Thursday, October 20, 2011

Pemuda Melestarikan Hutan Mangrove

Sejak masih belajar di sekolah dasar, Wahudin rajin menanam biji mangrove di pinggiran pantai. Karena tekun dan rajinnya bertanam selama hampir 20 tahun lamanya, kini kawasan pantai Cangkring Kecamatan Cantigi sudah berubah wujud menjadi kawasan hutan mangrove.

Hutan mangrove hasil tanam Wahudin yang kini sudah berumah tangga dan berusia 32 tahun, tumbuh subur menjadi hutan di atas lahan seluas 20 hektar. Atas hasil jerih payahnya selama puluhan tahun bertanam pohon mangrove masyarakat Desa Cangkring merasakan kegunaannya.

Jika musim penghujan Desa Cangkring tak lagi terancam banjir rob, karena air laut pasang bisa tertangkal hutan mangrove. Selain kawasan pantai berubah menjadi kawasan hijau, masyarakat telah memanfaatkan lahan pantai yang dulu terlantar dibuat tambak dan kolam ikan. Bahkan kebanyakan dimanfaatkan untuk membudidayakan rumput laut.
Sekitar 15 hektar tambak semuanya ditanami budidaya rumput laut. Dan sebagian ditanami ikan bandeng. Membudidayakan rumput laut yang dikelola Wahudin dan kawan-kawan hasilnya cukup menggembirakan. Dalam satu hektar tambak selama satu tahun bisa dipanen sebanyak dua kali, dengan rata-rata menghasilkan lima ton rumput laut. Harga per kilo antara Rp 6 ribu s.d. Rp 10 ribu.

Rumput yang sudah dikeringkan dibeli para pengusaha pabrik dari kawasan Tangerang dan ada juga yang langsung dibeli di tempat. Antara kelompok tani rumput laut Desa Cangkring dengan perusahan rumput laut sudah terjalin kerja sama. Dengan demikian para petani tidak perlu pusing-pusing mencari modal usaha untuk bertanam rumput laut.
“Bertanam rumput laut tak mungkin rugi. Sebab senadainya air meluap rumput laut tak hanyut terbawa air karena tumbuh dan berakar di dasar tambak. Rumput laut tak mungkin dicuri orang, karena sesuai perjanjian pihak perusahaan tidak akan membeli rumput laut jika tidak melalui kelompok tani Desa Cangkiring,” kata Wahudin.
Atas perjuangan keras seorang pemuda bernama Wahudin yang hanya memiliki ijazah SD itu, ternyata bukan hanya mampu merubah alam dan lingkungan menghijau, lebih dari itu bermanfaat meningkatkan perekonomian rakyat pesisir Cangkring dan sekitarnya. Pesisir Cangkring yang dulu dikenal gersang dan sering terancam tumpukan pasir laut, sekarang sudah bisa diantisipasi dengan hutan mangrove.

“Karena kondisi muara sungai aman dari lumpur laut, para nelayan yang melewati Sungai Rambatan lama, bisa berlalu-lalang pergi-pulang dari dan ke laut mencari ikan. Padahal sebelum tercipta hutan mangrove, perahu nelayan diparkir di pinggiran pantai,” kata Sudarja (53 tahun), warga Desa Cangkring, yang rumahnya tidak jauh dari hutan mangrove.

Dengan menekuni pembudidayaan rumput laut, pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Cangkring dari waktu ke waktu mengalami peningkatan berarti. Terbukti deretan rumah penduduk yang dahulu kumuh, sekarang menjadi rumah gedung permanen. Jalan menuju Pantai Cangkring sudah beraspal dan mudah dilalui sejumlah kendaraan. Keberadaan tempat pelelangan ikan (TPI) berjalan semestinya.

Pemuda Teladan
Tahun 2010 lalu, Wahudin terpilih menjadi pemuda teladan tingkat kabupaten Indramayu. Hal itu berdasarkan penilaian bahwa dirinya telah mampu berkarya nyata menciptakan kawasan hutan di bibir pantai selama 20 tahunan. Dan hasil karyanya bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan lingkungan hidup. Makanya ketika dilombakan di tingkat provinsi, Wahudin terpilih menjadi pemuda teladan tingkat Jawa Barat tahun 2010 sebagai pemuda yang berhasil di bidang bahari dan biota laut.
Sayang ketika dilombakan di tingkat nasional, Wahudin tak terpilih menjadi pemuda teladan nasional. Dia tidak lolos masuk peringkat juara karena ketika dilombakan di tingkat nasional, usianya lebih satu bulan melebihi persyaratan usia yang telah ditentukan tim penilai.

Meski tak menyandang predikat juara tingkat nasional, Wahudin merasa bangga, hasil karyanya selama ini telah mendapat apresiasi positif semua kalangan termasuk aparat pemerintah mulai tingkat desa hingga tingkat pemerintah pusat. Padahal pada awal bertanam biji mangrove 20 tahun silam, tak terbetik niatan mengikuti lomba pemuda teladan. Tujuan bertanam mangrove tiada lain hanya ingin menciptakan hutan di bibir pantai yang berguna bagi dirinya dan masyarakat sekitar. • undang

0 comments:

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita