Enter Your Domain Here....

Tuesday, November 01, 2011

Tangisan dari lembah hitam 2: Jablay, Bukan Pahlawan Keluarga

BANYAK wanita yang jatuh sengsara karena terlalu pasrah dan lemah imannya. Misalnya Sinah, wanita berusia empat puluh tahun yang berkulit putih, tinggi semampai dan masih singset langsing ini, karena terlalu pasrah dan menuruti perintah orang tua, Sinah yang sekarang tinggal di Compreng Subang ini, pernah menikah dengan pemuda Haurgeulis Indramayu pada usia dua belas tahun. Kemudian Sinah cerai dengan orang Haurgeulis itu setelah Sinah memiliki dua orang anak lelaki yang sekarang sudah bujangan. Sinah menikah lagi dengan orang Compreng dan dikarunia tiga orang anak. Anak pertamanya perempuan dan sangat binal. Karena hamil sebelum nikah, anak perempuannya dinikahkan dengan pacarnya. Setelah anaknya lahir, mereka malah bercerai. Anaknya Sinah menjadi pelacur di kota Subang. Tapi anaknya sering sakit sehingga uangnya selalu habis.

“Suami saya terkena PHK. Anak perempuan saya terkena penyakit kelamin. Cucu saya sering sakit. Dua orang anak saya yang masih sekolah di SD juga butuh biaya. Kebutuhan sehari-hari ditutupi dengan hutang. Lama-lama hutang menggunung dan saya sudah merasa sangat malu kalau harus hutang lagi. Pikiran saya menjadi gelap. Anak perempuan dan cucu saya harus berobat. Aku takut mereka mati. Anak-anakku tidak mau sekolah karena malu belum bayaran dan tidak memiliki uang saku. Akhirnya, aku memenuhi ajakan tetangaku untuk melacur di pasar inpres Pamanukan Subang,” tutur Sina seraya sesenggukan menangis.

Sina terpaksa menjadi pelacur. Dia merasa sangat berdosa kepada suaminya. Sinah juga merasa malu dan takut kepada dua orang anaknya dari suami pertama yang ikut neneknya. Bagaimana kalau mereka tahu ibunya menjadi pelacur? Sina tertekan bathin tapi tidak memiliki pilihan lain selain menjadi pelacur. Hari pertama Sina melayani empat orang dan mengantongi uang empat ratus ribu rupiah. Uang itu habis untuk mengobati anak perempuan dan cucunya. Besok sorenya Sina ngojek motor lagi menuju pasar inpres Pamanukan Subang. Naas bagi Sina. Malam harinya, padahal baru melayani dua orang, Sina digaruk Satpol PP dan dikirim ke Balai Pemulihan Sosial Wanita Tuna Susila Palimanan Cirebon.

“Saya malu sama anak-anak saya. Saya berdosa pada suami saya. Saya kapok. Maksud hati saya rela berkorban untuk keluarga. Menyelamatkan keluarga. Menjadi pahlawan keluarga. Tapi, keluargaku malah semakin sengsara,” keluh Sina dengan berurai air mata.

Sina, Jablay itu bukan pahlawan keluarga. Pahlawan itu berjuang membela yang hak dan membasmi yang bathil. Melacur itu dilarang agama. Pemerintah juga melarang. Menafkahi anak dan cucu dengan cara melacur juga dilarang dan dijamin tidak berkah. Sekarang Sina sudah memiliki keterampilan untuk berwirausaha mencari uang dengan cara halal. Jadi perempuan jangan terlalu naif dan insyaflah! (bagus/untung)

1 comments:

Fuad Zainudin said...

Mencegah lebih baik dari pada mengoabai, aja sampe ana sing mengkonon maning pemerintah kudu tegas, berantas kemiskinan... priwe arep sejahterane wong pejabate masih seneng korupsi... iya wa

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita