Enter Your Domain Here....

Sunday, December 25, 2011

Grup Paduan Suara KORPRI Tampil Memukau

Berlatih hanya dalam waktu sekitar satu bulan setelah dibentuknya, grup paduan suara Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Indramayu mampu tampil memukau di hadapan audiens peserta apel akbar puncak peringat HUT KORPRI yang dilaksanakan di alun-alun belum lama ini. Meski dodominasi oleh para pegawai dengan rata-rata usia di atas 30 tahunan, grup paduan suara yang berkekuatan sebanyak 76 personal ini mampu menyuguhkan sajian menarik dengan komposisi suara 1 hingga 4. Para hadirin yang peserta apel pun dibuat terpukau dan tetap berada di tempatnya masing-masing. Mereka pun sangat kaget tatkala paduan suara yang tampil di hadapan mereka tak seperti biasanya. Alunan dan komposisi suara begitu mengalun dengan rancak dan apik sehingga enak dinikmati. Tampil membawakan empat lagu dalam momen upacara di antaranya Mars KORPRI, Bagimu Negeri, Syukur, dan Gebyar-Gebyar semuanya dibawakan dengan sangat apik. Para audiens pun semakin heboh tatkala mereka membawakan lagu dangdut Alamat Palsu yang syairnya diubah menjadi Kang Yance Sukses Calon Gubernur sehingga mendapat apresiasi positif dari Pak Yance dan Bupati Hj Anna Sophanah. Bahkan Pak Yance dan Hj. Anna pun tak segan-segan ikut berjoget di tengah-tengah grup paduan suara tersebut.

Menurut E. Suparjo, S.Pd. yang bertindak sebagai pelatih menjelaskan, latar belakang para anggota paduan suara yang berasal dari berbagai instansi (OPD) pada awalnya cukup menemui kesulitan. Namun lama-kelamaan dengan seringnya berlatih bersama makin padu dan kompak.

“Feeling musik dari anggota paduan suara tidak sama. Hal inilah yang menjadi sedikit kendala bagi kami untuk menciptakan sebuah paduan suara yang kompak, solid, sehati, dan seirama sehingga mempu menampilkan sajian paduan suara yang enak didengar,” jelas pria yang saat ini menjadi Pengawas TK/SD tersebut.

Suparjo menjelaskan butuh waktu ekstra cukup lama untuk hasil yang baik. Dengan berlatih sebanyak tiga kali dalam seminggu masing-masing 5 jam akhirnya grup paduan suara itu pun mampu menampilkan performa apik di hadapan audiens. Hal ini mereka buktikan dengan menmpilkan lagu-lagu Islami dalam peringatan Tahun Baru Islam yang dilaksanakan di pendopo belum lama ini.

“Dengan jadwal latihan rutin dan kemampuan yang terus berkembang kami yakin grup paduan suara ini ke depan akan makin apik penampilannya sehingga layak ditampilkan ke hadapan para audiens. Kami akan menyambut dengan tangan terbuka bagi OPD manapun yang membutuhkan penampilan grup paduan suara saat melaksanakan acara apapun,” jelas Suparjo. • pitrahari

Bupati Indramayu: “KORPRI Organisasi yang diperhitungkan”

KORPRI sebagai organisasi modern harus lebih dikembangkan menjadi organisasi yang solid, kreatif, inovatif, bahkan KORPRI menjadi organisasi yang diperhitungkan dalam pelaksanaan jalannya pemerintahan. KORPRI juga harus dapat mengembangkan dirinya baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Hal tersebut disampaikan Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah dalam sambutannya di acara Resepesi HUT ke-40 KORPRI yang berlangsung di Pendopo Raden Bagus Aria Wiralodra, Selasa (29/11/2011).

Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah mengatakan, sejalan dengan perkembangan dan perubahan paradigma pemerintahan, KORPRI di usianya yang ke-40 pada tahun 2011 ini, semakin memantapkan dirinya sebagai organisasi yang demokratis, mandiri, bebas, netral, dan bertanggung jawab, sehingga diharapkan dapat mewujudkan profesionalisme dan kesejahteraan anggotanya, serta mendukung reformasi birokrasi untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik.

Secara organisatoris, perjalanan 40 tahun telah memasuki usia yang cukup dewasa untuk menjadi organisasi yang mandiri dan kuat. KORPRI selain mewadahi aspirasi para anggotanya, juga berperan untuk mendorong para anggotanya agar lebih profesional dengan meningkatkan kinerja birokrasi dan kinerja segenap pegawai negeri sipil dalam melayani masyarakat dan menjalankan roda pemerintahan.

“KORPRI dituntut untuk mampu menjadi organisasi modern, yang bergerak secara dinamis mengikuti arus perubahan sosial dan peka terhadap berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat. KORPRI harus tumbuh dan berkembang untuk mempertahankan eksistensinya yang lebih bersifat kualitatif serta membangun citra positif dalam pelaksanaan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan,” kata bupati.

Selain itu, KORPRI sebagai organisasi modern harus lebih dikembangkan lagi menjadi organisasi yang solid, kreatif, inovatif, bahkan “diperhitungkan” dalam pelaksanaan jalannya pemerintahan, dan bukan hanya muncul karena simbol-simbol yang ditunjukan secara fisik saja. Dengan demikian, mulai sekarang KORPRI harus dapat mengembangkan dirinya, baik ke dalam maupun ke luar organisasi.

Ke dalam organisasi, lanjut bupati, KORPRI harus menjadi kekuatan besar untuk memperjuangkan anggotanya dalam hal menduduki jabatan maupun memperoleh kesejahteraan yang layak. Dalam hal ini, KORPRI memberikan masukan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam mendudukan PNS pada suatu jabatan maupun mengemukakan berbagai argumentasi untuk meningkatkan kesejahteraan PNS.

Ke luar organisasi, KORPRI harus menjadi “pusat kajian” berbagai disiplin ilmu untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan publik. Bahkan, KORPRI harus senantiasa mencermati dan mengkaji setiap fenomena sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sangat relevan, mengingat anggota KORPRI adalah PNS yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dalam memberikan pelayanan publik, dan tentunya akan senantiasa mendengar dan mampu merasakan berbagai fenomena yang terjadi berkaitan dengan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Bupati menegaskan, reformasi birokrasi mempunyai target dan sasaran untuk mewujudkan terbentuknya birokrasi yang bersih, efisien, transparan, melayani, dan terdesentralisasi. Reformasi birokrasi merupakan perubahan signifikan elemen-elemen birokrasi, yaitu kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas aparatur, pengawasan, dan pelayanan publik.

“Sudah menjadi kewajiban anggota KORPRI untuk mendukung reformasi birokrasi, khususnya di Kabupaten Indramayu. Mudah-mudahan hal ini merupakan starting point perubahan mind set aparatur pemerintah Kabupaten Indramayu menuju good governance, sehingga visi Indramayu Remaja dan misi Sapta Karya Mulih Harja dapat kita wujudkan,” kata bupati. • deni

KORPRI Kab. Indramayu Salurkan 2,3 Miliar

Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Indramayu kembali menyalurkan bantuan dana purna tugas bagi para PNS yang telah pensiun. Besarnya bantuan mencapai 2,3 miliar yang diperuntukan bagi 159 orang. Penyerahan bantuan dana ini diserahkan langsung Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah pada acara resepsi HUT ke-40 KORPRI tahun 2011 tingkat Kabupaten Indramayu yang berlangsung di Pendopo Raden Bagus Aria Wiralodra pada Selasa (29/11/2011).

Sekretaris Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Indramayu Iding Syafrudin, S.E., M.Si. menjelaskan, 159 orang yang menerima bantuan dana purna tugas tersebut adalah yang pensiun pada periode bulan Agustus-Desember 2011. Mereka terdiri dari 137 orang pensiun sesuai batas usia pensiun masing-masing menerima sebesar Rp 15.000.000,00. Kemudian pensiun muda atau pensiun atas permintaan sendiri sebanyak 7 orang masing-masing sebesar Rp. 10.000.000,00 dan pensiun karena meninggal dunia sebanyak 15 orang masing-masing sebesar Rp. 15.000.000,00.

Iding menambahkan, pemberian bantuan dana purna tugas secara kumulatif sejak bulan Januari hingga Desember 2011 telah tersalurkan kepada anggota sebanyak 654 orang sebesar Rp. 9.802.000.000,00 sedangkan untuk bantuan insidental sebanyak 600 orang sebesar Rp 571.000.000,00 sehingga total pemberian bantuan yang telah disalurkan oleh DP KORPRI Kabupaten Indramayu selama tahun 2011 sebesar Rp. 10.373.000.000,00-
Sementara itu Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah mengatakan, para pegawai negeri sipil (PNS) yang ada di Indramayu harus bangga dan bersyukur memiliki pengurus KORPRI yang memiliki kepedulian terhadap para anggotanya. Dana purna tugas yang diberikan tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh para purna bhakti sebagai modal usaha untuk kelangsungan hidup bagi dirinya dan juga keluarganya.

Bupati menambahkan, KORPRI di usianya yang ke-40 pada tahun 2011 ini, diharapkan semakin memantapkan diri sebagai organisasi yang demokratis, mandiri, bebas, netral, dan bertanggung jawab, sehingga diharapkan dapat mewujudkan profesionalisme dan kesejahteraan anggotanya, serta mendukung reformasi birokrasi untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik.

“KORPRI dituntut untuk mampu menjadi organisasi modern, yang bergerak secara dinamis mengikuti arus perubahan sosial dan peka terhadap berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat. KORPRI harus tumbuh dan berkembang untuk mempertahankan eksistensinya yang lebih bersifat kualitatif serta membangun citra positif dalam pelaksanaan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan,” demikian harapan bupati.
• deni

Korpri Wujudkan Reformasi Birokrasi

Di usianya yang ke-40 tahun, Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) bertekad untuk mewujudkan reformasi birokrasi secara berkelanjutan. Hal ini disampaikan Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah, ketika membacakan sambutan tertulis Presiden Republik Indonesia pada upacara peringatan HUT ke-40 Korpri tingkat Kabupaten Indramayu yang berlangsung Selasa (29/11/2011) di Alun-alun Indramayu.

Di era reformasi saat ini, kata bupati, birokrasi sebagai komponen utama pengelola pemerintahan negara, harus dapat meningkatkan kualitas pengabdian dan kinerja terbaiknya kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Korpri sebagai bagian utama dari jalannya roda pemerintahan, dituntut untuk meningkatkan profesionalismenya, pelayanan terbaiknya, kepada masyarakat, dan tetap memelihara netralitasnya sebagai aparatur pemerintahan.

Dalam kurun waktu empat dasa warsa, Korpri telah menunjukan peran dan tanggung jawab yang besar dalam tugas dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Korpri telah memantapkan pembinaan bagi anggotanya, baik dalam pelaksanaan tugas pemerintahan maupun tugas-tugas lainnya sesuai dengan amanat undang-undang.

“Saat ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan pembinaan jiwa Korpri dalam kebhinekaan, karena jiwa Korpri adalah jiwa dan semangat warga bangsa yang majemuk, jiwa yang mengemban amanah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, dan jiwa pengabdian tanpa membeda-bedakan asal-usul, agama, etnis, serta budayanya,” kata bupati

Saat ini dan ke depan, pemerintah berketetapan untuk terus memberikan dukungan dan fasilitasi dalam menyukseskan kelanjutan reformasi birokrasi di seluruh instansi pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Kelanjutan reformasi birokrasi diarahkan untuk membangun jajaran birokrasi yang makin efektif dan efisien. Jajaran birokrasi yang dapat mempercepat tercapainya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, mendukung percepatan dan perluasan pembangunan yang unggul dan berdaya saing, serta mempercepat dan meningkatkan kinerja di berbagai ranah pembangunan.

Pada upacara peringatan HUT ke-40 Korpri tersebut bertindak selaku komandan upacara Teguh Budiarso, S.Sos., M.Si (Camat Sukra), pembaca Teks Pancasila Drs. Asep Kusdianti (Camat Gabuswetan), pembaca Pembukaan UUD 1945 oleh Asep Afandi Djanwari, S.Sos. (Camat Kertasmaya), Panca Prasetya Korpri oleh Cusomo, S.H.CN (Camat Krangkeng), dan pembaca Anggaran Dasar Korpri oleh Drs. Asep Sabar Nugraha (Camat Kedokan Bunder).

Pada kegiatan tersebut diserahkan SK Pensiun bagi para PNS yang memasuki usia pensiun periode Bulan Desember 2011 dan Januari 2012 sebanyak 23 orang dari berbagai OPD di lingkungan Pemkab Indramayu. • deni

UPTD Pendidikan SKB Laksanakan Diklat Menjahit

Memiliki keterampilan ataupun keahlian apapun jenisnya pasti akan sangat bermanfaat untuk bekal kehidupan. Dengan memiliki keahlian tertentu kita akan mampu mandiri karena keahlian yang kita miliki dibutuhkan oleh masyarakat. Imbal baliknya kita pun akan memperoleh penghasilan yang bisa kita gunakan untuk membiayai kehidupan kita. Salah satu dari sekian banyak keahlian adalah menjahit pakaian. Pakaian (sandang) termasuk salah satu kebutuhan hidup manusia yang sangat vital. Siapapun dan dimanapun ia berada. Apa jadinya bila manusia berjalan tanpa mengenakan pakaian. Bisa-bisa akan menjadi tontonan orang.

Meski saat ini produk pakaian jadi telah membanjiri pasar namun masih banyak jenis-jenis pakaian yang tidak diproduksi secara massal seperti kebaya, baju muslimah, dan lain-lain. Masih banyak para konsumen yang lebih memilih membuat sendiri pakaian dengan membuat ke tukang jahit dengan maksud agar ukuran serta modelnya dapat sesuai selera masing-masing. Disinilah dibutuhkan jasa para tukang jahit (Taylor) yang handal.

Berkaitan dengan hal ini, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) melaksanakan pendidikan dan latihan (diklat) menjahit baju bagi para ibu rumah tangga. Program ini merupakan program dari pemerintah pusat sebagai salah satu solusi dampak diberlakukannya moratorium pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) khususnya ke Arab Saudi dan Malaysia. Indramayu sebagai salah satu kabupaten penghasil terbesar jumlah TKI sangat beruntung mendapatkan program ini karena hanya dilaksanakan di sepuluh kabupaten di seluruh Indonesia. Demikian disampaikan Kepala UPTD SKB Dra. Hj. Lili Ulyati, M.A. didampingi koordinator pelakasana kegiatan diklat Dra. Hj. Aar Arsiah saat menutup diklat yang telah berjalan selama satu setengah bulan dan diikuti sebanyak 30 orang ibu rumah tangga tersebut. Materi pelatihan terdiri dari teori menjahit (30%) dan praktek (70%). Para instruktur berasal dari lulusan Yuliana Jaya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung jurusan Tata Busana dan Pamong SKB.

Menurut Hj. Lili, dengan dilatihnya para ibu rumah tangga tersebut diharapkan mereka dapat memiliki keahlian yang nantinya dapat mendatangkan penghasilan bagi kebutuhan hidup masing-masing sehingga tidak perlu berangkat ke luar negeri menjadi TKI.
“Bekerja ke luar negeri khususnya Arab Saudi menjadi TKI sangat riskan dan banyak resikonya. Bagi yang sukses memang sangat menguntungkan namun tak sedikit pula yang gagal. Boro-boro pulang membawa uang, banyak pula yang pulang tinggal nama dan jasad membeku,” ungkap Hj. Lili.

Tujuan dilaksanakannya diklat menjahit ini menurut Hj. Lili agar supaya para ibu rumah tangga ini tidak tergiur berangkat ke luar negeri. Dengan memiliki keterampilan menjahit baju diharapkan dapat membantu suami masing-masing untuk menambah penghasilan.

“Para peserta diklat seluruhnya mendapat bantuan satu unit mesin jahit beserta peralatannya secara lengkap dan mendapat uang pengganti transport masing-masing sebesar Rp 200.000,00. Semoga dengan bantuan sosial berupa mesin jahit ini dapat menjadi sarana untuk menambah penghasilan keluarga masing-masing,” harap Hj. Lili.
•pitrahari

Hadirkan Mantan Biarawati

Peringatan 1 Muharram di Pendopo Kabupaten Indramayu yang berlangsung Kamis malam (8/12/2011) berjalan sangat luar biasa. Panitia menghadirkan seorang penceramah yang merupakan mantan biarawati yakni Hj. Irena Handono.

Ribuan umat Islam yang memadati pendopo tak beranjak dari temapt duduk karena mereka ingin mengetahui apa yang diucapkan oleh lulusan Institut Filsafat Teologia Katolik tersebut. Bahkan keseriusan mendengarkan ceramah juga ditunjukan oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah bersama suaminya, Dr. H. Irianto M.S. Syafiuddin, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Muspida).

Dalam ceramahnya Hj. Irena Handoyo menjelaskan saat ini zaman sudah terbalik, khususnya untuk umat Islam. Harusnya pada malam 1 Muharam banyak kegiatan di masjid-masjid untuk menyambut datangnya tahun baru Islam, tapi justru malah sepi.
Selain itu, hendaknya semua masyarakat muslim bisa lebih mencintai dan membudayakan kebudayaan Islam. Dirinya menilai, saat ini telah terjadi erosi percaya diri khususnya generasi muda. "Saya sangat menyayangkan. Mudah-mudahan ke depan, umat muslim akan lebih cinta dan memahami kultur budaya sendiri," paparnya.

Pada kesempatan itu juga, Hj. Irene Handono memberikan penjelasan tentang perbedaan agama antara yang pernah dianut sebelumnya dengan saat sekarang yang tengah diyakininya.

Sementara itu, Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah mengatakan, momentum tahun baru Islam diharapkan menjadi suatu kebangkitan spiritual bagi umat muslim di Indramayu untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi.

“Pergantian tahun baru Islam ini diharapakan bisa menjadikan kita sebagai manusia yang selalu berubah menuju ke arah yang lebih baik. Bukan hanya peningkatan nilai spiritual, Namun juga peningkatan kinerja secara duniawi terus ditingkatkan, sehingga kita menjadi orang yang beruntung,” kata bupati.
• deni

Masjid Nurul Huda Jatibarang Disumbang Walikota Bogor

Walikota Bogor, Drs. H. Diani Budhiarto, M.Si. menyumbang dana sebesar Rp 10 juta untuk pembangunan Masjid Besar Nurul Huda Jatibarang belum lama ini. Usai sholat Dzuhur berjamaah uang sumbangan atas nama pribadi dan keluarga langsung diterima Ketua DKM H. Ismail Marzuki disaksikan seluruh pengurus masjid.

Setelah menyerahkan shadaqoh jariyahnya, Walikota mengungkapkan bahwa dirinya merasa kehutangan budi kepada para pengurus masjid yang dulu di masa kecilnya antara tahun 1966 s.d. tahun 1970 pernah mengaji ilmu agama di Masjid Besar Jatibarang. Pada waktu itu, ayahnya H. Rahmat menjabat Kepala Pos dan Giro Jatibarang yang letak kantornya bersampingan dengan masjid Nurul Huda.

“Dulu saya tinggal di rumah dinas Kantor Pos dan Giro Jatibarang, belajar di SDN I Jatibarang dan meneruskan ke SMPN 1 Jatibarang. Sejak tahun 1974 saya meningglakna Jatibarang,” kata Walikota dengan menggunakan bahasa Jawa Dermayon.
Kedatangan Walikota Bogor, yang secara kebetulan lewat ke Jatibarang menuju Kota Cirebon itu disambut rekan-rekan seangkatannya ketika dulu sekolah di SD dan SMP. Bahkan dia sempat bersilaturahmi kepada mantan kepala SDN Jatibarang I H. Wahir di Desa Bulaklor dan salah seorang mantan gurunya Ny. Hj. Darinah di Desa Jatibarang Baru.

Menurut Walikota, dirinya merasa kangen akan tanah kelahirannya Kota Jatibarang. Selama hampir 35 tahun meninggalkan Jatibarang, lalu bersua dengan rekan-rekan ketika Indramayu menjadi tuan rumah Porda XII tahun 2003 lalu. Pasca Porda berlangsung dia terpilih sebagai Walikota Bogor selama dua periode sampai sekarang.

Ketua DKM Nurul Huda Jatibarang, H. Ismail Marzuki mengungkapkan terima kasih atas kepedulian Walikota Bogor yang juga rekan bermain semasa kecilnya itu. Mudah-mudahan shadaqah jariyahnya menjadi amal soleh.
• undang

Pilkuwu Di Desa Plumbon Berjalan Tibmancar Sukses Tanpa Ekses

Pemilihan kuwu (pilwu) yang dilaksanakan di Desa Plumbon Kecamatan Indramayu pada Rabu (7/12/2011) lalu berjalan secara Tibmancar (tertib, aman, dan lancar), sukses tanpa ekses. Kesadaran semua pihak yang terkait dalam proses pilwu seperti kedua calon dan para pendukungnya, panitia pilwu dan BPD sangat komitmen terhadap suksesnya pelaksanaan pilwu. Kedua calon kuwu (Murdin dan Sugono) telah bersepakat untuk bersikap satria dan legowo dengan menerima kemenangan maupun kekalahan. Tekad keduanya tertuang dalam pernyataan yang telah ditandatangani bersama. Kerja sama dan koordinasi yang dilakukan berjalan dengan baik sehingga pemilihan kuwu pun dapat berjalan dengan baik pula tanpa menimbulkan ekses negatif apapun dan menghasilkan terpilihnya Sugono sebagai kuwu baru Desa Plumbon untuk masa jabatan 2012 – 2017.

“Alhamdulillah, proses pilwu di Desa Plumbon telah berjalan dengan baik. Hal ini merupakan hasil kerja keras dan kerja sama yang baik antar pihak terkait seperti panitia pilwu, BPD, muspika, para calon kuwu serta para pendukungnya demi suksesnya proses pilwu. Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua komponen yang telah bekerja sangat keras khususnya panitia dan BPD serta masyarakat yang telah mampu menjaga kondusivitas Desa Plumbon dengan baik. Tanpa kerja sama yang baik antar komponen masyarakat maka mustahil pilwu Desa Plumbon akan berjalan dengan tertib, aman, dan lancar,” jelas Ketua Panitia Pilwu, Sanusi, S.Pd. yang diiyakan Ketua BPD Plumbon, Pitrahari, SIP.

Secara umum Pemkab Indramayu telah berhasil melaksanakan pilwu yang dilaksanakan serentak di 136 desa dengan tingkat keberhasilan mencapai 98%. Aparat keamanan pun telah bekerja ekstra maksimal dan mampu dengan cepat mengendalikan situasi di empat desa yang dilanda kerusuhan pasca pilwu. Diharapkan, keberhasilan suksesi kepemimpinan di tingkat desa ini akan membawa dampak positif bagi pelaksanaan pembangunan daerah Indramayu ke depan.
• pitrahari

Atlet Peraih Medali Sea Games XXVI Mendapat Uang Cendol Pasang Foto Susanto Megaranto dari internet

Lima atlet asal Indramayu peraih medali emas, perak dan perunggu pada Sea Games XXVI Jakarta – Palembang memperoleh uang cendol dari Pemkab Indramayu yang diserahkan Bupati Hj. Anna Sophannah di Pendopo Raden Bagus Aria Wiralodra, baru-baru ini.
Lima atlet itu Ferdi Firmanda Surya atlet kempo peraih medali emas kelas beregu campuran Kyukensi putra, Jane Mataliti Bone peraih emas cabang kempo. Selain itu, GM Susanto Megaranto peraih medali emas cabang catur kelas standar perorangan putra.
Lena peraih perak, perunggu, perunggu cabang sepak takraw pada nomor tim, regu, dan efent. Dan Leni peraih medali perak cabang sepak takraw nomor tim.

Ketua KONI Kabupaten Indramayu, Syafrudin, menyatakan terima kasih dan dukungannya kepada atlet asal Indramayu yang mencatatkan prestasi medali emas, perak dan perunggu pada pesta olah raga Asia Tenggara Sea Games XXVI Jakarta – Palembang.
“Kalau uang bonus itu sudah mereka terima dari Pemerintah Pusat. Kami KONI dan Pemkab Indramayu memberikan uang cendol atau uang sabun saja untuk para atlet kita (Indramayu, red.) yang berprestasi meraih medali,” ujarnya.
• tr

Sebelas Anak Anjatan Disunat Massal

SALAH satu kewajiban orang tua adalah mengkhitan atau nyunati anak lelakinya. Tetapi, terkadang kesulitan hidup membuat orang tua menunda-nunda mengkhitan anaknya sampai dana yang diperlukan cukup terkumpul. Pada sisi lain, anak terus tumbuh dan sudah merasa malu kepada teman-temannya karena belum disunat. Salah satu problem masyarakat itu menjadi perhatian Asep dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) Kecamatan Anjatan. Mereka dengan dukungan camat Anjatan, Mulya Sedjati, S.E., mengadakan acara bakti sosial yang di dalamnya ada sunatan masal, donor darah, dan sosialisasi TRIAD KRR yang isinya mengajak para remaja untuk tidak meminum minuman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang.

“Sunatan masal dilaksanakan pada hari Senin, 28 November 2011. Acara dimulai sejak jam 08.00 Wib. Sebelas anak naik sisingaan dan elang-elangan diarak di jalan raya. Setelah mereka balik ke halaman kantor Kecamatan Anjatan, acara seremonial dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh Ustadz Rosim, dilanjutkan dengan ceramah agama oleh ustadz Jamaludin Kahfi dari Bongas. Pada kesempatan ini, camat Mulya Sedjati juga menyampaikan sambutan dan berdoa semoga sebelas anak yang dikhitan menjadi anak yang soleh. Selanjutnya, Dokter Asep, Mantri Aco, dan Mantri Rokim menyunati sebelas anak itu di aula kantor Kecamatan Anjatan. Sebelas anak itu mendapatkan satu stel baju baru, sarung, parcel, uang, dan pecingan dari Camat Mulya dan karyawan kecamatan. Alhamdulillah acara sunat masal sukses,” tutur Asep selaku ketua PIKR yang disetujui oleh Pratista Herdiansyah dan Robby Chandra selaku panitia inti acara ini.

“Insya Allah tahun depan kami akan melaksanakan bakti sosial seperti ini lagi, yang lebih besar, rapih, dan tertib. Untuk semua pihak yang telah membantu kami sampaikan banyak terima kasih,” ujar Pratista semangat. Anak muda, mestilah selalu optimis dan semangat! untung

Kita Bukan Organisasi Tukiyem

PUSAT Informasi Konseling Remaja di setiap kecamatan di Indramayu sudah dibentuk. Bahkan di setiap desa juga sudah dibentuk. Dananya juga ada dan dianggarkan di Anggaran Dana Desa (ADD). Organisasi ini keberadaannya sangat penting sebagai wahana aktivitas remaja agar terhindar dari perilaku-perilaku yang negatif. Tetapi, seperti telah menjadi budaya buruk di Indramayu, bahwa segala sesuatu yang baru akan ramai dibicarakan. Mereka menaruh harapan dan bersemangat untuk mewujudkan keinginan. Tapi setelah organisasi dibentuk, pengurus organisasi lengkap didelegasikan, selanjutnya adalah Tukiyem akronim dari Dibentuk lalu diem.

“PIKR Anjatan bukan Tukiyem. Kita punya kegiatan rutin kunjung desa, kunjung sekolah, dan kegiatan lainnya. Kita juga punya kegiatan kewirausahaan dalam bentuk ternak kambing dan pemecahan bijih plastik daur ulang sampah plastik,” ungkap Muhammad Asep, Ketua PIKR Kecamatan Anjatan yang beranggotakan 13 PIKR desa.

“Bukti eksistensi kami di antaranya kegiatan sosial sunatan masal kemarin. Itu hasil kerja PIKR Anjatan. Alhamdulillah kegiatan sukses. Padahal halangan dan rintangannya sangat banyak. Yang paling sulit adalah mencari dana. Banyak orang yang tidak menyumbang tapi ngomongnya pedas. Mereka mencurigai kami mencari keuntungan dari dalih sosial. Alhamdulillah yang mendukung dan menyumbang juga banyak,” ujar Pratista, Ketua Pelaksana sunatan masal yang kini lega karena dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya dan teman-temannya murni bersosial.

“Panitianya banyak. Tapi yang paling bertanggungjawab ada enam orang. Kita berenam mobat-mabit mencari dana dan mengurus segala macam untuk keperluan acara ini. Cape tenaga tidak kami rasakan. Cape hati dicurigai yang jelek-jelek cukup mendera di hati. Yang lebih membuat tertekan adalah ketika kami ditakut-takuti bila terjadi kecelakaan dokter atau mantri memotong kulup-nya berlebihan hingga nyerempet memotong topong kaji. Kami bisa mendapat masalah besar. Dalam hal ini kami tidak habis-habisnya berdoa agar maksud baik kami tidak menimbulkan becana. Alhamdulillah semua sukses,” kata Robby Chandra, pemuda dari Wanguk yang bertampang galak tapi hatinya sangat halus penuh kasih sayang pada anak-anak miskin.

Perjuangan PIKR Anjatan mengusung kegiatan sosial sunatan masal mestinya mendapatkan dukungan dari segenap lapisan masyarakat Anjatan. Gema kegiatan mereka diharapkan juga dapat membangkitkan PIKR-PIKR di kecamatan lain. Hai para pemuda bangkitlah untuk berkarya janganlah menjadi generasi Tukiyem yang dibentuk langsung diem. (untung)

Tangisan dari Lembah Hitam 3: Penjahat itu Ayah Kandungku

AYAHNYA bernama Edi tapi dijuluki oleh orang-orang “Plentong” memang malas bekerja. Sejak menikah dengan Mursinah kelakuannya seperti mandor kawat; kerja kendor mangane kuat. Makan, minum, dan sebagainya minta pada mertua. Ibu mertuanya semakin benci pada Plentong tapi apa daya Mursinah sangat mencintai Plentong. Sampai mertua perempuannya meninggal dunia, Plentong belum juga mau bekerja. Ketika peninggalan mertua tinggal rumah tua dan perabotan yang juga tua, Plentong menjual keperawanan anak tirinya kepada sekelompok preman. Plentong mendapatkan uang lima juta rupiah, tapi anak tirinya yang baru seminggu duduk di kelas enam SD harus melayani sekawanan setan berwujud manusia. Warti mengalami pendarahan hebat dan terkapar tanpa daya. Walaupun begitu, Plentong langsung menjual Warti ke seorang germo di Jakarta. Plentong langsung bon banyak uang ke germo, membuat Warti terpenjara di tempat pelacuran itu hingga hutangnya lunas. Tapi dua tahun kemudian, Warti semakin besar dan berani menyelamatkan dirinya. Warti kabur dan tak pernah kembali lagi sampai kisah ini ditulis.

Warti kabur, Plentong berbalik mengincar anak kandungnya sendiri yang baru duduk di kelas lima SD. Dewi yang bertubuh kuntet dan berkulit gelap tidak pernah menyangka akan dijual juga. Dewi tahu dirinya jauh dari cantik. Ukurannya sangat mini. Tapi kata Plentong yang penting perawan. Dewi dibawa paksa oleh Plentong ke Jakarta. Tapi ditawar-tawarkan semurah apapun, tidak ada lelaki hidung belang yang mau dengan anak kecil berkulit geseng. Plentong kesal tapi dia akan menunggu satu tahun ke depan dengan harapan Dewi akan bertambah besar dan kulitnya tidak terlalu gosong. Dewi dilarang sekolah dan ke luar rumah oleh Plentong. Pikiran Plentong biar Dewi cepat besar dan kulitnya menjadi cerah karena tidak terbakar matahari.

“Setahun kemudian aku dijual oleh bapak. Aku menjadi pelacur cilik. Tapi biarpun tubuhku kecil, aku perempuan normal. Aku hamil. Walaupun ayahku memaksa aku menggugurkan bayiku, aku tidak mau. Aku berpura-pura saja sudah memencet bayiku pada dukun urut dan minum berbagai ramuan pengguguran kandungan. Aku ingin merawat bayiku. Tapi ternyata setelah empat puluh hari melahirkan, ayah memaksaku berangkat melacur lagi. Bayiku diurus oleh tetangga. Rasanya hati ini pedih sekali. Tapi apalah dayaku. Begitu kerasnya ayah ingin menjualku hingga ketika tetanggaku tidak mau lagi mengurus bayiku, ayahku sendiri bersedia momong bayiku. Seorang bapak-bapak momong bayi seperti seorang perempuan hanya karena ingin menjual anaknya. Aku sedih juga kesal. Ayahku sangat boros. Motor yang aku belikan dijual. Hutangnya banyak di mana-mana. Entah uangnya buat apa. Akhirnya aku bawa bayiku ke Jakarta. Aku ngontrak rumah dan menggaji pembantu. Aku tidak mau lagi berurusan dengan ayahku. Sementara ini aku jalani hidup sebagai pelacur sampai aku mempunyai modal untuk buka usaha atau ada lelaki yang mau serius menikahiku. Itulah kisahku yang berurai air mata. Hidupku disiksa oleh penjahat, dan penjahat itu adalah ayah kandungku sendiri. Semoga orang lain tidak mengalami nasib getir seperti diriku. Untuk kakakku Warti yang kabur belum kembali, bila membaca kisah ini, tolong temui aku adikmu Dewi,” kata Dewi seraya menghapus air matanya yang kerap berderai di hari-harinya yang kotor nan kelam. (untung)

Jangan Memancing Keributan Pilwu

KESENANGAN setiap orang bisa jadi berbeda-beda tapi bisa juga sama. Seperti halnya Tohir, lelaki separuh baya dari Desa Salamdarma ini mempunyai kesenangan yang berbeda dengan orang sedesanya. Sebagian besar orang dewasa di desanya sedang gandrung mengidolakan calon kuwunya masing-masing. Jalan besar sampai gang kecil semarak dihiasi gambar-gambar calon kuwu. Sebagian orang bergerombol di sana, sebagian lagi bergerombol di sini. Tiada hari tanpa membicarakan pilihan kuwu komplit dengan calon kuwunya. Terkadang bukan lagi membicarakan tapi mulai panas menjadi perdebatan dan pertengkaran. Jangankan ribut dengan teman, dengan saudara juga jadi berantem. Bahkan para preman mulai naik spaneng dan siap jotos-jotosan! Tapi Tohir, lebih memilih mancing. Berdiri di pinggir kali Salamdarma memancing ikan. Tohir bahkan tidak menghiraukan suasana di seberang kali, di atas tanggul ada panggung dan sound system yang suaranya keras bukan main. Di sana orang-orang berteriak-teriak mengampanyekan calon kuwunya.

“Saya tidak suka ikut-ikutan mereka. Lebih enak mancing ikan daripada mancing keributan di Pilwu. Bagaimana tidak ribut, kandidat kuwunya ngawur. Kalau kandidatnya saja sudah ngawur, pengikutnya pasti lebih ngawur!” jawab Tohir seraya melemparkan kailnya ke tengah sungai. “Di desa lain ada calon kuwu memalsukan ijazah tapi tetap bisa nyalon kuwu. Padahal saksinya orang sekampung bahwa dia tidak pernah sekolah Kejar Paket B apalagi SMP! Di desa lainnya para penjudi semakin menggila dan sudah membeli kartu pilih masyarakat. Mereka menyiapkan joki pemilihan. Panitia Pilwu bisa disuap! Masyarakatnya juga mata duitan! Tidak punya harga diri, disuap lima puluh ribu saja langsung hehehe manut nurut! Ada calon kuwu mantan preman, mantan WTS, bahkan masih exist jadi germo. Herannya orang seperti itu pengikutnya cukup banyak. Kalau mereka yang jadi, mau dibawa kemana desa-desa itu?” cerocos Tohir lancar selancar alir sungai Salamdarma.

Tohir menarik pancingnya. Seekor ikan dia dapatkan. Wajahnya cerah bahagia. Dimasukannya ikan ke dalam kembu yang diikatkan dipinggangnya. Tohir kembali melemparkan kailnya ke tengah sungai. Kemudian Tohir menjelaskan bahwa kesenangannya memancing sudah dijalaninya sejak kecil. Dia sudah mancing di pantai Cantigi sampai pantai Glayem Juntinyuat. Memancing bagi Tohir sangat mengasyikan apalagi ketika merasakan mata kail sedang ditarik ikan. Rasanya senangnya tidak bisa dilukiskan. Senangnya adalah candu!

“Temanku, sesama pemancing dari kecamatan Haurgeulis, kemarin bercerita bahwa suasana politik Pilwu di Haurgeulis semakin panas. Sudah pada tahapan ancaman dan intimidasi. Seorang bos yang kaya raya memaksa para karyawannya untuk mendukung calwu jagoannya sementara para karyawannya memiliki idola lain. Ributlah mereka. Kalau tidak percaya tanya saja pada temanku itu!” kata Tohir seraya menunjuk pemancing lain yang ada di sebelah sana. Sabtu sore itu, memang cuacanya cerah sehingga banyak pemancing yang datang untuk memancing di kali Salamdarma.

“Tidak di Haurgeulis saja yang suasana politik Pilwunya memanas. Di kecamatan lain juga sama. Suasana politik Pilwu itu memang lebih gawat dibandingkan dengan pemilihan bupati atau gubernur,” jawab Dirman pecandu mancing dari Kecamatan Haurgeulis yang sore itu mancing di Kali Salamdarma. “Saya harap polisi benar-benar bekerja maksimal mengamankan Pilwu. Agar Pilwu Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil! Tangkap saja para perusuhnya baik para penjudi atau simpatisan yang anarkis!”

Dirman dan Tohir lebih memilih memancing ikan daripada memancing keributan Pilwu. Toh Dirman atau Tohir sudah memiliki calon kuwu idaman yang akan dia pilih di hari rabu, 7 Desember 2011. Calon kuwu itu agamis, baik hati dan ramah, berpengalaman dalam bekerja dan dewasa. Calon kuwu pilihannya itu tidak pernah memberinya uang. Tapi semoga nanti bisa memberi masyarakatnya pembangunan desa yang baik. Tohir dan Dirman memang tidak suka memancing keributan apalagi keributan dalam Pilwu. Tapi kata mereka, bila pulang mancingnya terlalu malam, berarti mereka memancing keributan dengan istri. Siap-siap saja disambut manyun oleh sang istri! (bagus/untung )

Masamnya Jeruk Nipis, Bisa Jadi Uang Miliaran

PETANI Mangunjaya Salamdarma Kecamatan Anjatan boleh dibilang cerdas. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sudah memiliki jaminan. Untuk kebutuhan harian bisa diperoleh dari penjualan tanaman sayur-mayur. Untuk kebutuhan mingguan bisa diperoleh dari hasil penjualan palawija. Kebutuhan tengahan bulan dari jeruk nipis dan kebutuhan bulanan dari penjualan pisang. Masih ada lagi penghasilan lain yaitu penghasilan musiman dari mangga dan padi.

“Hidup di Mangunjaya, kalau rajin tidak akan kelaparan. Kita di sini cukup mangan dan nyandang. Tapi yang namanya hidup kan keinginannya banyak. Ingin menyekolahkan anak, ingin memperbaiki rumah dan lain-lain,” tutur Carlim, yang punya tanaman jeruk nipis seluas 7 hektar. “Mangunjaya itu kaya hasil bumi. Padi, mangga, pisang, jeruk nipis, sayur-mayur berlimpah di sini. Permasalahannya dijualnya ke satu tempat yaitu ke pasar induk Jakarta. Dari mana-mana dijualnya ke situ jadinya harga jatuh! Harga per kilo jeruk nipis Rp 3000,00; mangga Rp 4.500,00; dan pisang Rp 3.500,00. Murah sekali sehingga sangat menghantam petani Mangunjaya,” keluh Carlim yang menginginkan di Mangunjaya didirikan KUD yang solid dan terpercaya. KUD yang bisa membantu meringankan beban para petani. Selama ini KUD yang dibentuk tidak berjalan dengan baik.

“Lebih menolong petani jika pasar sayur mayur dan buah-buahan Pasar Patrol diperbesar agar penjualan tidak terlalu tersentral ke pasar induk. Karena tidak ada saingan orang pasar induk jadi semena-mena menentukan harga. Kitanya karena takut busuk harga berapapun dijual,” timpal Darpin rekan Carlim sesama petani jeruk nipis. “Cobalah para pemimpin bantu kami dalam pemasaran hasil bumi. Hasil bumi berlimpah karena lahannya berhektar-hektar tapi pemasarannya jatuh harga.”

Pendi sang supir truck yang setiap hari mengirim hasil bumi ke pasar induk Jakarta menyentujui keluhan dan permohonan teman-temannya. Andai saja Pasar Patrol bisa diperbesar, konsumen sayur-mayur dan buah akan datang ke Patrol. Itu kemajuan yang luar biasa bagi Indramayu yang membuat petani jadi tersenyum. Indramayu itu kaya raya tapi belum dimanajemen dengan sebaik-baiknya.

Mestinya, tidak hanya pemasaran yang dipikirkan. Pengolahan hasil bumi juga harus dipikirkan. Sesungguhnya jika kreatif dan rajin, jeruk nipis bisa dibuat menjadi sirup, permen, dan makanan lainnya. Kalau orang Subang bisa membuat dodol nanas, nestar, dan keripik nanas, kenapa orang Mangunjaya masih takut jeruk-jeruknya busuk tidak terjual jika bisa diolah jadi makanan? Dalam hal ini, Mangunjaya butuh penggerak. Pak Kuwu, Ibu kuwu yang punya PKK, Karang Taruna yang punya pemuda, semua masyarakat Mangunjaya, di depan mata Anda ada tantangan untuk berkarya! Ora usah keder arep mbangun apa, ora kudu nggoleti pekerjaan sing ora puguh! Masamnya jeruk nipis bisa jadi uang miliaran! (bagus/untung)

Tuesday, December 20, 2011

Salamdarma, Peninggalan Belanda yang Kurang Terawat

BENDUNGAN Salamdarma dibuat oleh Belanda pada tahun 1923, jauh sebelum Indonesia Merdeka. Ternyata ada juga peninggalan penjajah yang bermanfaat untuk Indonesia di masa kini yaitu untuk kepentingan pengairan area pesawahan dan perkebunan. Bendungan ini ada di perbatasan Kabupaten Subang seluas 11.684 hektar dan yang berada di Kabupaten Indramayu lebih luas yaitu 24.504 hektar. Di Salamdarma dua aliran air dari sungai Cipunegara dan sungai Karawang bertemu dan dialirkan ke sungai Sewo dan sungai Salamdharma yang mengalir ke Wanguk, sampai Lonyod. Salamdarma diurus oleh Perum Jasa Tirta II Divisi III yang kantornya ada di Kecamatan Patrol.

Bendungan Salamdarma memang tidak seindah dulu. Sekarang memang masih tampak segar karena banyak tetumbuhan hijau nan rindang di sana. Tetapi bunga-bunga beraneka warna yang menambah indah dan semarak suasana sudah tidak kelihatan lagi. Mungkin pengurus Salamdarma semakin hari semakin malas memelihara taman. Padahal dari dulu hingga sekarang, Salamdarma adalah objek wisata gratis tempat masyarakat istirahat meneduhkan raga dan pikiran.

“Setiap hari Salamdarma tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka sengaja datang ke Salamdarma untuk duduk-duduk menikmati pemandangan yang indah di sekitar Salamdarma. Suasana lebih ramai pada hari minggu dan hari libur,” tutur Eko, yang mengaku sebagai pekerja honorer untuk mengurus Salamdarma. “Salamdarma tempatnya anak-anak sekolah kabur atau bolos dari sekolah. Mereka datang dari berbagai sekolah dari Indramayu atau Subang. Mereka berkonvoi motor dan bermain-main di sini melupakan kepenatan dan berbagai masalah rumit remaja,” kata Eko menjelaskan.

Sementara Malik dan istrinya mempunyai alasan lain mengapa dia mampir ke Salamdarma. Lelaki ganteng alumni SMA Negeri 1 Anjatan ini ingin mengenang dan merasakan kembali masa-masa indah berpacaran dengan istrinya. Dulu Malik dan istrinya sering sama-sama bolos sekolah dan datang ke Salamdarma untuk sekedar duduk-duduk menikmati keteduhan alam dan suara air yang gemericik. Rasanya damai dan romantis. Apalagi objek wisata ini gratis. Jadilah kenangan yang manis abis. Jika melewati Salamdarma dan tidak sedang tidak terburu-buru, Malik dan istrinya sering mampir beristirahat di Salamdarma.

“Dulu kita pacarannya di sini. Di Salamdarma ini. Eh sekarang usahanya di sini juga,” kata Ami si pedagang mie ayam di Salamdarma. “Jadinya serasa pacaran terus deh hehehe...,” kata Ami seraya tertawa ceria. Kiranya Salamdarma bagi Ami adalah keindahan cinta dan juga tempat mencari nafkah. Dulu pelaku pacaran sekarang pedagang merangkap pengawas orang-orang yang pacaran. “Cuma duduk-duduk saja kok. Salamdarma bersih dari yang begituan. Lagian malu kalau begituan di tempat terbuka begini. Tidak percaya lihat saja itu orang-orang yang sedang memadu janji asmara hehehe...” lagi-lagi Ami tertawa mungkin sambil bicara dia ingat nostalgianya di Salamdarma dengan sang suami tercinta.

Salamdarma menjadi objek wisata gratis dan dijadikan tempat memadu janji asmara adalah dampak dari keteduhan dan keindahan alam. Fungsi utama Salamdarma adalah untuk pengairan pesawahan dan perkebunan. Manfaat keberadaan Salamdarma sudah tidak diragukan lagi, sangat menolong masyarakat tani. Semoga keberadaan Salamdarma tetap terjaga dan ditingkatkan lagi keindahannya. Ingatlah, di masa semerdeka sekarang belum tentu Indramayu mampu membangun bendungan serupa Salamdarma. Bersyukur, berbangga, dan jagalah! (bagus/untung)

Masyarakat Hibahkan Tanah untuk TNI

Manunggalnya TNI dengan rakyat di wilayah Kabupaten Indramayu semakin nyata. Hal ini dibuktikan dengan dihibahkannya tanah dari tiga orang warga masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu yang selanjutnya diserahkan kepada TNI sebagai lahan untuk Markas Koramil Cikedung. Penyerahan hibah tanah tersebut berlangsung Senin siang (28/11/2011) di Koramil Cikedung.

Ketiga warga masyarakat yang dengan rela dan ikhlas menyerahkan tanahnya untuk kepentingan TNI tersebut yaitu H. Camin seluas 910 meter persegi, Sopari seluas 305 meter persegi, dan Salamah seluas 1.750 meter persegi. Menurut ketiganya, hibah tanah ini merupakan keinginan dari masing-masing pribadi untuk ikut serta dalam membantu pemerintah dan TNI untuk terus membangun wilayahnya.

Secara berurutan ketiga warga masyarakat tersebut menyerahkan akta tanahnya kepada Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah, yang selanjutnya diserahkan kepada Komandan Resort Militer (Danrem) 063/Sunan Gunung Jati, Kolonel Ali Sanjaya yang kemudian diteruskan kepada Dandim 0616 Indramayu Letkol ARH. Hari Arif Wibowo.

Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah pada kesempatan itu menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada ketiga orang tersebut yang dengan rela dan ikhlas menyerahkan hartanya berupa tanah kepada pemerintah. “Saya bangga kepada ketiga orang ini, di tengah situasi dan kondisi seperti ini masih ada orang yang dengan rela dan ikhlas memberikan hartanya kepada pemerintah untuk pembangunan. Insya Allah apa yang telah diserahkan pada hari ini akan diganti dengan yang lebih besar kelak nanti,” kata bupati.

Sementara itu Danrem 063/Sunan Gunung Jati, Kolonel Ali Sanjaya, mengatakan, hibah tanah yang telah diserahkan oleh warga masyarakat ini akan dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh TNI. Hibah tanah ini menambah kayakinan TNI dapat bersatu dengan masyarakat, karena pada hakekatnya TNI berasal dari rakyat dan kembali pula kepada rakyat. • deni

Pilwu di Desa Segeran Kidul Aman dan Lancar

Pemilihan Kuwu (Pilwu) di Desa Segeran Kidul Kecamatan Juntinyuat yang diikuti oleh enam orang calwu berjalan cukup menegangkan, tetapi relatif aman dan lancar. Menurut Miftahul Fatah, M.Pd.I. (Ketua Panitia Pilwu Desa Segeran Kidul), para calon kuwu (calwu) itu terdiri dari nomor urut 1 Lukman Hakim, nomor urut 2 Masduki, S.Ag., nomor urut 3 Muchsin, nomor urut 4 Ibnu Mas’ud, nomor urut 5 Casnita, dan nomor urut 6 Sumaerih. Pelaksanaan pilwu yang cukup menegangkan itu mulai sejak 07.30 pagi hari hingga selesai perhitungan dan pengumuman pemenang oleh ketua panitia beberapa saat sebelum tibanya waktu shalat Isya.

Berdasarkan hasil perhitungan terakhir, menurut Miftahul Fatah, M.Pd.I. calwu dengan nomor urut lima yaitu berhasil terpilih sebagai Kuwu Baru untuk Desa Segeran Kidul Kecamatan Juntinyuat. Casnita meraih 2.113 suara, jauh mengalahkan lawan-lawannya yang masing-masing memperoleh 239 suara untuk calwu nomor urut 1; 144 suara untuk calwu nomor urut 2; 1.193 suara untuk calwu nomor urut 3; 562 suara untuk calwu nomor urut 4; dan 915 suara untuk calwu nomor urut 6.

Panitia pilwu di Desa Segeran Kidul tampil cukup berdisiplin dengan mengenakan pakaian safari berwarna hijau tua. Selain Miftahul Fatah, mereka terdiri dari Jaelani, Kadi Amin, M.Si., Said, M.Pd.I., Drs. Maksuni, Nurimah, Dasta, Sutrisno, Tauhid, Kusen, A.Ma., Amir Mahmud, Tisnawati, Mulyani, Samuri, Salira, Rumli, S.Pd.I, Wartono, Zaenal Masduki, Sunami, S.Pd.I., dan Yusuf, M.Pd.I.

Camat Juntinyuat pun, Drs. H. Achmad Mansyur, M.Si., hadir dan turut membimbing panitia agar pelaksanaan tidak mengalami kendala. Ketika terjadi hal-hal yang mengundang kerawanan, misalnya saat antri melakukan pencoblosan pak Camat tak segan-segan menegur langsung petugas. Saat Mulih Harja memantau di tempat pintu ke luar para pemegang hak pilih yang telah melaksanakan pilihan, misalnya, terdapat beberapa orang yang menerobos antrian melalui pintu ke luar dari lokasi arena pemilihan. Saat itu juga, pak Camat langsung marah dan menegur petugas keamanan. “Harus tegas. Jangan berikan toleransi sedikitpun dan kepada siapapun,” instruksinya kepada petugas keamanan yang “kebobolan”.

Sementara itu, ketika ditanya oleh Mulih Harja mengenai jumlah pemegang hak suara di wilayah pilwu yang dipimpinnya, Miftah selaku ketua panitia menjelaskan bahwa berdasarkan data yang ada hingga akhir perhitungan suara, jumlah suara sah 5.166, suara yang tidak sah ada 68, sehingga total suara yang masuk 5.234. Jumlah suara yang masuk itu di bawah angka pemegang hak pilih tetap yaitu 7.034 orang, terdiri dari 3.463 orang laki-laki dan 3.571 orang perempuan. Jumlah hak pilih tambahan mencapai 200 orang, terdiri dari 109 orang laki-laki, dan 91 orang perempuan. Lantas ke manakah mereka yang tidak melaksanakan hak pilihnya? “Pada umumnya mereka bekerja di luar daerah dan di luar negeri. Mereka tak dapat pulang dalam rangka pilihan kuwu di desanya,” ujar Miftah.

Setelah perhitungan, sebagai Ketua Panitia Miftahul mengumumkan hasil perolehan suara untuk setiap calwu. Pengumuman yang disampaikannya sempat terkendala oleh matinya mikrofon (dan pengeras suara). Suasana ketegangan muncul kembali sebab di lokasi pilwu sudah dipenuhi oleh para pendukung calwu yang sengaja memasuki arena pilwu di halaman Balai Desa Segeran Kidul itu. Namun setelah soud system berhasil diperbaiki, pengumuman dapat dilanjutkan. Sorak sorai membahana ketika perolehan suara calwu nomor urut 5 diumumkan sebagai pemenang. Sorak sorai itu berasal dari para pendukung Casnita, calwu nomor urut lima.

Detik-detik yang menegangkanpun berhasil dilalui. Secara keseluruhan pelaksanaan pilwu di Desa Segeran Kidul berjalan aman dan lancar. Beberapa menit setelah kegiatan pilwu usai, hujan deras pun turun dari langit di atas Desa Segeran Kidul.
• rofi/sayama

Pertamina Serahkan Bantuan Pendidikan dan Kesehatan

P.T. Pertamina EP Region Jawa Field Jatibarang, pada Kamis (24/11/2011) menyerahkan bantuan pendidikan dan kesehatan untuk warga Desa Tanjung Pura, Kecamatan Karangampel, Indramayu, Jawa Barat.

Bantuan yang diserahkan Field Manager Jatibarang, Bambang Sutrisno itu meliputi 200 buah tas sekolah, 200 seragam sekolah, 280 pak buku tulis serta 7 buah timbangan bayi guna menunjang kesehatan.

Wajah bocah-bocah SDN Tanjung Pura itu setelah memperoleh paket bantuan pendidikan tampak ceria. Dengan girang mereka berlari ke luar Kantor Kepala Desa Tanjung Pura, tempat penyerahan paket bantuan pendidikan itu. Di punggung anak SD itu tampak tas sekolah yang di dalamnya berisi baju seragam dan 1 pak buku tulis.

Pemberian bantuan pendidikan dan kesehatan itu, kata Bambang Sutrisno, Field Manager Jatibarang, sebagai wujud kepedualian P.T. Pertamina EP Region Jawa Field Jatibarang melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). “Bantuan yang diberikan meliputi 200 buah tas sekolah, 200 baju seragam sekolah, 280 pak buku tulis, dan 7 buah timbangan bayi,” ujar BambangSutrisno.

Pada kesempatan itu Bambang Sutrisno mengharapkan do’a dan dukungan masyarakat terhadap perusahaan agar terus ditingkatkan. “Kami atas nama pribadi dan perusahaan yang telah hadir di desa ini sejak 40 tahun silam menyatakan terima kasih dan permohonan maaf apabila setiap hari Bapak/Ibu melihat kendaraan operasi hilir-mudik di desa ini,” ujarnya.

Kepala Desa Tanjung Pura, Tarsono, mengakui sektor pendidikan dan kesehatan itu dinilai sebagai modal utama bunga-bunga bangsa sebagai generasi penerus. “Mudah-mudahan pemberian bantuan pendidikan dan kesehatan ini bisa mengurangi beban masyarakat,” ujarnya seraya mengajak warganya agar terus menjaga asset-asset perusahaan, khususnya yang ada di RT 01 dan RT 02 Desa Tanjung Pura.
• tr

Pilwu di Jatibarang dan Sliyeg Aman dan Kondusif

Di Kecamatan Jatibarang terdapat empat desa yang melaksanakan pilwu. Dari tiga calon yang tampil pada pilwu di Jatibarang dimenangkan oleh H. Nartawan dengan memperoleh sebanyak 2.077 suara mengalahkan Henry Faturokhman dan Sumarno yang memperoleh masing-masing 1.422 suara dan 413 suara.

Di Desa Pawidean terdapat dua calon. Pemenangnya H. Warsono dengan meraih 1.842 suara mengalahkan Taryadi yang meraih 1.576 suara. Polwu di Desa Lobener diraih Sudarmo dengan memperoleh 1.734 suara, sedangkan lawannya bumbung kosong meraih 123 suara. Dan Desa Lobener Lor calwu Mahfudin meraih 1.946 suara dan lawannya bumbung kosong 194 suara.

Suksesnya pilwu di Desa Jatibarang menurut Ketua Panitia Pilwu, Kadrawi, salah satunya karena tahapan-tahapan kegiatan telah dilaksanakan dengan baik. Setiap tahapan yang diambil panitia merupakan hasil kesepakatan dari ketiga calon kuwu.
“Alhamdulillah pilwu di Kecamatan Jatibarang aman, damai, dan kondusif tanpa ada akses apapun, baik sebelum pelaksanaan maupun pasca pilwu,” kata Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si. selaku Camat Jatibarang, sambil menyatakan suksesnya pilwu di wilayah yang dipimpinnya berkat tingginya kesadaran masyarakat dalam berpolitik.
Hal sama diungkapkan Camat Sliyeg Drs. Agus Sudrajat. Dari lima desa yang mengadakan pilwu, berjalan lancar, aman, dan damai. Padahal menurut prediksi ada beberapa desa yang masuk kategori rawan. Ternyata baik sebelum pelaksanaan, selama pelaksanaan, dan pasca pilwu tidak ada hal-hal yang tak diinginkan.

Dari lima desa yang melaksanakan pilwu, Desa Slemanlor dimenangkan oleh Dukis Suhiro dengan meraih 1.730 suara. Sementara Sulanto meraih 1.141 suara. Desa Tambilor dimenangkan Hj. Herawarti dengan meraih 1.672 suara dan H. Nurudin 1.197 suara.

Pilwu diDesa Desa Sliyeglor dimenangkan Karnoto dengan meraih 865 suara, Sobirin 854 suara, dan Nanang Tonori hanya meraih 387 suara. Desa Tugulor dimenangkan Suyitno dengan meraih 1.795 suara, Tomo 836 suara dan Sarniti 738 suara. Di Desa Mekargading Sumanta meraih 1.201 suara dan pesaingnya Sukatma meraih 1.176 suara.
• rofi/undang

Sambut 1 Muharram 1433 H DKM Panyindangan Kulon Gelar Sunatan Massal

Pergantian tahun baru Islam (Hijriyah) sering dimaknai sebagai sebuah momen kebangkitan dan tekad serta harapan membaiknya tingkat keimanan menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Untaian do’a dan harapan selalu dikirimkan kepada handai taulan dan dipanjatkan kepada sang pencipta dengan harapan keimanan kita di tahun yang baru ini dapat meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Makna yang terkandung dalam kata Hijriyah adalah hijrah (berpindah) dari kejelekkan ke arah kebaikan. Pada saat itu disertai peristiwa berpindahnya Rosulullah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah dalam melanjutkan syiar/penyebaran Agama Islam.

Menyambut kedatangan Tahun Baru Hijriyyah, umat Muslim memperingatinya dengan menggelar berbagai kegiatan yang mengandung makna syiar keagamaan. Seperti yang dilakukan Dewan Keluarga Masjid (DKM) Desa Panyindangan Kulon (Pecuk) misalnya, menyambut kedatangan Tahun Baru Islam ini dengan melaksanakan kegiatan pawai ta’arub, sunatan massal dan pengajian (siraman rohani).

Ketua DKM H. Caridin, S.Pd., M.Si. menjelaskan selain melakukan syiar Agama Islam juga dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kaum tidak mampu.
“Peringatan Tahun Baru Hijriyyah di desa kami diisi dengan berbagai kegiatan yaitu pawai ta’arub, sunatan massal dan pengajian pada malam tahun baru. Pawai ta’arub dilakukan keliling desa diikuti sebanyak 700 orang peserta dengan menampilkan pawai murid-murid Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan murid Diniyyah Takmiliyyah Awaliyah (DTA) dengan diiringi drum band dari MTs Al-Wasliyyah Sindang. Sedangkan sunatan massal diikuti sebanyak 6 orang anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan siraman rohani disampaikan oleh Mubaligh Kyai Haji Ayip Muhammad Yahya dari Sindang,” jelas H. Caridin.

Menurut Caridin, kegiatan ini khususnya sunatan massal, menunjukkan kepedulian DKM Panyindangan Kulon terhadap kaum dhuafa (kurang mampu).

“Dengan menyelenggarakan sunatan massal kami telah membantu mengkhitankan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Biasanya tradisi khitanan dilaksanakan dengan biaya yang sangat mahal. Namun melalui sunatan massal ini kami menanggung sepenuhnya biaya tersebut,” jelasnya. • pitrahari

Minih Sulastri (Artis Tarling) Mereka Menuakan Saya

BANYAK di antara rekan artis seangkatannya sudah pada pensiun dari dunia pentas hiburan tarling dan organ tunggal. Hal itu dimaklumi karena para artis senior merasa malu tampil karena sudah kesalip oleh artis-artis anyar dan masih muda belia.
Namun bagi Minih Sulastri dunia panggung merupakan bagian dari hidupnya. Selagi masih banyak fans yang mengharapkan penampilannya mengapa harus tidak dilayani? Toh, meski sudah masuk kelompok artis senior dalam kualitas suara dan gaya penampilan di pentas boleh jadi.

“Saya masih eksis tampil di pentas. Meski sudah terbilang artis tua dan sering tampil bersama artis-artis muda, saya tidak turun gengsi. Justru sebaliknya mereka menuakan saya,” kata Minih Sulastri.

Minih Sulastri artis asal Desa Tugu Kecamatan Sliyeg kelahiran 31 tahun silam ini bukan hanya piawai tampil di pentas. Ia sudah mengoleksi seabreg lagu-lagu buah ciptaannya. Di antaranya lagu berjudul Lintang Kerti, Bendungan Balong, Salam Kangen, dll.

Lagu-lagu yang dipopulerkan lewat kepingan VCD atau dikumandangkan di dunia panggung hiburan itulah yang membuat istri dari Abdul Qodir ini banyak penggemarnya. Minih sering tampil sebagai artis bintang tamu di grup organ tarling maupun sering diundang khusus oleh tuan hajat.

Menjadi artis senior yang masih eksis tampil di pentas memang tampil beda. Minih datang ke tempat panggungan hanya pada waktu giliran dia nembang. Dengan demikian dalam sehari Minih bisa nembang di beberapa panggungan.
“Enak, kan!” katanya. • rofi/undang

Saturday, December 17, 2011

Jana, Berjuang Semampu Daya

SETIAP hari, Jana, S.H.I., muter-muter seperti obat nyamuk bakar. Profesinya banyak dari ketua RT, aktivis sebuah parpol, guru, dan Fasilitator Masyarakat (FM). Rute harian perjalanannya dari Haurgeulis menuju Indramayu melapor Ke Dinas Cipta Karya tentang PPIP, berputar ke Sukaslamet Kroya untuk memenuhi kewajibannya sebagai FM yaitu melayani konsultasi warga tentang PPIP, berlanjut ke Mushalla As Shaff di Kebon Karet untuk ngajar ngaji anak-anak MD, setelah itu masih harus ngajar di SMK N 1 Haurgeulis. Menjelang magrib Jana sampai kembali di rumahnya dan menjalankan tugas sebagai kepala keluarga plus sebagai kepala RT. Pekerjaannya banyak, tapi Jana tidak mengeluhkannya. Harapannya semoga dia selalu sehat agar tetap bisa memenuhi semua kewajibannya.

“Dulu saya ngajar di pesantren Cirebon. Jadi lupa tidak mengejar karir menjadi guru PNS. Sekarang umur sudah lebih dari 35 tahun jadi pesimis menjadi PNS. Tidak mengapa Insya Allah rizki akan tetap dikaruniakan oleh Allah SWT. Pekerjaan banyak dari yang gratisan sampai yang ada uangnya. Selagi saya bisa, saya jalani semuanya,” ungkap Jana dengan nada semangat tidak menyiratkan kelelahan.

Jana juga menjelaskan bahwa mongmong masyarakat itu tidak mudah. Sebagai Ketua RT, Jana tahu benar ada sejumlah masyarakat yang kaya tapi masih rakus beras raskin. Ada masyarakat yang sukanya manglo maido tapi kalau diberi tugas tidak becus kerjanya. Sebagai RT Jana berusaha juga mendidik masyarakat agar berkarakter baik. Sebagai guru madrasah Jana belajar kejujuran dari anak kecil dan belajar tulus ikhlas juga karena dia tidak mendapatkan honor. Mana kala Jana menjadi guru SMK yang mengajar anak remaja, Jana perhatian mengarahkan remaja agar tidak tersesat jalan. Sebagai fasilitator masyarakat untuk menyukseskan Program Pembangunan Infrastruktur perdesaan, lagi-lagi Jana harus tetap mendidik masyarakat agar sumber daya manusianya meningkat. Karena PPIP itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. SDM masyarakat desa harus benar-benar dibimbing dengan sabar dan telaten.

“Aktivitas saya yang lain adalah sebagai aktivis sebuah parpol. Ini wadah untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Saya merasa perlu aktif di parpol karena saya tahu benar penderitaan rakyat. Saya ingin mengemban aspirasi rakyat. Saya prihatin jika wakil rakyat tapi tidak mewakili rakyat. Mereka malah mengedepankan egoisme pribadi dan golongan. Sebagai manusia wajib berjuang semampu daya!” tekad Jana yang masih akan terus berjuang untuk keluarganya, masyarakat,dan agamanya. Semangat bro maju terus! (untung)

Wak Deles (Artis Sandiwara Tarling) Tarling Butuh Pelawak

Nama artis lawak yang satu ini kini tengah bersinar. Wak Deles, nama panggilan di pangung untuk artis yang memiliki nama asli Warsita, bukanlah hanya pemain badut lagi, tetapi ia juga adalah pemimpin Grup Tarling Dewa Muda yang terlaris bermain pentas di musim hajatan.

Amat beralasan jika Grup Tarling Dewa Muda laris dan banyak ditonton orang, sebab ketika Grup Tarling Bhayakara tengah berjaya, dulu, Wak Deles adalah pemain lawak bersama pasangannya Wak Haji Sawud. Setelah Wak Haji Sawud wafat, ia kehilangan pasangannya. Kemudian Wak Deles pindah ke Grup tarling Baladewa Desa Larangan Kecamatan Lohbener.

Pikir punya pikir, daripada bergelut dari dulu hanya sebagai pemain lawak di grup lain, lebih baik mendirikan grup tarling sendiri. Toh, grup tarling lain bisa laris karena ada tokoh lawak bernama Wak Deles yang kocak dan bisa membuat penonton terkekeh-kekeh.

“Saya nekat mendidirkan grup tarling bernama Dewa Muda di bawah pimpinan saya sendiri. Disangka tarling tidak laku, eh Alhamdulillah panggungan seni kini malah semakin laris. Masyarakat kembali mencintai tarling,” kata Wak Deles, seniman asal Desa Wanakaya Kecamatan Haurgeulis ini, sambil mengatakan di kala Wak Deles tampil penonton tak pernah hengkang dari tempat duduknya. Hal itu menggambarkan seni tarling dicintai masyarakat di kala Grup Putra Sangkala pimpinan H. Abdul Adjib almarhum masih berjaya.

Mendirikan grup tarling bukan semata ingin mencari popularitas dan mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Namun terbetik di dalamnya ingin mengangkat citra tarling yang selama ini sudah terancam punah akibat tersaing grup seni kontemporer.
Bahkan khususnya di Kabupaten Indramayu, akibat maraknya grup seni kontemporer, tidak sedikit grup tarling yang dulu terkenal belakangan ini ada yang sudah “gulung tikar”, bahkan yang ada juga panggungannya sudah berkurang.

“Nah setelah saya mendirikan grup tarling, masyarakat Indramayu dan sekitarnya banyak yang rindu tarling. Makanya saya kemas seni tarling dengan gaya khas tanpa meninggalkan keasliannya. Bahkan dalam lawakannya saya kemas semakin kocak,” kata Wak Deles.

Diakuinya, masyarakat senang nonton tarling bukan semata senang mendengar dendang lagu klasik tarlingannya. Lebih dari itu masyarakat senang juga dengan ceritera rumah tangga khas tarling yang di dalamnya penuh dengan kocak dan tawa ria. Contohnya ketika seniman tarling Tiplok dan H. Sawud masih hidup, grup tarling berjaya. Setelah ditinggalkan para pelawak tarling, nasib grup tarling semakin menurun.

“Nah saya mencoba mendongkrak hiburan seni tarling agar masyarakat lebih mencintai seni budaya daerahnya agar seni warisan leluhur tidak punah tertelan zaman,” katanya. • rofi/undang

Gatel Cerpen Untung Gautara

Raksasa-raksasa itu sudah bersumpah gelem busung dan berkoar-koar di berbagai media massa cetak dan elektronik bahwa distrik ini telah bebas dari chaos-nya permasalahan yang nyaris abadi menyiksa masyarakat. Aku dan sebagian besar masyarakat mencibir kelakuan mereka. Kami pesimis akan terwujudnya suasana yang aman, damai, sehat, dan yang utama stabilitas ekonominya yang berpihak kepada masyarakat. Tapi sepertinya kali ini berbeda. Mereka tak putus-putusnya berusaha meyakinkan masyarakat bahwa distrik ini adalah distrik spesial yang paling berbeda di seantero negeri ini. Berbeda karena memiliki pejuang-pejuang tangguh yang tidak pamrih kedudukan ataupun uang hingga fokus memperjuangkan nasib tanah kelahirannya.

Aku memang melihat dan merasakan adanya perubahan. Oknum pemalak pelaku parkir liar tidak lagi beroperasi. Kini mereka berprofesi sebagai pedagang gorengan. Para pegawai negeri tidak terlihat lagi berkeliaran di mall-mall di saat jam kerja. Masjid dan mushalla tidak sepi lagi pada saat-saat menunaikan shalat lima waktu. Aku tersenyum sendirian dan merasa menjadi Jatayu yang terbang di lazuardi sangat membiru dengan awan-awan putih yang berarak-arak. Udara terasa segar dan melapangkan dada. Rasanya aku ingin menari-nari seperti Sahrukh Khan di antara bunga-bunga seperti adegan film India. Benarkah impian berjuta orang telah menjadi nyata? Benarkah distrik ini telah senyaman ini?

Aku datang ke lembaga pemasyarakatan. Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa distrik ini memang sudah berubah. Salah satu buktinya adalah suasana lembaga pemasyarakatan. Aku melihat mereka dari satu kamar ke kamar yang lainnya. Aku melihat para raksasa penguasa distrik ini berubah menjadi kurcaci-kurcaci cengeng dan penyakitan. Ada di antara mereka yang masih bermata merah. Sorot matanya masih sorot mata setan. Padahal badan mereka sudah rapuh terserang diabetes bahkan kini terkurung teralis besi.

Aku tersenyum memandang orang tua yang tidak tahu diri itu. Jadi benar adanya bahwa distrik ini telah berubah. Aku melihat langsung salah satu perusuhnya benar-benar dipenjara. Kasihan juga pada seseorang yang diberi kesempatan insyaf di masa tuanya, tapi belum pandai juga memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.

Aku sangat mensyukuri nikmat Allah yang tiada taranya ini. Nikmat kemerdekaan dari jajahan bangsa sendiri. Betapa sekarang hidupku dan hidup masyarakat di sini terasa indah. Semoga keindahan ini terus abadi di distrik ini. Jangan lagi angkara murka menjajah tanah kelahiran tercinta ini. Kalau itu ujian, cukuplah ujiannya. Kalau itu cobaan cukuplah cobaan itu. Aku dan masyarakat sudah sangat lelah, sudah sangat menderita dan tak ingin menderita lagi. Tak ingin lagi menjadi korban politik, tak ingin lagi menjadi korban pelacuran pendidikan, tak ingin lagi menjadi korban perdagangan yang semena-mena, dan tak sudi hak azasi manusia dikebiri.

Apakah keindahan itu umurnya hanya seminggu? Sekarang aku berlari-lari untuk meyakinkan diriku bahwa kabar itu memang ada dan nyata. Masa iya wabah penyakit gatel melanda distrikku? Ternyata benar. Wabah penyakit gatel melanda distrikku. Celakanya bukan gatel biasa. Gatelnya tidak di kulit tapi gatelnya di hati. Mereka tidak menggaruk-garuk kulit dan tidak juga menggaruk-garuk dada yang didalamnya ada hati. Mereka sama sekali tidak menggaruk-garuk tapi menjerit-jerit mengaduh gatal dan berguling-gulingan di lantai. Mereka tidak kuasa menahan rasa gatal di hati.
“Aku bukan dokter. Aku seorang reporter!”

“Semua dokter penuh, reporter juga bisa karena aku gatel diwawancara. Aku istrinya raksasa, selain gatel diwawancara aku juga gatel shopping. Tapi suamiku dipenjara. Setengah bulan aku menahan mengendalikan nafsu belanjaku, rasanya gatel sekali. Beri aku uang, aku tak tahan,” keluh nyonya stress yang tidak aku kenal tapi begitu saja nyelonong ke ruang kerjaku.

Ibarat koreng yang mulai kering akan sembuh, memang gatelnya bukan main. Apakah penderitaan mereka kini yang terserang gatel sebagai pertanda akan sembuh? Sembuh dari penyakit moral? Tapi tidak semua orang kuat menahan diri untuk tidak menggaruk-garuk gatelnya. Yang ada, banyak orang yang menggaruk-garuk gatelnya hingga berdarah dan koreng itu tidak menjadi sembuh justru menjadi borok menahun.
“Gateeel!” kudengar para pelacur menjerit-jerit histeris. Mereka kalap seraya membuang dompet yang kosong, dan pendaringan yang melompong. Gatel yang mereka derita semakin gatel ketika mereka melihat anak-anaknya kesakitan memegang perut yang lapar. Apalagi ketika ada orang tua mereka yang mati karena tidak mampu berobat. Mereka langsung menggaruk koreng yang akan sembuh hingga menjadi borok bernanah.

“Gateeel!” teriak tikus-tikus got hingga tikus-tikus berdasi. Hidangan begitu lezat dan serasa sangat menantang untuk diganyang. Istri sudah kegatelan minta shopping minta medi cure pedi cure. Anak juga sudah pada loyo dan harus didoping dengan uang. Mereka sendiri sudah lama rasanya tidak menikmati jilatan orang-orang yang mencari muka. Gatel para curut kucrut sampai curut wirog botak tak bisa ditahan-tahan lagi. Mereka, dengan kelaparan kembali menggayang hidangan.

“Gateeel!” teriak para raksasa-raksasa dari dalam persembunyiannya. Mereka sudah lapar sekali ingin menyantap manusia-manusia yang mereka anggap bodoh. Bermain cantik nan licik Mereka rencanakan lagi.

Aku serasa mendengar semua itu. Aku juga merasa ada di tengah-tengah mereka. Aku adalah bagian dari mereka. Aku bergeming dalam kegelapan.

“Hai manusia yang beriman, kuatkanlah imanmu! Kuatkan tekadmu untuk insyaf!” seorang pendakwah itu teriak-teriak sampai megaphone yang dia gunakan habis baterainya. Suaranya sendiri juga parau karena sudah beberapa hari dia berseru untuk penguatan keimanan. Tapi sayang sungguh sayang pendakwah itu tidak sedikitpun diperhatikan. Orang-orang sudah tidak percaya karena pendakwah itu, telah tertangkap basah menggelapkan kotak amal masjid.

Aku terdiam. Rasanya gelap dan berat. Damai hanya sekejap. Chaos kembali chaos bahkan semakin chaos. Sebagian orang sudah kembali melakukan kegiatan-kegiatan haram. Sebagian lagi tinggal menunggu waktu akan melampiaskan kegatelannya.
“Hallo reporter!”
Aku mengenal suaranya. Apakah dia juga tidak kuasa dengan kegatelannya? Perempuan ini memang tak pernah insyaf. Dia asyik dalam dunia hitam.
“Hallo handsome!”
Dari nada suaranya, aku mengerti bahwa dia menggoda diriku.
“Sok suci! Munafik!”

Aku bangkit. Aku tatap matanya dengan pandanganku yang paling tajam. Aku ingin sekali meludahi perempuan jalang yang ada di hadapanku ini. Tapi dia melengos pergi sambil memuntahkan tiga kata yang telak menghantam dadaku, “Kamu juga gatel!”
“Kamu mendatangi pelaku pelacuran politik hingga pelacuran pendidikan. Mereka menyumbat mulutmu dan kamu diam! Kamu pikir kamu wartawan yang amanah? Kamu tidak ada bedanya dengan mereka! Kamu bekerjassama dengan mereka! Tapi kamu tidak mau tidur denganku! Sok suci! Padahal kamu juga pelacur moral!” maki perempuan itu dua hari lalu ketika aku menolaknya diajak tidur.

Aku akui dengan jujur. Sekarang aku mulai merasa gatel. Sepertinya tidak ada pilihan lain untuk mengatasi semua kesulitan hidupku. Sejumlah uang harus segera aku dapatkan agar anakku bisa cuci darah, agar ayahku yang lumpuh bisa berobat lagi, dan kalau bisa agar perempuan lacur itu berhenti menjadi pelacur. Dia masih istriku dan aku masih mencintainya.

“Aku terpaksa, menjual diriku demi kelangsungan hidup anakku. Anakmu juga! Aku terpaksa melayani para raksasa itu agar penghasilanku banyak dan ayahmu, mertuaku bisa berobat agar segera bisa berjalan. Aku seorang perempuan bisa berbuat apa untuk menolong orang-orang yang dicintai selain dengan melacur? Aku mengorbankan diriku terjerumus ke dalam api neraka demi anak dan ayah mertuaku. Tapi kamu, menutup mata pada penderitaan mereka dengan sok suci! Lelaki tak berguna!” itulah makian istriku yang memiliki kekuatan dahsyat merobek imanku hingga aku mampu melakukan pemerasan-pemerasan pada para raksasa yang tidak mau kesalahannya diberitakan di koranku. Sejak itulah aku bertualang dalam dunia hitam.

Keterjerumusanku dalam dunia hitam tidak membuahkan sedikitpun kebaikan. Ayah dan anakku belum juga sembuh malah semakin hari semakin parah. Istriku juga tidak bisa berhenti dari kegiatan malamnya. Bukan karena kekurangan uang tapi karena dia menikmati kehidupan malam yang bebas dan glamour. Aku merasa sia-sia. Aku menangis sejadi-jadinya ketika anak dan ayahku kompak tidak mau berobat. Mereka tidak mau diobati dengan uang haram. Setelah aku bersumpah tidak akan berpetualang lagi di dunia hitam, mereka baru mau berobat. Apakah aku insyaf?

Langkahku terasa gontai. Donor ginjal yang cocok untuk anakku sudah ada. Tapi aku tidak punya uang sedikitpun. Ayah tidak setuju cucunya diobati dengan uang haram istriku. Dia keras mengancam tidak akan menganggapku anak bila aku terjerumus lagi di dunia kejahatan. Tapi aku sudah terbayang para raksasa-raksasa itu yang akan memberiku berlimpah uang. Para raksasa itu akan membebaskan kesulitanku. Yang penting aku bermain cantik sehingga ayah dan anakku tidak tahu aku menjadi penjahat lagi. Aku gatel dan menggaruk korengku, bahkan aku merasa senang bila korengku menjadi borok. Apa dayaku karena teramat gatel.

Thursday, December 15, 2011

SEMUA INI AKAN BERLALU (Sebuah Kontemplasi Pasca PEMILU KUWU) Oleh KGPA Arifudin, MT

Kepada semua saudara-sauadaraku tercinta di Indramayu yang baru mengadakan hajat besar berupa Pemilihan Kuwu periode 2011–2016, saya ucapakan selamat untuk semua saja. Bagi orang yang didukungnya jadi, tentu merasa gembira dan sebaliknya orang-orang yang telah didukungnya tidak jadi, tentu ada rasa kecewa, semua itu manusiawi. Oleh sebab itu, setelah hajat itu saudaraku marilah kita kembali bersama dalam membangun Indramayu tanpa melihat siapa yang terpilih.

Tulisan ini sengaja dibuat sebagai penghibur bagi saudara-saudara kita yang telah mendukung salah satu calon kuwu dan ternyata calonnya tersebut menang dalam pemilihan dan juga untuk saudara-saudara yang telah mendukung salah satu calon kuwu ternyata calon yang didukungnya kalah dalam pemilihan. Kekecewaan yang mendalam tentu dapat kita pahami, tapi untuk mengobati rasa sakit tersebut maka tidak berlebihan apabila saya tuliskan lagi cerita hikmah yang disarikan dari kitab manthiq ath-thair karya penyair sufi terkemuka, guru kita semua "Fariduddin Aththar". Semoga tulisan ini dapat menjadi cambuk dan penghibur bagi saudara-saudara kita yang telah kalah, agar tidak terus tenggelam dalam kesedihan.

Diceritakan ada seorang pejalan yang sudah lama mengarungi gurun sahara yang keras, akhirnya tiba pada suatu desa berperadaban setelah melakukan perjalanan panjang. Desa itu bernama Bukit Pasir, yang panas dan kering kerontang. Kecuali hanya rumput kering dan semak belukar untuk makanan ternak, nyaris tidak dijumpai tanaman hijau-hijauan. Berternak adalah salah satu mata pencaharian utama penduduk desa Bukit Pasir itu, sekiranya kondisi tanahnya berbeda dan tidak demikian, mereka pastilah bisa bertani atau bercocok tanam.

Dengan sopan sang pejalan pun bertanya kepada seseorang yang lewat ihwal apakah ada tempat untuk mencari makan dan menginap di desa itu."Baiklah", kata orang itu sambil menggaruk kepalanya, "kami tidak punya tempat seperti itu di desa kami, tapi saya yakin Syakir adalah orang yang tepat untuk engkau jumpai, saya yakin Syakir akan senang menjamu anda malam ini".

Kemudian orang itu pun menunjukkan peternakan dan kediaman milik Syakir, seseorang yang memiliki nama dengan makna orang yang senantiasa bersyukur kepada Tuhan.
Dalam perjalanan menuju peternakan, sang pejalan berhenti di sekelompok kecil orang-orang tua yang tengah menghisap pipa asap untuk memastikan arah mana yang harus dilaluinya. Dari mereka tahulah sang pejalan bahwa Syakir adalah orang terkaya di desa Bukit Pasir. Salah seorang di sana mengatakan bahwa Syakir memiliki lebih dari seribu ekor ternak, dan ini melebihi kekayaan Haddad, orang kaya di desa sebelah. Tak lama kemudian, sang pejalan pun sudah berdiri di depan rumah Syakir, sambil mengaguminya. Ternyata, syakir adalah orang yang sangat baik dan ramah. Ia meminta sang pejalan untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Istri dan anak-anak Syakir juga sangat baik dan ramah. Mereka memberikan layanan yang amat sangat baik. Pada hari terakhir sang pejalan menginap di rumah itu, mereka bahkan memberikan bekal untuk perjalanan berupa makanan dan minuman dalam jumlah besar dan banyak untuk melanjutkan perjalanan.

Dalam perjalan kembali mengarungi gurun sahara, sang pejalan bingung tak bisa memahami makna dari ucapan Syakir sewaktu berpisah. Sang pejalan waktu itu mengatakan kepada Syakir, "Syukurlah, engkau memang beruntung". "Akan tetapi wahai saudaraku pejalan," jawab Syakir, "janganlah engkau tertipu oleh panampilan, sebab ini pun akan berlalu".

Selama bertahun-tahun mengarungi jalan sufi, sang pejalan pun paham bahwa segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya dalam perjalanan memberikan pelajaran yang pasti dipetik hikmahnya dan pantas direnungkan. Sesungguhnya inilah alasannya kenapa ia selalu melakukan pengembaraan – untuk belajar lebih banyak lagi. Kata-kata Syakir paling tidak telah mengusik benak dan pikirannya, dan justru ia tidak yakin apakah ia telah benar-benar memahami maknanya.

Ketika ia duduk di bawah bayangan sebuah pohon untuk menunaikan sholat dan merenung, ia pun ingat dari latihan sufi yang telah ditempuhnya, bahwa jika ia diam dan tidak buru-buru mengambil konklusi, maka pada akhirnya ia akan menemukan jawabannya. Sebab ia telah diajar diam dan tidak melontarkan pertannyaan, mana kala tiba waktunya memperoleh pencerahan maka ia pun tercerahkan. Karena itu ia menutup pintu pikirannya dan menenggelamkan jiwannya dalam meditasi atau renungan.
Ia menghabiskan waktunya lima tahun mengembara dari satu negeri ke negeri lain, bertemu dengan berbagai macam orang, dan belajar banyak dari pengalamannya. Setiap petualangan ia mendapatkan pelajaran yang dapat dipetik himahnya. Sementara itu, ia tetap diam dan memusatkan pandangan pada hatinya.

Suatu hari, secara tak terduga sang pejalan kembali ke desa Bukit Pasir, daerah yang pernah disinggahinya beberapa tahun sebelumnya. Ia ingat pada sahabatnya, Syakir, dan bertanya tentang dirinya. "Ia tinggal di desa sebelah, sepuluh mill dari sini. Ia kini bekerja pada Haddad," jawab salah seorang penduduk desa. Sang pejalan terheran-heran, dalam pikirannya, "bukankan Haddad adalah orang kaya lain di desa sebalah?" Merasa gembira akan berjumpa lagi dengan Syakir, maka sang pejalan pun bergegas pergi ke desa sebelah.

Setibanya di rumah Haddad yang megah, sang pejalan pun disambut oleh Syakir, yang kini nampak lebih tua dan berpakaian lusuh serta compang-camping. "Apa yang terjadi pada dirimu?" tanya pejalan penasaran. Syakir pun bercerita. "Tiga tahun sebelumnya telah terjadi banjir bandang di desa kami, yang memusnahkan seluruh kekeyaan dan ternak kami". Karenanya ia pun menjadi pelayan dan bekerja di rumah Haddad, yang selamat dari musibah banjir dan kini menjadi orang terkaya di daerah tersebut. Hanya saja roda nasib sama sekali tak mengubah kebaikan dan keramahan Syakir dan keluarganya. Mereka tetap menjamu sang pejalan beberapa hari menginap di rumahnya dan memberikan bekal makanan serta air untuk melanjutkan perjalanannya.

Ketika hendak berangkat, sang pejalan berkata, "Aku turut bersedih atas apa yang telah menimpa dirimu dan keluargamu. Aku tahu Allah mempunyai alasan bagi apa yang dilakukan-Nya". Dalam obrolan itu pun Syakir menjawab "Oh, tapi ingat, ini pun akan berlalu". Suara syakir ini terus bergema di telinga sang pejalan. Wajah ramah dan penuh senyuman serta ketenangan Syakir tak pernah lenyap dari ingatannya. Sang pejalan pun tahu bahwa kata-kata Syakir pada kunjungan sebelumnya telah mengantisipasi berbagai perubahan yang sudah terjadi. Akan tetapi, kali ini, ia ingin tahu apa yang menyebabkan Syakir mengucapkan ucapan optimis seperti itu lagi, karenanya, lagi-lagi sang pejalan membiarkannya dan tidak lagi memperdulikannya, ia lebih suka menunggu jawabannya.

Bulan berganti bulan dan tahun-tahun pun berlalu dan sang pejalan yang semakin bertambah tua terus melakukan perjalanan tanpa pernah merasa lelah. Anehnya pola perjalanan yang ditempuhnya selalu membawanya kembali ke desa tempat tinggal Syakir. Kali ini, sudah tujuh tahun berselang dan Syakir pun telah kembali kaya. Syakir tidak lagi tinggal pondokan keecil, tapi di rumah utama milik Haddad yang besar dan megah. "Haddad meninggal beberapa tahun lalu," Syakir menjelaskan, "dan karena ia tak punya ahli waris, ia memutuskan untuk mewariskannya padaku sebagai balasan atas pengabdian setiaku".

Ketika kunjungan hampir berakhir, sang pejalan bersiap-siap melanjutkan perjalanan agungnya, ia akan mengarungi gurun sahara untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan berjalan kaki-sebuah tradisi yang dilakukan oleh rekan-rekannya sesama pejalan. Perpisahan dengan sahabat tuanya itu pun tidak berbeda dari kemarin-kemarin dan Syakir pun mengulangi ucapannya "Ini pun akan berlalu".
Sesudah menunaikan ibadah haji, sang pejalan melakukan perjalan ke India untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dalam perjalanan pulangnya ia memutuskan untuk melewati desa sahabatnya, Syakir, sekali lagi guna mengetahui kondisi terakhir sahabatnya tersebut. Alih-alih berjumpa dengan sahabatnya, di sana ia justru menemukan sebuah nisan sederhana bertulisakan, "Ini pun akan berlalu". Kali ini ia lebih kaget lagi dari waktu-waktu sebelumnya ketika Syakir sendiri mengucapkan kata-kata itu. "Ketika kekayaan datang dan pergi," pikir sang pejalan dalam hati, "tapi bagaimana sebuah makam bisa berubah?"
Sejak itu sang pejalan bertekat untuk menziarahi makam tersebut setiap tahunnya, ketika suatu kali ia mengunjungi kuburan itu, yang didapati justru hanya hamparan pasir yang tak tersisa sedikit pun, makam itu telah hilang tersapu banjir. Akhirnya sang pejalan pun menengadahkan kepalanya ke langit, seakan-akan menemukan makna yang lebih agung, menganggukan kepalanya dan berkata lirih, "Ini pun akan berlalu".
Demikianlah, ada, kemudian tiada. Kejadian kemarin yang kita alami bersama dalam pesta hajat pemilihan kepala desa atau pemilihan kuwu yang menghasilkan siapa yang kalah dan yang menang, harus disikapi dengan hikmah yang diambil dari kisah sang pejalan. Bahwa, semua itu pun akan berlalu. Dengan begitu, niscaya kita semua yang kalah tidak akan terlalu larut tenggelam ke dalam kesedihan dan bagi kita semua yang menang, tidak juga akan terlalu larut dalam pesta kita. Semoga Indramayu benar-benar menjadi tempat yang Religius, Mandiri dan Sejahtera untuk semua. Wallahua'lam.
Indramayu, 7 Desember 2011

2.000 Batang untuk Transmigrasi Lokal

Sebanyak 2.000 batang pohon Jati, Mahoni, Jabon, Mangga, dan Petai ditanam di lokasi pemukiman transmigrasi lokal Blok Ciputat Desa Cikawung Kecamatan Terisi. Pelaksanaan penanaman pohon ini merupakan awal dari pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) dalam rangka Penanaman Satu Milyar Pohon tahun 2011 tingkat Kabupaten Indramayu, Senin (28/11/2011).

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu, Ir. Firman Muntako, menjelaskan, maksud dari penanaman ini sebagai sarana edukasi karena dapat meningkatkan kepedulian, kemampuan, dan kemandirian seluruh komponen bangsa tentang pentingnya menanam dan memelihara pohon. Kemudian mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon secara berkelanjutan.
Sementara yang menjadi lokasi sasaran kegiatan adalah tanah kosong dan lahan kritis baik dalam kawasan hutan negara maupun di luar kawasan hutan, serta ruang terbuka hijau.

Firman Muntako menambahkan, secara serempak kegiatan menanam pohon juga dilakaukan pada hari ini. Dalam rangka penanaman satu milyar pohon secara nasional, target Kabupaten Indramayu sebanyak 6.100.000 batang baik dalam kawasan hutan negara maupun di luar kawasan hutan. Sampai dengan bulan Okotober 2011 di Kabupaten Indramayu telah tertanam 513.900 batang melalui berbagai program dan kegiatan. Sisanya akan ditanam pada bulan November–Januari sesuai dengan musim penghujan.

Dalam target 6.100.000 batang pohon di wilayah Indramayu, akan tertanam sebanyak 6.133.906 batang dengan rincian: dalam kawasan hutan oleh Perum Perhutani sebanyak 4.272.406 batang pada lahan seluas 2.468.26 hektar. Sementara di luar kawasan hutan, lebih dari 1.861.500 batang seluas 3.194.25 hektar. Kegiatan tersebut mampu mengatasi lahan kosong dalam kawasan hutan seluas 2.468,26 hektar dan di luar kawasan hutan seluas 3.194,25 hektar.

Sementara itu Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah menyambut baik kegiatan penanaman pohon ini karena ditanam di areal transmigrasi lokal. Selain bisa bermanfaat bagi lingkungan, penanaman pohon ini juga diharapkan berdampak secara ekonomi. ”Setelah ditanam, diharapkan masyarakat ikut serta menjaga pohon yang telah ditanam ini. Jangan sampai pohon yang belum besar ditebang kemudian disalahgunakan, ini akan merugikan kita semua,” kata bupati.

Sementara itu Komandan Korem 063/Sunan Gunung Jati Kolonel Ali Sanjaya mengatakan, kegiatan ini diharapkan terus bisa dilaksanakan dan ditingkatkan melalui kerjasama lintas sektoral antara pemerintah, TNI, dan elemen masyarakat luas lainnya sehingga kelestarian lingkungan hidup dapat terjaga dengan baik.
Kegiatan pencanangan ini selain dihadiri bupati dan danrem, juga dihadiri oleh muspida, kepala OPD, camat se-Kabupaten Indramayu, OKP, dan ormas serta para pelajar. • heri/deni

Oman, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 2 Sliyeg) Peserta Terbaik Diklat Kepala Sekolah

2TAK pernah terduga dan tidak terpikir sebelumnya untuk menjadi peserta terbaik dalam Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah yang berlangsung di Hotel Zamrud, Kota Cirebon, selama 17 Juli sampai dengan 27 Oktober 2011. Tetapi, kenyataannya memang begitu. Oman, M.Pd. begitu nama lengkap Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sliyeg Kabupaten Indramayu itu terpilih sebagai peserta terbaik kategori Kepala Sekolah SMP. Selain dirinya, kepala sekolah lain yang juga dinyatakan terbaik adalah Hj. Yuyun Yuningsih, S.Pd., M.M.Pd. (Kepala SMPN 2 Anjatan Kabupaten Indramayu).
Apa yang telah dilakukan lelaki kelahiran Kuningan, 07 Januari 1962 itu hingga terpilih sebagai yang terbaik?
Menurut panitia penyelenggara dari P4TK BMTI Cimahi, yang terutama dinilai dari para peserta adalah kedisiplinan dalam mengikuti setiap sesi dan kepatuhan melaksanakan tugas. Dan Oman yang sudah menjadi guru sejak 1 April 1982 itu melaksanakan kriteria yang diharuskan panitia secara nyaris sempurna. Saat acara penutupan dilakukan, ia terpanggil ke depan untuk menerima penghargaan sebagai salah seorang peserta terbaik sebab lulus dengan kualifikasi Baik Sekali (84).
Diklat yang terselenggara dengan dana APBN Pendidikan itu dibagi dalam tiga tahap. Setiap tahap harus diikuti secara serius. Tidak sedikit peserta yang gagal karena tidak disiplin dan dipulangkan kembali ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang mengirimkannya.
Salah satu materi penting yang dinilai dan harus dipresentasikan oleh setiap peserta adalah hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Dalam hal ini Oman menulis PTS berjudul “Peranan Supervisi Akademik Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Dalam Proses Pembelajaran Di SMP Negeri 2 Sliyeg Kabupaten Indramayu”. Ia dapat menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu dan pada saat presentasi tak mengalami hambatan berarti.
Materi penting lainnya yang juga menjadi penilaian utama adalah Best Practice. Dalam hal ini Oman menampilkan contoh pengalaman mengajarkan pendidikan karakter bangsa di sekolahnya. Contoh pengalaman ini sangat menarik para widyaiswara yang menjadi penilai diklat para kepala sekolah tersebut.
Dalam best practice ini Oman menampilkan bagaimana ia memimpin sekolahnya dalam menerapkan kebiasaan, perilaku, dan sikap yang bernilai keagamaan. Misalnya, kegiatan pengambilan 5 buah sampah sambil membaca istighfar sebagai implementasi nilai religious, kegiatan mengaji rutin sebelum KBM, kegiatan Shalat Dhuha dan Dzikir Bersama satu bulan satu kali dilaksanakan pada Jum’at minggu pertama, kegiatan keagamaan yang melibatkan siswa dan masyarakat sekitar (kegiatan pembagian zakat fitrah, bakti sosial dan tausiyah mendatangkan tokoh masyarakat dan ulama setempat), kegiatan infak setiap Jumat, peringatan hari besar Islam, pemberian santunan kepada siswa tak mampu, dan kunjungan kepada siswa dan guru yang sakit. Yang terakhir disebut bersifat incidental tergantung pada kondisi yang dialami.
Semoga apa yang telah diperoleh Oman mampu memberikan inspirasi bagi warga dunia pendidikan lainnya.
(rofi/sayama)

Dedi Febriyanto (Siswa SMK Negeri 2 Indramayu) Belajar dari Ayahanda Tercinta

MENURUT Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK, Drs. H. Eddy Romdhon, M.Pd., dahulu begitu susah bagi siswa asal Kabupaten Indramayu untuk meraih prestasi di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi Jawa Barat. Mengapa? Mungkin karena para wakil yang dipilih untuk berlomba atau berkompetisi di tingkat provinsi itu dipilih secara asal tunjuk, asal mau. Mau apa? Ya, mau segala-galanya: mulai dari latihan sendiri, menyewa hotel/penginapan sendiri, dan seterusnya. Kemungkinan lainnya adalah para juri yang menilai LKS itu tidak objektif saat melakukan penilaian.
Kebiasaan macam itu tahun ini telah dicoba untuk diubah. Di bawah bendera MKKS, tahun ini telah digelar Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Kabupaten Indramayu. Meskipun terlambat, kata Drs. H. Eddy Romdhon, M.Pd., yaitu hanya seminggu sebelum digelarnya LKS tingkat Provinsi, toh hasilnya sudah terbukti: beberapa siswa yang mewakili Kabupaten Indramayu mampu tampil di peringkat papan atas, bahkan ada yang menjadi juara. Salah seorang dari mereka adalah Dedi Febriyanto, siswa Kelas IX Program Keahlian Nautika Kapal Penangkap Ikan SMK Negeri 2 Indramayu.
Dedi lahir di Indramayu pada 20 Februari 1995 sebagai putra sulung dari Bapak Duryat dan ibu Kaminih ini berhasil membuktikan dirinya sebagai juara 3 Bidang Lomba Kompetensi Nautika Perikanan Laut dalam ajang LKS SMK Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 yang digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bertempat di Kabupaten Sukabumi pada tanggal 7 s.d. 10 November 2011.
Bagaimana strategi Dedi, panggilan akrabnya, untuk memenangkan LKS itu? Selain belajar dari guru-guru dan pembimbing di sekolahnya, Dedi juga belajar langsung dari ayahandanya. Lho kok bisa-bisanya?
Tentu saja bisa, sebab Dedi lahir dan dibesarkan dalam keluarga nelayan. Ayahnya pun berprofesi sebagai nelayan. Banyak hal dalam dunia nelayan Dedi pelajari langsung dari keluarganya, terutama ayahandanya. Dedi dan keluarganya memang tinggal di Jalan Lawet II Desa Dadap RT 02 RW 10 Kecamatan Juntinyuat. Di desa Dadap inilah, beberapa tahun lalu, pemerintah telah meresmikan beroperasinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dadap, memang terkenal sebagai desa nelayan.
Kini, buah ketekunannya belajar mampu mengharumkan nama keluarga, nama alma mater (sekolah) tempatnya menuntut ilmu secara formal, bahkan mengharumkan nama Kabupaten Indramayu. Setidaknya “mitos” bahwa para siswa dari Kabupaten Indramayu berkualitas rendah di ajang LKS tingkat Provinsi Jawa Barat telah mampu ditepis olehnya. Apa yang telah dilakukannya tidak ringan, sebab para pesaingnya pun merupakan siswa-siswa pilihan dari 26 Kabupaten/Kota lain dari seluruh Jawa Barat.
Berkat prestasinya itu, Dedi memperoleh reward berupa pembebasan atas biaya pendidikan selama satu semester dari sekolahnya. Dari panitia penyelenggara ia memperoleh piala, sejumlah uang pembinaan Rp 1.300.000,00 dan piagam penghargaan.
(bagus/sayama)

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita