekali tantangannya. Salah satunya adalah menangkal “penyakit kuwu”, seperti main wanita, judi, minuman keras, spekulasi, dll. Karena mengaku menjauhi penyakit tersebut, maka imbalan yang dieroleh selama menjadi kuwu benar-benar telah dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga.
Tugas seorang kuwu memang berat. Kerja tidak dibatasi dengan jam kerja. Kebutuhan pelayanan bagi masyarakat datang tak mengenal waktu. Seperti membantu warga sakit, kasus kriminalitas, pertengkaran rumah tangga, pelayanan sosial, dll.
“Kita tidak hanya mempimpin pemerintahan, tugas kemasyarakatan dan urusan adat harus dilayani dengan baik pula,” kata Edi yang sekarang aktif menjadi dosen di Unwir, menjabat kuwu sejak tahun 1995 dan akan berakhir 2013 mendatang.
Edi mengaku melaksanakan tugas kuwu dengan seoptimal mungkin, telah dirasakan pada dirinya. Terbukti pada periode pertama menjabat ia telah mampu menbuktikan kepada masyarakat membangun desanya di segala bidang. Kemudian pada pemiliahn kedua kalinya Edi bertanding bumbu kosong dan meraih dukungan mutlak.
Karena mampu memenej keuangan, jika telah purna tugas nanti, Edi mengaku tak akan kehilangan mata pencaharian. Bahkan jika peraturan membolehkan ikut pemilihan kuwu, Edi yakin akan terpilih lagi untuk periode ketiga kalinya.
Edi prihatin jika ada mantan kuwu lantas hidupnya terpuruk, dan hidup melarat. Padahal kuwu mendapat upah setimpal dan mendapat penghasilan cukup lumayan. Ternyata bagi mantan kuwu yang demikian, mereka itu yang tak mampu memenej keuangan di rumah tangganya maupun tidak baik dalam memimpin desanya.
Ketika ditanya, benarkah seorang kuwu harus banyak mengeluarkan dana untuk kepentingan pelayanan masyarakat? Edi mengatakan, betul. Namun dana tersebut tersedia pada anggaran pendapatan belanja desa (APBD) yang sudah disepakati Badan Perwakilan Desa (BPD). Sumber dana tersebut diperoleh dari asset desa yaitu tanah titisara. • undang

Sertijab Kuwu di Kecamatan Losarang

Setelah dilantik Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah di Pendopo Pemkab Indramayu, keesokan harinya tepatnya enam orang kuwu baru di Kecamatan Losarang serentak menggelar acara serah terima jabatan dari kuwu lama di gedung serba guna KPRI Bina Mitra.
Serah terima jabatan kuwu disaksikan Sekmat Losarang Dodi Tisna beserta istri mewakili Camat Losarang Daryono, Kapolsek Losarang Kompol Asep Wawan, dan Wakil Danramil Losarang Peltu H. Nano.
Usai serah terima jabatan para kuwu itu, acara dilanjutkan dengan serah terima jabatan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Rajaiyang, Krimun, Santing, Jumbleng, Pegagan, dan Losarang yang dijabat para istri kuwu yang baru.
Keenam kuwu se-Kecamatan Losarang yang menerima penyerahan jabatan dari kuwu lama itu masing-masing Kaman Kuwu Rajaiyang dari pejabat lama Karnadi. Darnoto Kuwu Krimun menerima penyerahan jabatan dari mantan kuwu Dadi Efendi.
Karman, Kuwu Santing, menerima penyerahan jabatan dari kuwu lama, Tursikam. Waskim Sidik, Kuwu Jumbleng, dari pejabat sementara kuwu lama, Saluki. Caska, Kuwu Pegagan, memperoleh penyarahan jabatan dari kuwu lama, Cartiwan. Arifin, Kuwu Losarang, mempeorleh penyerahan dari kuwu lama, Catimin.
• taryani

Hj. Tumi’ah (Kuwu Rambatan Wetan) “Siap Rangkul Lawan”

“Terharu!” Itulah kata pertama yang diucapkan oleh Hj. Tumi’ah sebagai Kuwu Desa Rambatan Wetan Kecamatan Sindang setelah dilantik secara resmi oleh Bupati Indramayu. Tentu saja dirinya sudah mempersiapkan saat-saat seperti ini sebagai pemimpin baru di desanya.
Meskipun sebagai seorang perempuan, dirinya membuktikan bisa bersaing dengan kaum laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan kemenangannya pada pemilihan kepala desa dua bulan yang lalu. Memperbaiki kehidupan masyarakatnya menjadi satu komitmen selama dirinya mempimpin 6 tahun ke depan. Melakukan pembangunan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat yang ada di desanya merupakan impiannya selama ini. Sebab masyarakat Desa Rambatan Wetan adalah masyarakat yang gemar dalam melakukan pembangunan.
Untuk menjaga kondusifitas daerah, dirinya juga siap merangkul lawan yang pada pemilihan kuwu sebelumnya menjadi seteru bagi dirinya. “Insya Allah saya akan rangkul lawan, dan mereka semua merupakan teman-teman saya dan menjadi warga masyarakatnya. Merangkul lawan adalah salah satu cara untuk bisa hidup nyaman baik sebagai pribadi maupun sebagai kuwu dalam menjalankan pemerintahan,” katanya.
Hj. Tumi’ah menambahkan, apa yang diinginkan oleh Bupati Indramayu agar para kuwu memahami administrasi pemerintahan dan juga merangkul lawan merupakan hal yang wajar sebagai pimpinan daerah. Untuk itu dirinya mencoba untuk menjalankan dan segera berkoordinasi dengan instansi yang ada di atasnya maupun dengan perangkat desa yang lainnya.
“Saya meminta dukungan dari semua pihak, apalagi warga masyarakat Desa Rambatan Wetan. Insya Allah saya akan mengemban amanah yang diberikan kepada saya,” tegas Hj. (deni)

Kuwu Harus Paham Administrasi Pemerintahan

“80 persen bupati/walikota di Indonesia yang terkena kasus hukum adalah karena melakukan kesalahan administrasi. Untuk itu agar hal ini tidak terjadi pada kita semua, para kuwu di Indramayu yang baru saja dilantik untuk bisa memahami administrasi pemerintahan”.
Pernyataan tegas ini disampaikan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah di hadapan 115 kuwu yang baru saja dilantiknya. Perintah orang nomor satu di Indramayu ini sangatlah wajar, mengingat banyaknya pejabat yang terkena kasus hukum dan diharapkan tidak terjadi di Indramayu apalagi menimpa para kuwu yang baru saja dilantik dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda tersebut.
Memahami administrasi pemerintahan selain bisa menghindarkan diri dari kasus hukum juga merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Kewajiban dan larangan bagi seorang kuwu yang sesuai dengan undang-undang juga harus dipahami sehingga kredibilitas kuwu di tengah masyarakat bisa diandalkan.
Perintah lain yang harus segera dikerjakan oleh seorang kuwu adalah berkoordinasi dengan perangkat desanya untuk mempelajari permasalahan yang ada di wilayah tugasnya masing-masing, serta mencari upaya pemecahan masalah yang ada di desanya. Selain itu koordinasi juga harus dilakukan dengan desa dan instansi terkait lainnya mengenai pelaksanaan tugas kedinasan yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama antardesa atau antara desa dengan instansi lain.
“Seorang kuwu juga harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat dan BPD, serta memberikan pelayanan prima kepada masyarakat tanpa pandang bulu. Selama ini banyak keluhan tentang pelayanan kuwu dan aparat desa yang tidak maksimal dalam memberikan pelayanan. Oleh karena itu sebagai kuwu baru, saudara harus bisa merubahnya dan meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat yang saudara pimpin,” tegas Anna Sophanah.
Kuwu bukan hanya simbol semata atau bukan hanya menjalankan kegiatan yang rutin saja, namun juga harus mampu menyusun program kegiatan yang dapat berguna bagi masyarakat setempat dan menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang telah ada, seperti karang taruna, PKK, dan kegiatan lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut tentu saja harus disesuaikan dengan potensi desanya masing-masing, serta harus mampu untuk menjalin hubungan yang baik dengan desa lainnya agar konflik horizontal yang rawan terjadi antar masyarakat desa dapat dihindari.
Anna Sophanah menambahkan, tugas berat lain seorang kuwu di era saat ini adalah menumbuhkembangkan kembali tradisi berswadaya dalam pelaksanaan pembangunan sebab pembangunan tanpa dukungan swadaya masyarakat tidak akan maksimal. Swadaya masyarakat juga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap desanya.
Selain kepada kuwu, orang nomor satu di Indramayu ini juga berharap kepada seluruh masyarakat desa untuk dapat mendukung kuwu terpilih dengan sepenuh hati, karena keberhasilan dalam pembangunan desa membutuhkan kerja keras dan kerja sama dari semua pihak.
Di akhir sambutannya, Bupati Indramayu menyampaikan terima kasih kepada para kuwu yang telah mengabdikan dirinya dan telah habis masa jabatannya, dan kepada panitia pemilihan kuwu yang telah bekerja keras mensukseskan pesta demokrasi di desanya. Sementara itu untuk kuwu yang pelantikannya tertunda karena proses hukum yang belum selesai, diharapkan bersabar hingga prosesnya selesai dengan tuntas.
deni

Pesan Bupati Indramayu: “Uang Raskin Jangan untuk Sawer”

Pemerintah Kabupaten Indramayu di tahun 2012 ini kembali menyalurkan Program Beras Keluarga Miskin (Raskin) bagi masyarakatnya. Akan tetapi dalam pengelolaanya diharapkan benar-benar tepat sasaran, tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, tepat harga, dan tepat administrasi. Bahkan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah menegaskan bahwa uang hasil penjualan beras yang berada di kuwu jangan digunakan untuk sawer.
Hal itu ditegaskan ketika memberikan sambutan dalam program peluncuran raskin tahun 2012 di aula Wisma Haji, Selasa (14/2/2012) di hadapan ratusan kuwu, lurah dan camat se-Kabupaten Indramayu.
Selain penggunaan uang yang harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, maka para kuwu, lurah, dan camat agar mempedomani petunjuk teknis program raskin tahun 2012 sebagai acuan pelaksanaan program raskin di Indramayu, kemudian segera menindaklanjuti keputusan Bupati Indramayu Nomor 501/kep.95-perek/2012 tentang penetapan jumlah rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM), besarnya alokasi, dan harga penjualan beras keluarga miskin Kabupaten Indramayu tahun 2012.
Pada kesempatan itu bupati juga menugaskan anggota tim raskin kecamatan dan pelaksana distribusi raskin kelurahan/desa untuk senantiasa melaksanakan pemantauan distribusi raskin serta melakukan pemeriksaan terhadap kualitas dan kuantitas raskin yang disalurkan kepada penerima manfaat, serta segera melakukan tindakan administratif secara tegas dan melaporkannya kepada bupati apabila ditemukan adanya penyimpangan dalam penyaluran raskin.
“Saya tidak ingin di tahun 2012 ini ada kuwu, lurah, dan camat yang terkena proses hukum karena masalah raskin seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini dalam pengelolannya harus lebih baik lagi, mari kita berikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat kita” ajak bupati.
Sementara itu, program raskin untuk tahun 2012 ini jumlah rumah tangga penerima manfaat (RTS-PM) sebanyak 169.720 RTS-PM. Jadi masih sama dengan tahun sebelumnya.
• deni

PT Jiwasraya (Persero) Pusat Tawarkan Kerjasama dengan KORPRI Indramayu

Perusahaan nasional ternama yang bergerak dalam bidang asuransi yakni P.T. Jiwasraya (Persero) Pusat, belum lama ini, mengunjungi KORPRI Indramayu guna menawarkan kerjasama dalam bidang asuransi untuk menjamin kesejahteraan para pegawai anggota KORPRI. Rombongan dipimpin oleh Leonard Tambunan (Kepala Divisi Pemasaran) didampingi Hotman David (Kepala Seksi Pemasaran) dan Yuni (Manajer Area). Hal ini menjadi suatu bukti bahwa pengelolaan manajemen keuangan KORPRI yang handal dan sehat telah menjadi daya tarik kuat banyak pihak untuk mengikat kerjasama. Rombongan diterima oleh Drs. H. Munjaki, M.Si., Drs. H. Sugino, M.M., Drs. H. Mujahid D.N. dan Dra. Hj. Dede Setiawati bertempat di sekretariat gedung Abdi Negara KORPRI belum lama ini.
Menurut Leonard Tambunan mengikuti program asuransi di P.T. Jiwasraya (Persero) dijamin pasti aman karena sahamnya 100 persen dimiliki oleh negara sehingga tidak ada kekhawatiran akan bangkrut. Secara spesifik ia menuturkan bahwa jika mengikuti program asuransi di Jiwasraya bagi para pegawai dari tahun pertama hingga pensiun akan mendapatkan keuntungan lebih dari empat kali lipat dari jumlah nominal uang yang masuk premi setoran. Dengan asumsi mengikuti asuransi Jiwasraya selama 480 bulan sejak diangkat menjadi pegawai dengan setoran premi Rp 50.000/bulan (total Rp 24.000.000) maka dipastikan akan mendapat total nominal sebesar Rp 109.500,00. Selain persyaratan pendaftarannya mudah, mengajukan klaimnya pun mudah, dan prosesnya cepat. Secara khusus, Leonard menawarkan produk asuransi yang bernama Siharta (Asuransi Hari Tua) yang sangat menguntungkan karena ada tunjangan kematian dan kecelakaan maupun tanggungan biaya pengobatan.
Mendengar penjelasan yang padat dan jelas tersebut pengurus KORPRI melalui H. Munjaki menyatakan bahwa program asuransi yang ditawarkan oleh P.T. Jiwasraya tersebut sangat menarik dan akan dibahas di tingkat pengurus sebelum ditawarkan kepada para anggota.
“Kalau diperhatikan dari perhitungan nominal dan keuntungannya, program yang ditawarkan P.T. Jiwasraya ini sangat menarik dan mendatangkan manfaat. Namun demikian kami akan bahas terlebih dulu di tingkat pengurus karena banyak hal harus dipertimbangkan mengingat masa kerja para pegawai di Indramayu sangat beragam. Bagi pegawai yang baru diangkat menjadi PNS mungkin tidak jadi masalah. Tapi bagaimana bagi pegawai yang akan pensiun dalam waktu dekat. Apakah pihak asuransi mau menanggungnya?” jelas H. Munjaki.
H. Munjaki menjelaskan, selama ini KORPRI Indramayu mengemban misi sosial yang tinggi dan sangat membantu dalam meringankan beban para anggotanya. Hal ini sangat nampak pada program-program santunan yang diberikan KORPRI kepada anggotanya.
“Bagi PNS anggota KORPRI yang menikah pertama kali mendapat bantuan Rp. 500.000,00. Jika keduanya adalah PNS maka menerima bantuan Rp 1 juta. Bagi persalinan anak pertama proses normal menerima bantuan Rp 750.000,00 sedangkan yang cesar Rp 1.500.000,00. Bagi yang terkena musibah sakit dan dirawat minimal selama tiga hari mendapat bantuan Rp 500.000,00 sedangkan yang terkena operasi/cacat menerima bantuan Rp 1 juta. Bagi anggota yang meninggal dunia mendapat bantuan Rp 2 juta ditambah kadeudeuh pensiun Rp 15 juta. Bagi PNS yang mutasi ke luar wilayah Kabupaten Indramayu menerima bantuan Rp 500.000,00 ke luar provinsi Rp 1 juta dan ke luar pulau Jawa menerima bantuan Rp 2 juta. Bagi putra-putri PNS yang berprestasi juga menerima bantuan yang besarnya tingkat kabupaten Rp 500.000,00 tingkat provinsi Rp 1 juta dan tingkat nasional Rp 1,5 juta. Bagi PNS yang pensiun normal menerima bantuan Rp 15 juta. Sedangkan yang pensiun dini disesuaikan dengan lama masa kerjanya yaitu 0-10 tahun (Rp 5 jt), 10-20 tahun (Rp 7 juta) dan di atas 20 tahun (Rp 10 juta),” jelas H. Munjaki.
• pitrahari

700 km Jalan Rusak akan Diperbaiki Tahun ini

Jalan kabupaten di Indramayu yang rusak dan perlu segera diperbaiki relatif sangat panjang. Di sisi lain, kendalanya, anggaran pemeliharaan yang tersedia di APBD Pemkab Indramayu sangat minim, sehingga tidak mencukupi.
Kabid Pemeliharaan Jalan Kabupaten Dinas Bina Marga Agus Supriyadi dihubungi Kamis (2/2) mengemukakan, minimnya anggaran pemeliharaan jalan kabupaten yang tak sebanding dengan panjang jalan yang ditangani bisa memusingkan kepala.
Untuk mencari jalan keluarnya, katanya, dalam kegiatan pemeliharaan jalan kabupaten di Indramayu ini, pihaknya terpaksa menerapkan sistem skala prioritas, yaitu mendahulukan pemeliharaan jalan yang terparah dan banyak digunakan masyarakat.
Dijumpai di ruang kerjanya, Agus Supriyadi mengemukakan, tingkat kerusakan jalan kabupaten di Indramayu ini umumnya cukup parah sehingga tidak tepat seandainya disebut kegiatan pemeliharaan jalan. Kalau kegiatan pemeliharaan jalan itu biasanya tingkat kerusakannya 5 - 15 persen. Sedangkan tingkat kerusakan jalan yang ada sangat parah.
Panjang jalan kabupaten yang rusak dan harus diperbaiki itu seluruhnya mencapai 700 km. Jumlah anggaran APBD untuk pemeliharaan jalan kabupaten yang tersedia relatif kecil. Hanya Rp 16 milyar. Jika dirata-ratakan, anggaran pemeliharaan jalan kabupaten itu tiap 1 km hanya Rp 20 juta-an setahun.
Biaya pemeliharaan Rp 20 juta-an per km setahun itu tidak cukup. Apalagi, ujarnya, dikaitkan dengan adanya kenaikan harga beberapa jenis material. Termasuk naiknya harga aspal yang sekarang sudah mencapai Rp 1,2 juta per drum.
Dikatakannya, kerusakan jalan kabupaten di Indramayu itu akibat pengaruh cuaca buruk seperti tingginya curah hujan. Apalagi kondisi kiri – kanan jalan itu sawah, curah hujan tinggi membuat jalan kabupaten cepat rusak. Jalan kabupaten yang kondisinya masih bertahan itu hanya di Kota Indramayu saja. Jalan lainnya rusak.
Dalam memulai kegiatan pemeliharaan jalan kabupaten yang anggarannya sangat kecil itu, katanya, pihaknya terpaksa menerapkan sistem skala prioritas, yaitu mendahulukan kegiatan pemeliharaan jalan yang lebih penting.

Kecelakaan Lalu-Lintas Meningkat
Hujan deras yang sering turun akhir-akhir ini menyadarkan jajaran Polres Indramayu memasang sejumlah papan peringatan sebagai rambu atau tanda lalu-lintas kepada para pengguna jalan di jalur utama Pantura Indramayu.
Kapolres Indramayu AKBP G. Pangarso didampingi Kasatlantas AKP Irwandi saat dihubungi MH mengemukakan, pemasangan rambu lalu-lintas dilakukan di sepanjang jalur utama Pantura Lohbener – Sewo atau perbatasan Indramayu – Subang. Di di lokasi itu, banyak jalan yang berlubang sehingga sering membahayakan keselamatan pemakai jalan.
Menurut kapolres, angka kecelakaan lalu-lintas pasca kerusakan jalan karena anomali cuaca tercatat korban meninggal dunia sebanyak tiga orang. Korban luka berat tiga orang dan luka ringan lima orang. Kerugian materi seluruhnya mencapai Rp 42,3 juta.
Selain di lokasi jalan berlubang, pemasangan rambu juga dilakukan pada titik rawan kecelakaan lalu-lintas (KLL) di sepanjang jalur utama Pantura Indramayu. Rambu lalu-lintas itu sebagai peringatan kepada para pengguna jalan agar lebih berhati-hati mengemudikan kendaraan.
Irwandi mengemukakan, selama cuaca ekstrem muncul, kondisi jalur utama Pantura Indramayu diketahui banyak yang berlubang. Hal itu, katanya membahayakan keselamatan pengguna jalan. Kondisi itu makin diperparah lagi karena minimnya jumlah rambu lalu-lintas. Minimnya rambu lalu-lintas memberi andil meningkatnya KLL.
Jika ruas jalan didukung rambu yang lengkap, mudah-mudahan angka kecelakaan lalu-lintas bisa ditekan. Hal itu, katanya karena pengemudi selalu waspada dan membaca papan peringatan yang dipasang di jalan.

Pelajar pun Mengeluhkan Jalan Rusak
Ternyata, yang mengeluh jalan rusak itu ternyata bukan hanya petani yang memang kesulitan memasarkan hasil pertaniannya, tetapi para pelajar pun mengaku repot akibat kondisi jalan kabupaten yang pada rusak parah itu.
Susi (17 tahun), misalnya, salah seorang siswi sebuah SLTA di Indramayu mengeluhkan kerusakan jalan kabupaten yang menghubungkan Terisi – Kedokan Gabus saat ini kondisinya rusak parah. Kerusakan jalan kabupaten itu sudah lama terjadi. Namun hingga hingga saat ini belum diperbaiki.
“Setiap hari kami berangkat dan pulang ke sekolah melintasi jalan kabupaten yang rusak begini. Sepulang sekolah perut sering sakit karena setiap hari naik motor badan terguncang melintasi jalan yang berlubang,” ujarnya.
Susi berharap Dinas Bina Marga Indramayu memprioritaskan perbaikan jalan kabupaten Terisi – Kedokan Gabus yang setiap hari dilalui ratusan pelajar itu. “Kapan ya saya bisa merasakan jalan ini rata,” katanya.
Kabid Pemeliharaan Dinas Bina Marga, Agus Supriyadi, saat dihubungi MH beberapa waktu lalu mengemukakan, sebagian besar kondisi jalan kabupaten di Indramayu itu rusak parah. Penyebabnya, katanya, karena tingginya curah hujan.
Agus mengemukakan, panjang jalan kabupaten yang rusak di Indramayu mencapai 700 km. Akan tetapi anggaran yang tersedia jumlahnya sangat kecil. Hanya Rp 16 milyar atau jika dirata-ratakan anggaran pemeliharaan jalan itu hanya Rp 20 juta-an setiap 1 km setahun. Jumlah itu tak mencukupi karena harga material yang cenderung naik.
taryani

650 CPNS Menerima Surat Keputusan PNS


Sebanyak 650 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menerima Surat Keputusan (SK) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penyerahan SK dilakukan secara simbolis oleh Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu Ahmad Bahtiar, S.H., baru-baru ini, dalam suatu apel pagi di Alun-alun Indramayu.
Penyerahan SK secara simbolis diserahkan kepada masing-masing golongan, untuk golongan III diserahkan kepada Puryanto, S.T. sebagai Perancang pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Pertambangan dan Energi Kabupaten Indramayu, golongan II diserahkan kepada Dian Rihayani, A.Md., sebagai Operator Komputer pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Indramayu, dan golongan I diserahkan kepada Surakman sebagai Peramu Kantor pada RSUD Kabupaten Indramayu.
Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu Ahmad Bahtiar, S.H. pada kesempatan itu berharap, PNS yang baru saja menerima SK ini diharapkan bisa terus mengubah diri untuk meningkatkan kompetensi dirinya demi perkembangan kemajuan pemerintah.
Selain itu, PNS juga harus bisa memahami peraturan perundang-undangan kemudian menghayati apa yang ada dalam kandungan peraturan tersebut, kemudian mentaati, dan menjalankannya secara hati-hati. Hal lain yang juga penting bagi PNS adalah peningkatan disiplin dan reformasi birokrasi yang harus dijalankan demi pelayanan kepada masyarakat.
“Kepada para PNS dihimbau untuk terus belajar dan bekerja lebih baik lagi, berikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Taati semua aturan yang berlaku, dan kembangkan budaya saling mengingatkan satu sama lain. Mari kita bersama-sama, bahu-membahu untuk menjadikan Indramayu lebih maju,” tegas Bahtiar.
• deni

Belajar Sambil Berjalan


Kuwu atau kepala desa memiliki tanggung jawab dan kepemimpinan ganda. Di satu sisi sebagai kepala pemerintahan di desa, dan di sisi lain pemimpin adat di desanya. Makanya selama menjabat kuwu ia harus mampu menjadi seorang pejabat dan pemimpin adat yang berlaku di desa itu.
Agar dalam kepemimpinan, mampu melaksanakan tugasnya maka sebelum ia memimpin perlu memahamai tugas dan bidang tanggung jawab yang harus dilaksanakannya. Hal itu dikandung maksud agar selama menjadi kuwu sistem manajemen pemerintah desa berjalan baik.
Ada tiga fungsi pokok yang harus dijalankan seorang kuwu, yaitu bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Ketiga bidang ini amatlah perlu dipahami, dimengerti dan dijalankan seorang kuwu termasuk para pamongnya.
“Khususnya di Kecamatan Jatibarang, pasca pelantikan, keempat kuwu yaitu Kuwu Jatibarang, Pawidean, Lobener, dan Kuwu Lobener Lor, akan ditatar dulu, diberikan bekal pengetahuan dasar dalam melaksanakan tugasnya,” kata Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si., Camat Jatibarang.
Bagi kuwu yang berpengalaman di bidang pemerintahan ataupun lama menjadi pamong desa, menurut Sugeng itu tidak ada persoalan, karena mereka sudah berpengalaman dalam mengelola manajemen desanya. Sebaliknya bagi masyarakat biasa perlu dilatih dan diberikan pengetahuan dasar agar dalam menjalankan tugasnya bisa berjalan dengan baik.
Desa merupakan sebuah lembaga pemerintahan yang paling bawah di negeri ini. Semua tugas dari pusat bermuara dan bersandar di desa. Mana mungkin pembangunan di tingkat kecamatan, kabupaten provinsi hingga nasional bisa berjalan jika dari tingkat desanya tidak dilaksanakan dengan baik.
Tugas kuwu adalah sebagai pemimpin adat desa. Dalam berbagai persoalan semuanya menjadi urusan kuwu sendiri. Gaya dan wibawa kepemimpinan seorang kuwu dinilai langsung oleh masyarakatnya sendiri. Jika kuwu benar-benar mampu melayani, menyayangi, dan suka membantu masyakarat itu berarti kuwu yang baik. Jika kuwu dinilai baik, masyarakat akan menghormatinya. Sebaliknya jika melakukan pengingkaran akan dibenci masyarakat.
“Dalam posisi ini camat berkedudukan sebagai pembina bagi para kuwu. Dengan demikian para kuwu jadilah pemimpin yang arif dan bijaksana dalam upaya melaksanakan tugas sebagai abdi masyarakat,” kata Sugeng.
Selaku pembina dalam keseharian antara camat dan kuwu tak pernah lepas satu sama lainnya. Begitu halnya bagi instansi lainnya. Makanya dalam menimba pengalaman pemerintahan memimpin desa setiap hari kuwu belajar dan lama-lama juga mengerti dan paham tentang tugas dan kewajibannya.
“Ya kita belajar sambil berjalan. Toh setiap minggu sekali, di kantor kecamatan rutin melaksanakan rapat bersama kuwu, pamong, dan instasi terkait lainnya,” kataSugeng lagi.
Sugeng mengharapkan ke depannya perlu ada pendidikan kuwu. Atau setelah para calon kuwu terpilih menjelang masa pelantikan waktu panjang itu agar dimannfaatkan untuk pelatihan kuwu termasuk para pamongnya. Hal itu dikandung maksud agar begitu kuwu melaksanakan tugasnya, mereka sudah mengerti apa yang harus dikerjakan.
• rofi/undang

Darma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pendidikan Bantu 30 Siswa di Lingkungan UPTD Kecamatan Tukdana


Tiga puluh orang siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang berada di lingkungan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kecamatan Tukdana, menerima bantuan berupa tiga puluh pasang sepatu dari Darma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pendidikan (Disdik) bertempat di SDN Karangkerta I. Kegiatan ini merupakan program tindak lanjut dan rutin dilaksanakan oleh DWP yang diagendakan tiap bulan. Secara bergiliran tiap kecamatan menjadi penyaji. Dalam kesempatan itu juga diberikan bantuan spontanitas berupa uang tunai kepada para siswa yang meraih prestasi di sekolahnya masing-masing. Rombongan dipimpin oleh Ketua DWP Disdik, Dra. Hj. Lili Ulyati Suhaeli, M.A. disertai para pengurus lainnya seperti Ny. Odang Kusmayadi, Ny. Endang Haryono, Ny. Elis Daryan, Ny. Liana Akil, dan Ny. Susilawati Ali Hasan. Rombongan diterima oleh Ketua Darma Wanita UPTD Kecamatan Tukdana, Hj. Idah Faridah didampingi Kepala UPTD Drs. H. Muslih.
Menurut Hj. Lili meskipun secara kuantitas belum seberapa namun bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian ibu-ibu yang tergabung dalam DWP Disdik dalam membantu kebutuhan para siswa khususnya dari keluarga kurang mampu.
“Pengadaan bantuan sepatu yang kami salurkan ini berasal dari gerakan infak yang kami kumpulkan setiap pertemuan rutin. Kami sepakat hasil gerfak itu untuk disalurkan kepada para siswa di lingkungan UPTD kecamatan penyaji. Jika dari hasil gerfak itu jumlahnya kurang mencukupi maka secara spontanitas akan dipenuhi oleh anggota pengurus DWP lainnya,” jelas Hj. Lili.
Hj. Lili menjelaskan kegiatan pertemuan bulanan yang disajikan oleh UPTD kecamatan diisi dengan laporan kemajuan kegiatan DWP di lingkungan UPTD masing-maing juga diisi dengan berbagai macam kegiatan yang mengangkat berbagai potensi dalam bidang akademik, nonakademik maupun tauziah rohani.
“Agenda rutin bulanan ini sangat positif dan bermanfaat khusunya dalam rangka mengangkat seluruh potensi yang ada di lingkungan wilayah kecamatan masing-masing. Bagi kami para pengurus DWP Disdik kegitan ini untuk mengetahui secara persis kondisi di lapangan sehingga dapat memberikan masukan kepada para suami untuk berbuat yang terbaik,” jelas Hj. Lili.
Kepada para siswa penerima bantuan Hj. Lili memberikan motivasi dan nasihat untuk tetap bersemangat dalam belajar hingga menyelesaikan studinya di tingkat pendidikan dasar. Menurutnya, akan sangat membanggakan jika ada di antara para siswa ini yang meraih sukses dalam berbagai bidang kehidupan yang akan digelutinya. Pemkab Indramayu telah memberikan perhatian yang tinggi bagi suksesnya program pendidikan dasar ini sehingga tidak ada alasan untuk tidak belajar (Wajar Dikdas 12 tahun).
• pitrahari

Mahasiswa IPB Melakukan KKN di Indramayu


Sebanyak 16 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Eko Wisata, sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) selama tiga bulan di Kabupaten Indramayu. Kehadiran mahasiswa tersebut, selain melakukan penelitiannya juga bermanfaat bagi instansi terkait menyusul akan dibentuknya desa-desa wisata.
Materi penelitian yang dilakukannya mengenai, potensi alam untuk dijadikan sarana wisata, potensi seni budaya, situs, kesiapan masyarakat manajemen desa wisata, industri, kerajinan pertanian, dll. Selama empat bulan sejak Februari s.d. Mei 2012, tersebar di 16 desa yang sudah dipersiapkan sebagai desa wisata.
“Kami sambut baik kehadiran para mahasiswa IPB, di saat kami tengah menyiapkan mendirikan desa wisata di kabupaten Indramayu,” kata Drs. H. Syarif Hidayat, M.Si. Kabid Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwsiata (Disporabudpar) Kabupaten Indramayu.
Beberapa desa yang dijadikan objek penelitian para mahasiswa IPB di antaranya, Desa Jatisura Kecamatan Cikedung, Desa Lelea, Desa Bugis (Kecamatan Anjatan), Desa Sanca (Kecamatan Gantar), Desa Bangodua, Desa Bondan (Kecamatan Sukagumiwang), Desa Tambi (Kecamatan Sliyeg), Desa Bulak (Kecamatan Jatibarang), Desa Juntinyuat, Desa Sindang, Desa Pekandangan, Kelurahan Paoman, Desa Brondong (Kecamatan Indramayu).
Hasil penelitiaan mahasiswa tentang eko wisata, akan dijadikan bahan acuan instansi terkait, seperti Disporabudpar dan Bapeda Kabupaten Indramayu. Pada tahun 2012 Indramayu akan mencanangkan beberapa desa wisata. Seperti Desa Tambi, Desa Jatisura, dan Desa Lelea. Di ketiga desa tersebut terdapat objek wisata dan budaya yang mampu menarik para wisatawan domestik maupun asing.
“Rencananya di kabupaten Indramayu akan didirikan sebanyak enam belas desa wisata, untuk sementara baru tiga desa. Sebagai uji coba mudah-mudahan ketiga desa yang kaya dengan aset wisata dan budayanya itu mampu menjadikan ikon Indramayu di masa sekarang dan mendatang,” kata Syarif Hidayat.
Untuk memperlancar tugas mahasiswa, para pamong budaya beserta aparat setempat ikut dilibatkan. Para pamong budaya adalah aparat yang menguasi tentang wisata dan budaya yang ada di wilayah kerjanya masing-masing.
• rofi/undang

Kabupaten Asahan Meniru Pengelolaan Rumah Trauma Centre Indramayu


Keberadaan Rumah Trauma Centre (TC) di Kabupaten Indramayu, pengelolaannya akan ditiru oleh Kabupaten Asahan Provinsi Sumatra Utara. Hal ini terungkap ketika Komisi D DPRD Kabupaten Asahan melakukan studi banding di Kabupaten Indramayu yang diterima Asisten Ekonomi dan Pembangunan Drs. H. Wahidin, M.M., di ruang Ki Sidum Setda Indramayu, Kamis (9/2/2012).
Pimpinan rombongan Komisi D DPRD Asahan, Aman Margolang, S.P. mengatakan, dipilihnya Kabupaten Indramayu sebagai tempat untuk studi banding, karena dari sekian banyak kabupaten/kota di Indonesia, Kabupaten Indramayu telah memiliki rumah Trauma Centre dan telah operasional sejak tahun 2009 yang lalu. Rumah Trauma Centre ini merupakan shelter atau penampungan bagi para korban-korban trafficking dan masalah sosial lainnya.
Sementara itu Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Indramayu Drs. H. Wahidin, M.M. mengatakan, keberadaan rumah Trauma Centre sangat membantu dalam menangani para korban trafficking baik secara advokasi hukum maupun psikologis. Trauma Centre juga merupakan penampungan sementara sebagai langkah untuk merehabilitasi para korban sebelum dikembalikan kepada orang tuanya.
Sedangkan Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu Wawang Irawan, S.H. mengatakan, meskipun Trauma Centre sudah ada sejak 2009 namun secara operasional masih belum maksimal. Hal ini dikarenakan banyak faktor, mulai dari keterbatasan anggaran hingga dengan kurangnya SDM yang menangani. Kemudian yang menjadi kekurangan lainnya gedung Trauma Centre di Indramayu bersatu dengan lokasi perkantoran, padahal idealnya Trauma Centre harus steril dan berada di lokasi yang benar-benar nyaman.
Setelah mendengar penjelasan dari Pemerintah Kabupaten Indramayu, rombongan DPRD Kabupaten Asahan selanjutnya meninjau langsung keberadaan Rumah Trauma Centre tersebut. Anggota DPRD Kabupaten Asahan yang melakukan kunjungan kerja yakni Aldi, S.H., Handi Afran, H. Syamsul Qodri, T Johnson, Budiarto Lubis, S.E., Budiman Manurung, S.T., Suparman, S.E., Sudung, dan Icuk Nasipansyah.
• deni

Bersatu Membangun Desa


Warga Desa Jatibarang yang pada 7 Desember 2011 telah menyelenggarakan pesta demorasi pemilihan kuwu secara lancar dan sukses. Hal ini perlu dijadikan suri tauladan bagi masyarakat yang lainnya. Selama mejelang, pelaksanaan hingga pasca pemilihan kuwu benar benar mampu menciptakan suasana tertib aman dan damai. Hal itu tercipta karena kesadaran masyarakatnya dalam berpolitik terbilang cukup matang.
Harus diakui bahwa selama pesta demokrasi berlangsung suhu politik di Desa Jatibarang agak menghangat. Dari kubu calon satu dan yang lainnya terus berlomba mencari simpati dan dukungannya. Namun pasca pencoblosan suara, keesokan harinya bagi calon yang kalah bersilaturahmi kepada calon terpilih. Mereka saling maaf-memaafkan, dan saling menyatakan dukungan kepada kuwu terpilih. Bukan hanya calon kuwu bagi para pendukung, relawannya pun ikut serta di dalamnya.
“Kita adalah saudara. Pemilihan kuwu hanyalah sebuah media demokrasi yang harus dijunjung tinggi semua warga masyarakat Jatibarang. Mari kita sama-sama membangun desa tercinta ini,” kata H. Nartawan, Kuwu Jatibarang saat ini.
Menjadi orang nomor satu di Desa Jatibarang bagi H. Nartawan sudah siap dengan sekuat tenaga, dalam upaya melaksanakan amanah dan melayani warga di desanya. Sebelum mencalonkan dia sudah lama berkecimpung menjadi pamong desa dan terakhir menjabat sebagai bendahara.
Kiat dalam kepemimpinannya tiada lain, menegakkan disiplin, jujur, dan transparan, mampu melaksanakan semua program dan tugas pemerintah dan siap melayani kebutuhan dan urusan masyarakat desanya. Kiat seperti itu sebagai tindak lanjut gaya kepemimpinan kuwu sebelumnya, Mardika, S.H. yang telah berhasil menahkodai Desa Jatibarang selama 10 tahun.
Desa Jatibarang merupakan desa perkotaan. Sebuah desa homogen penduduknya, berbeda cara berfikirnya, dan variatif daya nalarnya. Memimpin sebuah desa di sebuah perkotaan kiatnya hanya satu: “didiplin kerja”. Terbukti selama hampir 20 tahun H. Nartawan menjadi pamong, tak pernah ada gejolak masyarakat, karena aparatur desa mampu melayani semua kebutuhan masyarakat itu sendiri.
“Mudah-mudahan kami mampu melaksanakan amanah dari Allah Swt., dan tuntutan masyarakat Desa Jatibarang,” kata H. Nartawan.
• undang

Kang Parta, Gagian Balik Kang!


ADIMAH wanita berusia tiga puluh tahun bertubuh kerdil. Dia tinggal di Blok Kebon Waru Desa Kopyah Kecamatan Anjatan. Tinggal di gubuk reyot bersama ibu dan anaknya yang berusia sembilan tahun dan bertubuh kerdil mewarisi keadaan fisik Adimah. Walaupun Adimah dan anaknya kerdil, mereka adalah manusia yang memiliki pikiran dan perasaan. Tapi, terkadang orang memandang dan memperlakukan mereka tidak adil. Apakah lantaran Adimah kerdil, dia layak ditinggal oleh suaminya, Suparta?
“Kang Parta kuh mangkate dina Sabtu, 11 Januari 2012. Melu bibine dikongkon angon wedus. Ya ari angon wedus ya endah temen tapi aja ninggalaken keluarga suwe pisan sebab anak rabi kudu ditanggungjawabi. Melas senange pengen ketemu bapane,” curhat Adimah dengan mata berkaca-kaca. “Kita wis sepuluh tahun kawin karo kang Parta. Kawin resmi dudu kawin lebe. Dadi ya aja dianggep dolanan,” pinta Adimah yang mengaku sangat sedih ditinggal Parta tapi tidak bisa berdaya upaya menyusul Parta ke rumah bibinya yang tidak jauh, hanya tetangga desa.
Kiranya Adimah yang rajin berdagang untuk menghidupi anak dan ibunya ini memerlukan bantuan dari pihak lain. Bukan mencampuri rumah tangga Adimah dengan Parta tapi menolong agar mereka bersatu lagi. Karena Adimah yakin Parta masih mencintai dirinya, tapi tidak bisa pulang. Mereka sudah hidup berkekurangan, tapi malah dipisah-pisahkan. Mestinya dibantu agar bisa hidup layak dan bahagia. Aja tega-tega temen dadi menusa!
“Kang Parta, gagian balik kang!” pinta Adimah yang hatinya teramat sedih. Pak Camat Anjatan, tolonglah rumah Adimah diperbaiki dengan dana zakat profesi atau apa. Untuk para tetangganya, jangan melihat saja tapi bergeraklah membantu mempersatukan kembali Adimah dengan Suparta. Biarkan mereka bahagia dalam cinta walaupun miskin harta benda.
 untung

Mitos Dodol Geseng, Pengantin Tidak Perawan


LAGU tarling Dodol Geseng sedang diminati oleh penggemar musik tarling di Pantura. Lagu yang syairnya dlagdag itu mencuatkan kembali mitos jika dodol yang dibuat menjadi gosong berarti pengantin yang akan dinikahkan sudah tidak perawan lagi alias telah melakukan hubungan suami istri pra nikah. Kalau mitos itu benar, bisa jadi pembuatan dodol yang dilakukan tiga hari sebelum hari H hajatan itu banyak yang gosong. Masalahnya zaman sudah edan begini di mana banyak sekali sejoli kasih yang melakukan hubungan suami istri pra nikah.
“Mitos dodol geseng karena pengantinnya sudah tidak perawan lagi itu benar!” tegas Mak Darsih yang berusia 63 tahun dan sering disambat ndodol ke mana-mana. “Bukan karena apinya kebesaran atau teledor penjagaan karena itu tidak mungkin. Nyala api dijaga oleh banyak orang. Membuat dodol itu ramai-ramai ngaduknya bergantian jadi tidak mungkin gosong. Tapi kaligane jadi gosong bila pengantinnya sudah tidak perawan,” ulang Mak Darsih yang tinggal di Blok Karangturi Desa Babakanjaya Gabuswetan.
Pernyataan Mak Darsih diiyakan oleh ibu-ibu bahkan bapak-bapak yang sedang bantu membantu membuat dodol. Terlepas dari mitos itu, dodol kue khas Indramayu ini rasanya enak manis gurih. Berikut ini Mak Darsih memberitahukan bahan baku dodol dan proses memasaknya.
“Tepung beras ketan 15 kg, Gula batu 10 kg, gula pasir 10 kg, santan dari 21 butir kelapa, blueband 2 kaleng, agar-agar 2 bungkus, dan susu 1 kaleng. Semua bahan kue dimasukan ke dalam wajan besar yang diletakkan di atas tungku api yang nyalanya sedang. Adonan kue dodol diaduk-aduk tanpa henti dengan alu selama enam jam. Sebenarnya ndodol adalah pekerjaan yang melelahkan tapi karena dilakukan bersama-sama sambil bersenda gurau jadi kelelahan tidak terasa,” tutur Mak Darsih yang menjamin dodol buatannya kali ini tidak akan gosong karena bukan untuk pesta pernikahan tapi untuk syukuran nujuh bulan, yang pastinya si calon ibu sudah tidak perawan.  untung

Betty Borrell (Penyiar Radio Aquani FM) Yang Penting Tidak Kehilangan Jati Diri


METTY Rosmilawati, istri dari Dadang Sumarno, yang telah memiliki anak gadis Kartika Puspitasari dan jagoan remaja Diska Espandiary ini adalah muslimah Indo Belanda. Metty yang bersuara agak berat dan cerdas mengolah main theatre pendengar ketika memandu acara ini sudah 13 tahun menjadi penyiar radio. Karirnya dimulai tahun 1999 di radio Leo Arjawinangun Cirebon. Setahun kemudian Metty didaulat direktur radio Aquani FM Sukra menjadi penyiar dengan nama radio Betty Borrell, sampai sekarang. Kiranya Metty yang berganti nama menjadi Betty ini adalah penyiar yang setia karena dari sejumlah penyiar radio Aquani FM, Betty yang tidak terbawa gelombang pergantian penyiar. Salah satu alasannya karena Betty pandai beradaptasi atau membawa diri dengan, suami, anak, pimpinan, fans, dan masyarakat Sukra. Kalau tidak pandai, semuanya bisa berantakan.
“Suami saya kerja di Pertamina Celancang Cirebon. Suami tinggal dengan anak saya yang pertama. Saya tinggal di Sukra dengan anak bungsu. Walau terpisah jarak, kami harmonis-harmonis saja karena semuanya bisa diatur selagi saling memberikan kepercayaan. Beradaptasi dengan pimpinan, tidak sulit karena beliau sudah seperti orang tua sendiri. Pertama harus paham apa yang diinginkan pemimpin, setelah itu ada komunikasi, yang dilanjutkan dengan action. Karena Aquani adalah radio pendidikan yang menghibur dan radio hiburan yang mendidik, berarti action penyiarnya juga tertuju ke sana. Kalau beradaftasi dengan fans, penyiar memang harus selalu ceria dan familiar. Tetapi tetap saja harus ada batas untuk norma sosial. Jangan sampai fans ngelunjak dan tidak sopan. Walaupun di udara saya menggunakan nama udara, tetapi tetap saja fans harus diberitahu status saya agar tidak menimbulkan dampak yang negatif. Dalam berkomunikasi penyiar juga harus pandai atau luwes menghadapai fans yang karakternya berbeda-beda. Tapi sebagai manusia biasa, terkadang saya juga terpancing emosi pada fans yang membuat kesal,” tutur Betty yang merasa nama udaranya mirip nama waria, tapi dia buat enjoy saja.
Betty juga berkisah pada awalnya dia kaget dan heran karena fans radio Aquani bahkan masyarakat Sukra sering sekali bertengkar. Lama-lama, Betty paham bahwa mereka tidak bertengkar tapi hanya gaya bicaranya keras dan lantang. Mereka juga ceplas-ceplos tidak berahasia terbuka apa adanya. Ternyata dibalik lantang suara yang ceplas-ceplos, hati fans dan masyarakat Sukra sangat baik. Buktinya Betty betah tinggal di Sukra. Malah Betty sudah merasa jadi keluarga hingga dia juga sedang dirundung prihatin.
“Cuaca yang ekstrim berdampak negatif bagi putaran perekonomian masyarakat Sukra. Nelayan jadi jarang melaut, petani kesusahan mendapatkan pupuk. Pedagang juga bingung karena harga naik sehingga omset penjualan turun. Masyarakat sedang prihatin. Yah semoga kehadiran Betty Borrel dan Aquani FM, setiap harinya di tengah-tengah masyarakat dapat menghibur hati sekaligur memberikan pencerahan pikir pada masyarakat,” harap Betty yang dilahirkan di Sukabumi tapi dialeknya sudah Dermayu banget dan Sundanya nyaris hilang. Yang penting tidak kehilangan jati diri. Begitu kilah Betty yang tidak mau disebut mirip penyanyi tarling kenamaan Hj.Uun Kurniasih.
 untung

Bulan K-3 Nasional 2012 RU VI Balongan


Ratusan pejabat, pekerja, kontraktor dan mitra kerja mengikuti kegiatan Bulan K3 (Keselamatan Kesehatan Kerja) Nasional 2012 pada Sabtu (11/2/2012) sebagaimana dicanangkan Kementerian Tenaga Kerja.
Ketua Panitia Bulan K3 Nasional 2012, Dadik Bahagia, saat dihubungi di Stadion Bumi Patra, menerangkan, kegiatan Bulan K3 Nasional 2012 merupakan kegiatan rutin yang tujuannya antara lain mengkampanyekan safety (keselamatan) kerja terhadap setiap orang pada Sabtu (11/2/2012).
Bulan K3 Nasional 2012 dilaksanakan sejak 19 Januari 2012 – 11 Pebruari 2012 dengan thema “HSE Di Dadaku Let’s Act Saffely,” ujar Didik Bahagia. Kegiatannya, Rally Fun Bike, lomba ketangkasan pemadam kebakaran dan K3, kebersihan, sosialisasi K3 mendatangkan safety ambassador, sosialisasi teori Api dan safety reading dengan peserta murid SD, SMP dan ibu-ibu anggota Wanita Patra, work shop Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar.
Manajer HSE (Health Safety and Enviorement), Johanes Prihartono, saat dihubungi secara terpisah oleh MH mengemukakan, Pertamina RU-VI Balongan selama 2011 berhasil mempertahankan nol kecelakaan kerja. Kecuali hanya ada 3 first aid atau kejadian pertolongan pertama dan langsung diobati.
Pertamina RU-VI Balongan tahun 2012 berhasil meraih penghargaan 56 juta jam kerja tanpa kecelakaan kerja. Prestasi itu dicapai antara lain karena RU-VI Balongan membudayakan intervensi. Misalnya jika melihat orang lain tidak aman, maka wajib mengingatkan. Karena pada dasarnya safety itu untuk menyelamatkan orang. Maka setiap orang saling mengingatkan. Termasuk jika melihat orang lain tidak menggunakan Alat Pengaman Diri (APD). • taryani

2,5 Juta Rupiah untuk Anak TKW


Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah, baru-baru ini memberikan bantuan uang duka sebesar 2,5 juta rupiah kepada anak dari Kuneri (44 tahun), seorang TKW warga Desa Legok RT 08/02 Kecamatan Lohbener yang tewas di Kuwait beberapa waktu lalu. Bantuan diterima langsung oleh anaknya Yanto Caryanto dan Putri di kediamannya.
Kedatangan Bupati Indramayu tersebut disambut oleh ratusan warga yang telah sejak pagi menanti kehadiran orang nomor satu di Indramayu tersebut. Kemudian bupati melihat-lihat keadaan dan kehidupan keluarga Kuneri yang masih diliputi suasana duka.
Dengan berbicara penuh keibuan dan rasa duka yang mendalam Anna Sophanah mencoba memberikan semangat dan motivasi bagi kedua anak tersebut karena sekarang mereka berdua telah menjadi yatim piatu yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
Terhadap Yanto Caryanto (22 tahun), yang merupakan anak pertama, Anna Sophanah berharap tetap memiliki semangat untuk menjalani kehidupan dan bisa membimbing adiknya karena dia kini menjadi kepala keluarga di rumah tersebut setelah kepergian orang tuanya.
Sementara untuk Putri (18 tahun) yang kini masih bersetatus pelajar, bupati juga menginginkan agar pendidikanya terus dilanjutkan sampai dengan selesai, bahkan bisa setinggi mungkin. “Untuk biaya pendidikan Putri saya perintahkan kepala UPTD Pendidikan dan Camat untuk berkoordinasi agar sekolahnya bisa sampai dengan selesai, tidak ada alasan untuk DO karena tidak ada dana,” tegas Anna Sophanah.
Pada kesempatan itu, Yanto Caryanto dan Putri menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan kedatangan Bupati Indramayu tersebut, dirinya tidak menyangka akan dikunjungi oleh orang nomor satu di daerahnya itu. Meskipun bantuan yang diberikan tidak seberapa, namun bantuan ini benar-benar berarti bagi kehidupan dirinya dan juga adiknya.
Kedatangan Bupati Indramayu ini didampingi Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Wawang Irawan, dan Camat Lohbener Welly Kuswaluyo.
• deni

MA SENTOT: Pejuang dan Pahlawan Perang Kemerdekaan dari Indramayu dalam Arus Sejarah Nasional



Sambungan dari MH Edisi 035
MA SENTOT:
Pejuang dan Pahlawan Perang
Kemerdekaan dari Indramayu dalam Arus Sejarah Nasional

Oleh: Wawan Idris, Supriyanto, dan Sudalim

Terpancing Propaganda Belanda
Di akhir tahun 1947, menjelang 1 Januari 1948, pihak Belanda mengubah taktik pertempuran. Kali ini mereka menggunakan siasat perang urat syaraf (psy war). Tentara-tentara Belanda menggunakan tipu muslihat dengan menyebarkan surat-surat kaleng, desas-desus, selebaran gelap, dan penyebaran dokumen rahasia. Isi yang tersebar adalah bahwa Belanda akan mengakui 100% kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 1 Januari 1948. Lemahnya intellijen di kalangan gerilyawan menyebabkan rakyat terhasut oleh informasi menyesatkan ini. Tidak hanya rakyat, bahkan banyak anggota pasukan gerilyawan yang mengadakan pesta kemenangan berama rakyat untuk menyambut datangnya 1 Januari 1948 hingga larut malam.
Apa yang terjadi kemudian? Pasukan gerilya hampir kecolongan. Untunglah sekitar jam 05.00 segera datang laporan dari Pos Pengawas bahwa pasukan Belanda yang datang dari Jatibarang sudah berada di kampung Kerticala. Posisi pasukan Belanda yang sangat dekat dengan markas komando gerilya pasukan M.A. Sentot ini membuat para gerilyawan yang sedang kelelahan sehabis berpesta segera mengungsi ke pinggir-pinggir hutan. Kegesitan untuk mengungsi itu menyebabkan tidak terjadinya kontak senjata antara pasukan gerilyawan dan tentara Belanda karena tak satupun pasukan gerilya yang berhasil mereka temukan.
Ketika cuaca mulai terang, sebenarnya M.A. Sentot dan kawan-kawan akan segera menyerang kedudukan tentara Belanda. Namun niat itu tidak dilaksanakan sebab tiba-tiba pesawat pemburu Mustang Belanda berputar-putar di atas udara desa Sukamulya. Daripada menyerang yang bisa berakibat fatal, pasukan M.A. Sentot akhirnya berpindah posisi ke kampung Telagadua.

Awal Clash dengan Hisbullah
Sementara itu, kondisi pertempuran kian rumit. Keberadaan pasukan gerilyawan di desa Jatisura, Sukamulya, dan Telagadua bukan tanpa kendala. Pada pertengahan Januari 1948 ke markas gerilya pimpinan Kapten Satmoko datanglah seorang tamu bernama Hamid. Rupanya orang ini merupakan mata-mata pasukan Hizbulloh. Setelah itu malam harinya terjadilah penculikan di markas komando gerilya V. Pasukan Hizbulloh dikabarkan menculik Mayor Sangun, Letnah Sutejo, Achmad, dan Sudibyo. Sementara itu Kapten Satmoko berhasil meloloskan diri dalam penyergapan itu.
Inilah awal clash pasukan M.A. Sentot dengan pasukan Hizbulloh. Setelah penculikan itu, tiga tawanan mereka Letnah Sutejo, Achmad, dan Sudibyo dibunuh. Mayat ketiganya dibuang ke sungai Cimanuk. Dalam situasi seperti itu M.A. Sentot menerima laporan dari rakyat yang menyatakan bahwa tentara Belanda datang menyerang dari desa Sumber dengan tanpa berpakaian. Setelah laporan itu diperiksa, ternyata yang datang menyerang adalah pasukan Hizbulloh pimpinan Danu. M.A. Sentot yang menganggap pasukan Hizbulloh merupakan teman seperjuangan, sebab mereka sama-sama melawan Belanda, tidak merasa curiga atas kedatangan mereka.
Ternyata perhitungan M.A. Sentot meleset. Pasukan Hizbulloh menyerang pasukan M.A. Sentot yang bermarkas di desa Telagadua dari tiga jurusan. M.A. Sentot yang belum memahami persoalan itu seutuhnya segera memerintahkan pasukannya untuk mengundurkan diri ke hutan dan tidak memberikan tembakan balasan.
Sambil mengundurkan diri ke hutan, salah seorang dari pihak M.A. Sentot, yaitu Kapten Surya mengadakan kontak dengan pimpinan Hizbulloh, Danu. Dari kontak itulah diketahui bahwa pasukan Hizbulloh telah salah memilih sasaran. Mereka sedang mencari-cari pasukan gerilya pimpinan Letnan Purbadi yang telah berselisih dengan mereka untuk diminta pertanggungjawabannya. Mereka mengira bahwa anggota gerilya pimpinan M.A. Sentot merupakan anggota gerilyanya pimpinan Letnan Purbadi. Untuk menghindarkan diri dari pertempuran dengan sesama bangsa Indonesia, M.A. Sentot segera memindahkan pasukannya ke kampung Cimindel.
Dalam situasi gawat seperti itu datang perintah dari Letnan Kolonel Abimanyu agar semua pasukan diberangkatkan ke Majalengka, dan ditugaskan untuk menumpas pasukan Hizbulloh yang sudah merajalela. Pasukan Hizbulloh yang terkepung akhirnya meloloskan diri satu per satu. Pasukan pimpinan M.A. Sentot diberi tugas ke desa Asrama di sekitar Indrakila. Di daerah itu pun pasukan Hizbulloh telah menghilang. Pada saat itu, Mayor Sangun telah dibebaskan oleh pasukan gerilyawan yang dipimpin Letnan Emen Slamat. Selanjutnya para pasukan gerilya ini berpindah ke Majalengka.

Hijrah ke Yogyakarta
Perjanjian Renville ditandatangani oleh wakil pimpinan Republik Indonesia dan wakil Belanda. Berdasarkan isi perjanjian ini, maka seluruh gerilyawan harus meninggalkan kantong-kantong gerilya. Sebagai pasukan yang setia pada perintah pimpinan, maka para prajurit yang ada di kantong-kantong gerilya di Indramayu berjalan kaki pindah ke Majalengka. Mereka harus melalui desa Ujungjaya, kemudian berkumpul di desa Ciwaru. Di tempat inilah setelah berjalan kaki selama tiga hari tiga malam pasukan gerilya dari seluruh Karesidenan Cirebon berkumpul.
Setelah beristirahat selama beberapa hari, pimpinan Brigade V, melalui Kepala Staff-nya yaitu Mayor Kusno Utomo, memerintahkan agar semua pasukan berkumpul di Kuningan. Tempat ini merupakan tempat terakhir di mana seluruh pasukan akan diberangkatkan menggunakan kereta api menuju Gombong, Jawa Tengah. Dari kota ini pasukan melanjutkan perjalanan menuju Ketandan/Klaten. Dari situ mereka melanjutkan perlajanan ke Colomadu, dan berakhir di Tasikmadu.
Di daerah Tasikmadu inilah pasukan yang berasal dari Karsidenan Cirebon mengalami reformasi dan reorganisasi. Pasukan M.A. Sentot sendiri yang semula berada dibawah Bataylon V, kini ditempatkan di Batalyon I Resimen 12 Divisi IV Siliwangi, di bawah pimpinan Mayor U. Rukman yang membawahi para prajurit dengan susunan komandan sebagai berikut: Dan Kie I adalah Kapten M.A. Sentot, Dan Kie II adalah Kapten Mahmud Pasja, Dan Kie III adalah Kapten Mustofa, dan Dan Kie IV adalah Kapten A. Syukur. Sementara itu Kompi I membawahi beberapa Peleton yang terdiri dari: Peleton I dengan komandannya Letda Hasanuddin, Kompi II dengan komandannya Letda Nasuha, dan Peleton III dengan komandannya Letda Sudimantoro.
Kondisi para prajurit Divisi Siliwangi yang berasal dari Karesidenan Cirebon, selama berada di Jawa Tengah, memiliki banyak pengalaman yang tak terduga. Ternyata, hijrah ke wilayah lain provinsi tidaklah selalu menyenangkan. Saat itu, mereka banyak menerima kenyataan bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang belum lama diproklamasikan tidaklah mudah. Betapa tidak, pasukan yang seharusnya berada di kantong-kantong gerilya untuk mempertahankan kedudukan wilayah Republik Indonesia, ternyata harus hijrah ke wilayah lain.
Perubahan situasi dan kondisi yang mereka alami, yaitu suasana di kantong gerilya dan di pengungsian, jelas mencolok. Suka, duka, bahkan penderitaan batin dialami oleh para prajurit Batalyon Rukman selama mereka menempati Pabrik Gula di Tasikmadu, Jawa Tengah. Di tempat hijrah tersebut para prajurit Batalyon Rukman memahami bahwa perubahan suhu politik di Indonesia sedang terjadi. Perubahan politik ini tidak sedikit yang berdampak pada situasi dan kondisi di tubuh militer Indonesia.
Kondisi kehidupan politik yang sedang berubah itu sangat wajar jika berdampak pada para prajurit Batalyon Rukman. Mungkin di balik semua itu, pihak kerajaan Belanda memiliki skenario khusus untuk menghancurkan, setidaknya melemahkan kondisi militer Indonesia. Ketika para prajurit berkumpul di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sangat mudah bagi pihak tertentu menyebarkan isu fitnah, propaganda, provokasi, dan selebaran gelap yang melemahkan mental prajurit. Cara Belanda mengadu domba antar unsur di kalangan masyarakat dalam tubuh Repubik Indonesia yang masih berusia dini itu bukan tidak disadari para prajurit Batalyon Rukman. Prajurit bisa diadu domba dengan prajurit. Bahkan ada pula upaya fitnah yang ujung-ujungnya mengadu domba prajurit dengan rakyat biasa.
Pamflet-pamflet dan selebaran gelap begitu mudahnya masuk dan beredar di kalangan prajurit dan rakyat sipil. Kalimat seperti ’dari Gunung Tidar’, ’dari Markas Murba Terpendam’ dan yang lainnya menjadi begitu akrab terdengar. Isinya memang propaganda politik. Selain itu penyebaran isu yang bertujuan melemahkan mental prajurit pun tak kalah hebatnya. Misalnya isu tentang tertawan dan kemudian meninggalnya Panglima Besar Sudirman. Isu tentang adanya persetujuan dari Jenderal Sudirman terhadap suatu Kongres Rakyat. Isu tentang prajurit yang pro dan anti pembentukan negara Indonesia sebagai negara federal. Isu tentang prajurit yang setuju dan anti perundingan dengan Belanda.
Pendek kata, isu politik dalam negeri semakin memanas karena berpadu dengan intrik-intrik tekanan Diplomatik dari pihak Belanda. Di jajaran para elite politik Indonesia sendiri, saat itu, sentimen kepartaian begitu mudah terluap. Kondisi perbedaan paham yang mencolok di antara partai-partai ini memungkinkan sangat mudahnya perpecahan di tubuh para petinggi Indonesia.
Bagi para prajurit Batalyon Rukman yang berasal dari Karesidenan Cirebon tentu saja tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan suasana yang sedang berubah cepat. Ulah para petualang politik pun menimbulkan masalah di tubuh militer. Karena propaganda tertentu, misalnya, para prajurit Batalyon Rukman pernah mengalami clash dengan para prajurit dari Resimen Lawu. Clash itu memanas sampai-sampai para prajurit Batalyon rukman pernah diserang oleh para prajurit lain dari tiga Batalyon di bawah Resimen Lawu.
Bentrokan bersenjata ini dihadapi secara serius oleh para prajurit yang tergabung dalam Kie I (pimpinan M.A. Sentot), Kie II, dan Kie IV. Akibatnya jatuh korban jiwa sia-sia tak terelakan. Para prajurit Resimen Lawu kemudian mengundurkan diri ke Karanganyar. Untuk meredakan ketegangan dan menjernihkan suasana, Bupati Karanganyar terpaksa turun tangan. Namun upaya Bupati ini mampu menghasilkan keputusan maksimal. Dengan pertimbangan untuk menghindarkan diri dari perang saudara antar sesama prajurit Indonesia, ditambah dengan situasi politik dalam negeri yang semakin memanas, maka diambil keputusan oleh Kemandan Batalyon, U. Rukman, untuk memulangkan seluruh prajurit Siliwangi kembali ke Jawa Barat, dan langsung menempati kantong-kantong gerilya.

BERSAMBUNG KE EDISI 037.

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita