Tuesday, November 15, 2011

MA SENTOT: Pejuang dan Pahlawan Perang Kemerdekaan dari Indramayu dalam Arus Sejarah Nasional Oleh: Wawan Idris, Supriyanto, dan Sudalim

Perebutan Lokasi Pemakaman
Tidak seperti para perwira militer lainnya yang mengisi masa pensiunnya di kancah politik nasional, setelah pensiun dari pengabdiannya di jalur militer, di jajaran Perwira Menengah Angkatan Darat, M.A. Sentot memilih tinggal di rumahnya di bilangan Bugel, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu. Rekan seangkatannya seperti Jenderal (alm) Umar Wirahadikusumah bahkan sempat menjadi wakil presiden.
Jika saja pejuang Indramayu ini ingin memanfaatkan keadaan, karena hubungannya yang dekat dengan wakil presiden itu, sebenarnya M.A. Sentot bisa menjadi “pejabat”, atau setidaknya “orang besar” di masa Orde Baru. Namun M.A. Sentot bukan orang yang suka memanfaatkan keadaan. “Ayahku tidak suka aji mumpung,” ungkap Agung Dharma Jaya, salah seorang anaknya yang kini bekerja di TV Education Jakarta, menggambarkan profil masa tua ayahandanya.1
Menurut hasil pengamatan Agung yang juga merasakan langsung kehidupan orang tuanya dan perlakuan tegas terhadap anak-anaknya, M.A. Sentot merupakan orang yang memegang teguh prinsip kemiliteran. Jika ingin menjadi orang, menjadilah dengan usaha sendiri, bukan dengan cara-cara curang yang tidak terpuji.
Hingga masa tuanya, M.A. Sentot menolak diperlakukan istimewa. Pejuang sekaligus pahlawan Indramayu ini memilih hidup bersama rakyat kebanyakan. Beliau menyatu dengan masyarakat di sekitarnya. Hingga akhirnya wafat di Rumah Sakit Pertamina Cirebon pukul 07.30 WIB 6 Oktober 2001 dalam usia 76 tahun, barulah para pembesar dari jajaran Angkatan Darat dan beberapa pejabat terkejut: betapa Indonesia, kembali kehilangan putra terbaiknya.
Di manakah pahlawan asal Indramayu ini akan dimakamkan? Konon, sebelum pemakaman dilakukan terjadi semacam “perebutan keinginan” lokasi pemakaman antara pihak Pemerintah Kabupaten Indramayu dan pihak militer Angkatan Darat. Pihak Pemerintah Kabupaten Indramayu, yang diwakili Bupati Irianto M.S. Syafiuddin, menginginkan M.A. Sentot dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Indramayu, namun di pihak lain, jajaran militer Angkatan Darat menginginkan para mantan prajurit terbaiknya dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. Hasil perundingan akhirnya memutuskan bahwa M.A. Sentot dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. Hal itu, tampaknya, memang lebih memperjalas posisi kepahlawanan M.A. Setot yang bukan hanya merupakan pahlawan Indramayu, tetapi merupakan pahlawan Jawa Barat, dan bahkan pahlawan nasional yang kiprah kemiliterannya memang pernah berada di level nasional.
Dalam nota administrasi pemakamannya, M.A. Sentot terdaftar dalam tulisan tangan Kantor TMP Cikutra Bandung, sebagai pahlawan dengan nomor urut 136. Dalam dokumen bertuliskan tulisan tangan itu nama M.A. Sentot dilahirkan di Indramayu pada 17 Agustus 1925, berpendidikan umum terakhir SMA, pendidikan militer PETA, berpangkat Kolonel dengan NRP 11893, berkesatuan terakhir di DEN MABESAD, tanggal wafat 6 Oktober 2001 dan dimakamkan 7 Oktober 2001 di lokasi C-I. Menurut petugas yang memelihara TMP Cikutra, M.A. Sentot dimakamkan pada 09.30 WIB.
Koran-koran terbitan nasional dan lokal pada hari-hari di seputar wafatnya pejuang dan pahlawan asal Indramayu, M.A. Sentot, dipenuhi iklan turut berduka cita. Salah satu iklan duka cita disampaikan secara kolektif. Nama-nama dan jabatan mereka yang berduka cita, yang tercantum di iklan itu, mencerminkan sebesar apa pengorbanan dan jasa yang telah dilakukan M.A. Sentot terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka yang berduka cita itu, di antaranya adalah:
- Panglima Daerah Militer III Siliwangi Mayor Jenderal TNI Darsono,
- Letnan Jenderal. TNI. (Purn) Mashudi,
- Laksamana Madya, TNI (Purn) Rachmat Sumengkar,
- Letnan Jenderal TNI Agum Gumelar,
- Kolonel. TNI AD (Purn) H. Aboeng Koesman,
- Kolonel Pol. (Purn) H.R. Wiryatmo,
- Letnan Kolonel. CPM. (Purn) Emon Suparman,
- Bupati Kepala Daerah Indramayu H. Irianto M.S. Syafiudin,
- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Indramayu,
- Pemerintah Kota Bandung,
- Kepala Staf Garnisun Bandung Cimahi,
- Komandan Kodim 0618 Bandung,
- Komandan Kodim 0616 Indramayu,
- Kepala Kepolisian Resort 853 Indramayu,
- Kepala Rumah Sakit Pertamina Cirebon, beserta dokter & perawat,
- Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI,
- Wakil Ketua Federasi Aero Sport Indonesia, Drs. H. Nisfu Chasbullah,
- AVES Sport Parachute Club Bandung,
- Pengurus PSSI Pusat Jakarta,
- Pengda PSSI Jabar,
- Keluarga Besar PERSIB,
- Keluarga Besar Drs.H. Achmad “Aa BOXER” Drajat,
- Keluarga Besar H. Abdul Kahar, Plumbon, Indramayu,
- Keluarga Besar H. Muharam Djayadihardja Bandung,
- Keluarga (Alm) Kolonel. CPM. Suryalaga Ardisasmita,
- Warga Masyarakat Desa Plumbon & Kabupaten Indramayu,
- Warga Masyarakat Desa Bugel/Desa Sukahaji Kec. Sukra Indramayu,
- Warga Masyarakat Jalan Jakarta RT. 02 RW. 08 Kelurahan Kacapiring, Kecamatan Batununggal, Kotamadya Bandung,
- Direksi & Staf P.T. Duta Pertiwi Santosa Jakarta,
- Direksi & Staf P.T. Binawana Sarana (BWS) Jakarta,
- Direksi & Staf P.T. Terranova Canoe Prima Bandung,
- Direksi & Staf TLH Motor Bandung,
- Paguyuban Warga Jl. Tanjung Sari Raya, RW 10, 11, 12, Antapani Bandung,
- Ibu-ibu M.T. Daaruttaqwa Jalan Tanjung Sari Raya, RW 11 Antapani Bandung,
- Ibu-ibu M.T. As Siddiq Jalan Kebon Waru Utara, RW 08 Bandung,
- Ibu-ibu M.T. Assalam Bandung,
- Ibu-ibu M.T. Witir Bandung,
- Ibu-ibu M.T. Yayasan Hajjah Multazam,
- Keluarga Dwi Sulysviantina Pulri Soehono. Jakarta,
- Rekan-rekan Herbalife Jakarta.

Indramayu di Awal Masa Kemerdekaan Republik Indonesia
Sebelum pasukan militer Indonesia terbentuk seperti sekarang ini, para putera-puteri terbaik tanah air pernah mengalami berbagai pertempuran dan kondisi yang penuh tantangan, khususnya di awal masa kemerdekaan. Di setiap wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terjadi pertempuran dengan pasukan-pasukan Belanda yang memang ingin menjajah kembali Republik Indonesia. Mereka, pasukan kerajaan Belanda menyadari betul bahwa menjajah bangsa lain itu menyenangkan, membuat mereka semakin kaya dengan hasil bumi.
Di lain pihak secara perlahan-lahan di kalangan bangsa Indonesia timbul kesadaran bahwa dijajah itu hina, tidak menyenangkan, dan perlu melawan. Itulah sebabnya sejak Jepang menggembar-gemborkan patriotisme Asia Raya dan harus mengusir kedatangan bangsa-bangsa Eropa dari daratan Asia, maka patriotisme para pemuda Indonesia bangkit. Mereka tidak saja menentang penjajahan Belanda, namun juga menentang kehadiran pendudukan Jepang itu sendiri.
Upaya menentang penjajah itu terjadi di banyak daerah, termasuk Indramayu. Dalam kenyataannya perlawanan masyarakat Indramayu terhadap tentara pendudukan Jepang dipelopori oleh beberapa orang pemuka agama. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar, sebab dalam ajaran agama terdapat nilai-nilai patriotisme dan keharusan mengusir musuh yang hendak menjajah dari tanah kelahiran.
Saat itulah di Indramayu muncul pejuang-pejuang yang menentang pendudukan Jepang seperti H. Ilyas, H. Durahman, dll. Pemberontakan yang dilakukan oleh para pemuka agama ini cukup menyulitkan tentara pendudukan Jepang. Namun demikian pemberontakan tetap bisa dipadamkan karena Jepang mampu merekrut para penjilat yang mau mereka suapi demi kepentingan Jepang. Di kemudian hari, keberanian penduduk Indramayu untuk menentang penjajah dan tentara pendudukan Jepang dinilai sangat berani sehingga membuat pemberontakan di Indramayu sama terkenalnya seperti pemberontakan Tasikmalaya (peristiwa Singaparna), Cimahi, Blitar, dan yang lainnya. Keberanian rakyat Indramayu, Singaparna, Cimahi, dan Blitar ini diungkapkan dalam Pidato penuh patriotisme Presiden Sukarno di tahun 1948.

Kondisi Kemiliteran di Indramayu Tahun 1945-1946
Seiring dengan telah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia maka berbagai bentuk sistem pertanahan dibentuk. Hal tersebut terjadi pula di Indramayu yang mengalami memiliki BKR, TKR, sampai akhirnya TNI.2 Dalam sejarah militer diketahui bahwa di akhir tahun 1946 di Jawa Barat telah terbentuk Resimen 12 Divisi IV Siliwangi yang dipimpin oleh Kolonel Sapari. Resimen ini berkedudukan di Cirebon.
Untuk memantapkan operasinya, Resimen 12 memiliki 6 (enam) Batalyon dan 1 (satu) Detasemen. Personal pimpinan dari komponen organisasi tersebut terdiri dari:
- Mayor Suwardi sebagai Dan Yon I yang berkedudukan di Cirebon,
- Mayor Sujana sebagai Dan Yon II yang berkedudukan di Kedung Bunder,
- Mayor Ribut sebagai Dan Yon III yang berkedudukan di Sindanglaut,
- Mayor U. Rukman sebagai Dan Yon IV yang berkedudukan di Kuningan,
- Mayor D. Affandi sebagai Dan Yon V yang berkedudukan di Majalengka,
- Mayor Sangun sebagai Dan Yon VI yang berkedudukan di Indramayu.
Pada saat itu M.A. Sentot yang dikenal telah banyak berjasa sebagai Komandan BKR di Kandanghaur dengan pangkat Letnan Satu ditempatkan di Majalenga. Beliau yang sudah berpengalaman sebagai Komandan Kompi TKR di Kecamatan Anjatan, terpilih menjadi salah seorang Komandan Kompi dari Batalyon V. Di Indramayu sendiri, pada saat itu selain pasukan resmi Republik telah ada badan-badan kelaskaran lainnya seperti Hisbulloh, Laska Rakyat, Pesindo, dll. Meskipun banyak personal pertahanan yang ada di Indramayu namun dari sisi persenjataan jumlahnya sangat kurang. Kebanyakan persenjataan berada di Cirebon.
(Bersambung)

0 comments:

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita