Sunday, December 12, 2010

Opini - PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL (2)

PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL (2)
Oleh Supriyanto, S.Pd., M.M.Pd. (e-mail: supriyantofz@yahoo.com)

Teori lain yang juga melandasi perlunya diterapkan pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah teori konstruktivisme. Di tahun 2007, teori ini diyakini mampu membentuk konstruksi berpikir siswa kelas rendah (elementary school) di level ASEAN, dan dunia pada umumnya. Keyakinan itu tercermin dari dilaksanakannya beberapa pelatihan guru oleh pusat-pusat pelatihan guru tingkat internasional yang pengelolaannya berada di bawah SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization, yaitu organisasi menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara). Salah satu di antaranya adalah SEAMEO RECSAM (Regional Education Center for Science and Mathematics) – berkedudukan di Penang, Malaysia – yang di tahun 2007 melatih guru-guru SD untuk mengajar matematika dengan landasan teori konstruktivisme.

Teori ini diyakini mampu mengkonstruksi berbagai realitas yang dialami para siswa saat mereka belajar sedemikian sehingga mereka mampu menangkap manfaat dari pelajaran yang mereka pelajari. Selain fakta-fakta matematis yang mampu direkonstruksi hingga tampak bermanfaat, fakta-fakta potensi daerah pun bisa direkonstruksi untuk membentuk keyakinan pada siswa bahwa mereka berada di lingkungan yang akrab dan bermanfaat bagi kepentingan hidupnya. Pada sisi inilah – dalam pandangan teori konstruktivisme -- berbagai potensi keunggulan lokal dapat dijadikan materi pembelajaran.

Landasan Empiris
Ada banyak program yang telah digulirkan pemerintah berkenaan dengan kurikulum. Pergantian kurikulum sudah beberapa kali dilakukan. Sampai kapanpun, memang, pergantian kurikulum akan terus dilakukan karena zaman memang berkembang terus diikuti oleh berganti-gantinya tantangan. Tanpa mengganti kurikulum, maka tantangan zaman tak akan bisa diikuti.
Ketika kurikulum diberlakukan secara nasional, muncul keluhan bahwa hasil lulusan menjadi lupa akan potensi lokal dan berbagai nilai-nilai lokal yang sebenarnya penting bagi kehidupan siswa. Untuk menanggulangi hal itu maka berbagai unsur atau komponen lokal yang diperkirakan akan memperkaya kualitas lulusan harus dimasukkan ke dalam kurikulum.

Pandangan tersebut telah dilaksanakan dengan memasukkan berbagai program keterampilan yang khas daerah tertentu. Lahirlah, sebagai bentuk nyata pandangan itu, program BBE-Life Skill yang digulirkan oleh pemerintah pada tahun 2002 sampai dengan 2004. Namun, hasilnya ternyata kurang optimal karena program itu tidak masuk ke dalam struktur kurikulum.

Di sekolah-sekolah tertentu (SMA) yang mencoba memasukkan keunggulan lokal kelautan sebagai program tambahannya ternyata juga tak berhasil. Hal itu terjadi pada tahun 2005. Ketidakberhasilan ini diduga karena unsur kelautan yang ditambahkan lebih ditekankan sebagai vokasional. Perlakuan seperti ini kurang tepat karena siswa SMA diharapkan mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bukan dipersiapkan untuk bekerja.

Untuk memperbaiki berbagai kekurangan itu, pemerintah pun telah mengubah kurikulum di seluruh tanah air menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hal ini dilakukan sejak tahun 2007. Konsep KTSP ini dianggap mampu memasukkan unsur-unsur lokal ke dalam kurikulum setiap sekolah sebab dalam konsep KTSP setiap sekolah harus melaksanakan proses pembelajaran secara berbeda-beda berdasarkan atas perbedaan kemampuan dan sumber daya yang ada pada sekolah atau daerah-daerah tempat sekolah itu berada. Ini berarti KTSP dapat mengakomodir implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) di sekolah-sekolah.

Pengaplikasian PBKL di beberapa sekolah percontohan memperlihatkan keberhasilan, setidaknya sebagai “katalisator” keberhasilan sekolah. Sejak tahun 2007 PBKL yang diterapkan di beberapa SMA sebagai contoh, telah memacu sekolah dalam memenuhi delapan standar pendidikan.
Tujuan Penyamaan Konsep PBKL di SMA
Ada tiga tujuan utama penyamaan konsep PBKL di SMA, yaitu (1) memberikan pemahaman yang sama secara menyeluruh mengenai konsep dan strategi implementasi PBKL oleh warga sekolah, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat; (2) memberikan arahan kepada warga sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Provinsi dalam upaya mengimplementasikan PBKL, sehingga tercipta kebersamaan langkah dan terhindar dari penafsiran yang berbeda-beda; dan (3) sebagai bahan referensi awal bagi sekolah yang akan mengimplementasikan PBKL dalam upaya peningkatan mutu sekolah.

Penyamaan konsep PBKL ini diharapan mampu: (1) membentuk pemahaman yang sama mengenai konsep dan implementasi PBKL oleh warga sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat; (2) menciptakan kebersamaan langkah dalam implementasi PBKL antara warga sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat; (3) menghindari terjadinya penafsiran yang salah serta berbeda-beda terhadap konsep PBKL oleh warga sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Provinsi; (4) terbentuknya pengetahuan dasar mengenai konsep PBKL dan strategi implementasinya di setiap sekolah. Dengan demikian maka di seluruh sekolah (SMA) akan terbentuk persamaan konsep dan persamaan pola implementasi.
Konsep PBKL di SMA
Konsep pendidikan sudah jelas tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Jadi dalam tulisan ini tidak akan dijelaskan lagi. Konsep keunggulan lokal memiliki beberapa pengertian. Pertama, keunggulan lokal merupakan bagian dari sumber daya lokal/daerah tertentu. Sumber daya tersebut memiliki kriteria: mengandung nilai pengetahuan, teknologi, dan keterampilan (skill) dalam memanfaatkannya. Selain itu sumber daya itu harus memiliki nilai ekonomis, dan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kedua, keunggulan lokal bisa diartikan sebagai hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau yang lainnya yang ada di suatu daerah.

Berdasarkan kedua pengertian ini, Kementerian Pendidikan Nasional (2010) mengartikan konsep keunggulan lokal sebagai suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik, memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan lokal, dengan demikian, merupakan ciri khas daerah yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi dan dikembangkan dari potensi daerah.

Potensi daerah yang dimaksud terdiri dari potensi sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), geografis, budaya, dan historis. SDA adalah sesuatu yang tersedia di alam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. SDM adalah manusia dengan segenap potensi yang dimilikinya yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menjadi makhluk sosial yang adaptif dan transformatif dan mampu mendayagunakan potensi alam di sekitarnya secara seimbang dan berkesinambungan.

Potensi daerah yang bersifat kondisi geografis dimaksudkan sebagai ciri khas suatu daerah ditinjau dari lokasi dan variasi keruangan. Tinjauan geografis menghubungkan manusia dengan lingkungannya baik lingkungan hidup maupun wilayahnya.

Kemendiknas – terkait pendidikan berbasis keunggulan lokal – mengakui bahwa objek geografis ini antara lain meliputi objek formal dan material. Dalam hal ini, fenomena geosfer seperti atmosfer bumi, cuaca dan iklim, litosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer merupakan objek formal geografis.

Dalam dunia pendidikan, makna dari istilah geografi dikaitkan dengan keberadaan bumi dan kehidupan yang ada di atas bumi tersebut. Itulah sebabnya maka pengkajian keunggulan lokal dari aspek geografi harus dilakukan dengan pendekatan tertentu. Yang mungkin dilakukan di antaranya: (1) pendekatan keruangan (spatial approach), (2) pendekatan lingkungan (ecological approach) dan (3) pendekatan kompleks wilayah (integrated approach).

Untuk membuat siswa paham akan perbedaan tempat melalui penggambaran letak distribusi, relasi, dan inter relasinya biasanya digunakan pendekatan keruangan. Agar siswa memahami interaksi organisme dengan lingkungannya, tentu saja digunakan pendekatan lingkungan. Jika kedua jenis pemahaman itu ingin dipadukan, maka digunakanlah pendekatan kompleks wilayah.
Dalam prakteknya tidak semua fenomena geografis diajarkan dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal sebab keunggulan lokal harus dicirikan oleh nilai guna fenomena geografis lokal tersebut bagi kehidupan manusia. Setidaknya harus memiliki dampak ekonomis dan pada gilirannya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. (BERSAMBUNG KE MH EDISI 010).

Supriyanto, S.Pd., M.M.Pd. adalah Kepala Seksi Tenaga Teknis Bidang Pendidikan Menengah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu.

0 comments:

Pengikut

Langganan via Email