Enter Your Domain Here....

Wednesday, February 01, 2012

Pejuang dan Pahlawan Perang Kemerdekaan dari Indramayu dalam Arus Sejarah Nasional

Sambungan dari MH Edisi 034
MA SENTOT:

Pejuang dan Pahlawan Perang
Kemerdekaan dari Indramayu dalam Arus Sejarah Nasional

Oleh: Wawan Idris, Supriyanto, dan Sudalim

Berapa kerugian yang diderita penduduk akibat serangan itu? Sungguh tak ternilai. Setelah penyerangan, para gerilyawan dan penduduk yang mengungsi, kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka mendapati bahwa selain menyerang tentara-tentara Belanda yang dibantu rakyat itu ternyata membawa habis terasi-terasi yang sudah jadi dan siap dijual. Sebagian terasi mereka bakar. Terasi-terasi, pada saat itu merupakan bahan yang berharga karena akan dijual secara barter ke daerah lain untuk ditukar dengan bahan makanan lain yang sangat diperlukan dan tidak bisa diproduksi di wilayah markas Pasukan Setan.
Serangan besar-besaran itu meninggalkan dendam yang mendalam baik kepada pihak Belanda maupun kepada rakyat yang berkhianat membantu Belanda. Sementara itu Pak Kartem sendiri, sebagai salah saksi hidup perjuangan M.A. Sentot di Desa Kujang, yang semula berminat menjadi tentara, tak jadi memenuhi keinginannya sebab tidak direstui orang tuanya. Meskipun demikian, beliau membantu Pasukan Setan dengan posisi sipilnya. Kartem dan seluruh isi kampung Waledan dan Kujang pernah mengungsi ke hutan bakau (jenis Api-Api) ketika kedua kampung itu diserang Belanda dari semua jurusan: darat, laut, dan udara. Meskipun pemboman dari udara dilakukan dan tembakan meriam dari laut diarahkan terhadap kedua kampung itu, banyak penduduk yang mampu menyelamatkan diri (sebagian di antara yang tertembak meninggal di tempat).
Menurut Kartem, kemampuan menyelamatkan diri itu mereka peroleh berkat latihan yang intensif. Sebelum Pasukan Setan pimpinan M.A. Sentot menjadikan kedua kampung tersebut sebagai markasnya, para penduduk sudah dilatih menghadapi situasi perang. Pelatih mereka adalah penduduk mereka sendiri yang ketika zaman pendudukan Jepang menjadi tentara yang dilatih oleh para tentara Jepang.
Kampung Waledan dan Kujang, selama pasukan setan pimpinan M.A. Sentot bermarkas di situ, sangat tidak aman dari serangan tentara Belanda dan para anggota mata-matanya. Baik siang maupun malam, penjagaan diperketat untuk menghindari masuknya pasukan Belanda dan mata-matanya. Dalam soal penjagaan ini, ronda atau jaga malam digiatkan. M.A. Sentot, menurut pak Kartem, tak segan-segan menempeleng para penjaga yang kedapatan tertidur. Pak Kartem sendiri, sebagai pemuda di kampung tersebut, setiap malam berjaga malam.
Untuk mengenang pertempuan di kampung Waledan dan Kujang, di tempat itu, kini Cantigi, didirikan monumen bernama Monumen Kujang. Monumen didirikan semasa Indramayu berada di bawah pimpinan Bupati Irianto MS Syafiuddin.
Monumen tersebut secara umum berbentuk segi empat dengan tujuh tingkatan. Secara keseluruhan dilapis keramik berwarna putih. Di bagian paling atas terdapat senjata berupa kujang. Foto M.A. Sentot dipajang di bagian depan monumen tersebut sehingga bagi para pecinta sejarah sangat mudah mengenalinya sebagai komandan Pasukan Setan.
Namun, di balik kegagahan monumen yang terjaga secara baik itu, terselip pula kisah pilu pak Kartem sebagai saksi mata sekaligus pejuang yang membantu pasukan setan. Karena keluguannya, beberapa kali pak Kartem ditipu orang (mantan anggota pasukan Sentot). Jutaan rupiah sudah dikeluarkannya untuk memperoleh pensiun sebagai veteran. Betapapun dana telah ke luar, pak Kartem tak pernah memperoleh uang pensiun sebagai veteran, meskipun baju seragam sebagai veteran dapat diperolehnya.
Kisah sedikit lucu juga terdapat di balik monumen itu, khususnya di kalangan para remaja di kampung tersebut. Mereka sangat mengidolakan kehebatan perjuangan para gerilyawan di kampung itu. Sayang sekali, mereka tak banyak mengenal nama sejarah para pejuang yang bermarkas di kampungnya sehingga foto M.A. Sentot lebih mereka kenal dengan nama Marsheed. Para remaja kampung Kujang sangat mengidolakan Marsheed sehingga di tembok-tembok tempat mereka kongkow-kongkow digambari lukisan Marsheed. Padahal, menurut keterangan pak Kartem, Marsheed merupakan salah satu algojo pasukan setan yang dikenal tak kenal kompromi dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk menghabisi para pengkhianat yang tidak setia kepada perjuangan kaum gerilyawan.

Meninggalkan Markas Waledan dan Kujang
Betapapun dendam sangat membara di hati para gerilyawan, namun perang tidak bisa dilakukan secara emosional saja. Perang memerlukan taktik, strategi, dan sekian banyak perhitungan jitu. Seusai serangan besar-besaran itu, pada malam harinya, M.A. Sentot memerintahkan seluruh pasukan gerilyawan meninggalkan markas Pasukan Setan di Waledan dan Kujang. Bagaimanapun pasukan harus mengikuti instruksi dari pucuk pimpinannya. Setelah perundingan, seluruh anggota Pasukan Setan pun melakukan hijrah sesuai isi perintah komandan.
Malam itu, meskipun hujan cukup deras semua pasukan bergerak menuju desa Tugu. Namun karena hujan cukup lebat, maka gerak maju pasukan hanya sampai di desa Waru. Barulah keesokan harinya, 9 Desember 1947, pasukan M.A. Sentot bergerak menuju desa Jatisura Kecamatan Lelea untuk mengatur rencana-rencana selanjutnya. Pengubahan siasat dilakukan, sebab di desa Jatisura sendiri sudah ada pasukan gerilya yang dipimpin oleh Kapten Sumo yang siap-siaga untuk menghadapi kemungkinan datangnya pasukan Belanda dari daerah Terisi. Akhirnya diputuskan bahwa pasukan pimpinan M.A. Sentot mengisi daerah yang masih kosong yaitu di Desa Sukamulya yang diperlukan untuk menghadapi datangnya pasukan tentara Belanda dari arah Jatibarang dan Jatitujuh.
Pada posisi di desa Sukamulya ini pasukan M.A. Sentot tetap melakukan gangguan dan penghadangan terhadap patroli polisi Belanda. Namun sayang sekali, dalam sebuah penghadangan di desa Tugu, justru salah seorang anggota pasukan pimpinan M.A. Sentot ditawan oleh pihak Belanda.
Kehebatan kelompok-kelompok gerilyawan di Indramayu telah membuka mata masyarakat bahwa pasukan Indonesia memang kuat keberadaannya. Belanda pun dipaksa harus membuat banyak rencana baru untuk menghadapinya. Pada saat itulah datang kurir dari pimpinan gerilya di wilayah III, yaitu Letnan Kolonel Abimanyu yang menyatakan bahwa Indramayu ditetapkan sebagai Komando Daerah Gerilya VI yang dipimpin oleh Mayor Sangun, dan Mayor M.A. Sentot. (Bersambung ke Edisi 036.)

0 comments:

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita