Enter Your Domain Here....

Friday, September 16, 2011

Beternak Tiktok Mudah dan Menguntungkan

Menggeluti dunia peternakan, khususnya unggas, cukup mengasikan bagi sebagian mayarakat. Selain bisa menjadi sarana penyalur hobi dan konsumsi sendiri juga dapat menambah penghasilan keluarga. Aneka jenis unggas yang biasa diternak warga adalah bebek, itik (menthok/entog), ayam pedaging/petelur, ayam bangkok, dan burung. Banyak pula di antara para peternak yang melakukan prsilangan dua macam unggas berbeda seperti beternak bebek yang disilangkan dengan menthok/entog. Hasilnya adalah tiktok yang ternyata memiliki keunggulan dari segi efisiensi pakan maupun pertumbuhan dagingnya.

Seperti yang dilakukan oleh Supriyana (40 tahun) warga perumahan Pabean Kencana Desa Brondong Kecamatan Indramayu. Satu tahun terakhir ini ia menggeluti beternak tiktok dengan menyilangkan bebek Peking jantan dengan entog betina. Dari persilangan ini menghasilkan tiktok dengan penampilan fisiknya bebek namun badannya besar seperti entog.
“Tiktok hasil persilangan bebek dengan entog ini banyak memiliki keunggulan dibandingkan dengan ras asli induknya. Badannya lebih besar dengan pertumbuhan lebih cepat. Dalam waktu 2,5 bulan dapat mencapai berat tubuh antara 1,5 – 1,7 kilogram. Tiktok dalam umur 2,5 bulan ini sudah bisa dikonsumsi dengan harga penjualan Rp 30.000,00/ekornya. Sedangkan tiktok dewasa umur 8 bulan dapat mencapai berat tubuh 3,5 – 4,00 kilogram,” jelasnya.

Dari segi efisiensi pemberian pakan menurut Supriyana lebih irit dibandingkan dengan beternak unggas pada umumnya. Tiktok termasuk jenis unggas yang rakus dan tidak pilih-pilih jenis makanan. Untuk mensiasati agar tidak boros, diberikan eceng gondok yang dirajam halus dan diberi air panas (dileob) agar layu atau direbus terlebih dahulu baru dicampur dedak/bekatul.
“Hal ini dimaksudkan agar bakteri yang terdapat dalam eceng gondok tersebut menjadi mati. Jumlah eceng yang direbus ini mencapai 0,75 persen pakan dan 0,25 persennya adalah dedak/bekatul. Pemberian pakan bisa dilakukan sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore,” jelas Supriyana.
Pemasaran bagi hewan ternak ini tidak sulit alias sangat mudah. Secara penampilan fisiknya saja tiktok sangat menarik perhatian para peternak lain untuk mengembangkan. Surpiyana mengaku ia kewalahan menerima pesanan meri (anak tiktok) dari warga sekitarnya yang bertujuan untuk dikonsumsi atau untuk dipelihara dan dikembangkan. Ia memproduksi anakan (meri) secara alami alias hasil eraman induk entog. Dari sepuluh ekor induk entog yang ia miliki dapat menghasilkan meri sebanyak 120 – 130 ekor. Saat ini ia telah membuat mesin penetas dengan kapasitas 300 butir agar bisa memproduk meri (anakan) dalam waktu yang bersamaan.

Dari segi sanitasi kandang pun tidak membutuhkan tatalaksana kandang seperti pada ternak ayam Bangkok yang harus selalu bersih. Cukup dilepas di halaman yang cukup luas dan diberi rumah-rumahan sederhana beralaskan jerami bagi entog betina yang bertelur dan mengeram. Sedangkan untuk mengurangi polusi bau udara yang bisa ditimbulkan cukup diberi air dalam beberapa ember sebagai tempat minum dan mandi bagi tiktok. Tidak perlu dibuatkan kolam untuk mandi. Hal ini selain memudahkan mengontrol kebersihan airnya juga agar tidak menimbulkan bau yang dapat mengganggu warga sekitarnya. • pitrahari

0 comments:

Pengikut

Langganan via Email

 

Buku Tamu

Arsip Berita